<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kumpulan Hadist &#187; Shahih Bukhari</title>
	<atom:link href="http://kumpulanhadist.arisyi-design.web.id/category/shahih-bukhari/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kumpulanhadist.arisyi-design.web.id</link>
	<description>Kumpulan Hadist</description>
	<lastBuildDate>Wed, 12 Oct 2011 07:21:40 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1.1</generator>
		<item>
		<title>Kitab Iman</title>
		<link>http://kumpulanhadist.arisyi-design.web.id/shahih-bukhari/kitab-iman/</link>
		<comments>http://kumpulanhadist.arisyi-design.web.id/shahih-bukhari/kitab-iman/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Apr 2011 17:31:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>azimah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Shahih Bukhari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kumpulanhadist.arisyi-design.web.id/?p=47</guid>
		<description><![CDATA[Bab Ke-1: Sabda Nabi saw., &#8220;Islam itu didirikan atas lima perkara.&#8221; Iman itu adalah ucapan dan perbuatan. Ia dapat bertambah dan dapat pula berkurang. Allah Ta&#8217;ala berfirman yang artinya, &#8220;Supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada)&#8221; (al-Fath: 4), &#8220;Kami tambahkan kepada mereka petunjuk.&#8221;(al-Kahfi: 13), &#8220;Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><strong>Bab Ke-1: Sabda  Nabi saw., &#8220;Islam itu didirikan atas lima perkara.&#8221;</strong><strong> Iman itu adalah  ucapan dan perbuatan. Ia dapat bertambah dan dapat pula berkurang. Allah Ta&#8217;ala  berfirman yang artinya, &#8220;Supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan  mereka (yang telah ada)&#8221; (al-Fath: 4), &#8220;Kami tambahkan kepada mereka  petunjuk.&#8221;(al-Kahfi: 13), &#8220;Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah  mendapat petunjuk.&#8221; (Maryam: 76), &#8220;Orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah  menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan)  ketakwaannya&#8221; (Muhammad: 17), &#8220;Dan supaya orang yang beriman bertambah imannya&#8221;  (al-Muddatstsir: 31), &#8220;Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan  (turunnya) surah ini? Adapun orang-orang yang beriman, maka surah ini menambah  imannya.&#8221; (at-Taubah: 124), &#8220;Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan  untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka, maka perkataan itu  menambah keimanan mereka.&#8221; (Ali Imran: 173), dan &#8220;Yang demikian itu tidaklah  menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan (kepada Allah).&#8221; (al-Ahzab:  22) Mencintai karena Allah dan membenci karena Allah adalah sebagian dari  keimanan.</strong></p>
<p>1. Umar bin Abdul Aziz menulis surat kepada Adi bin Adi sebagai berikut,  &#8220;Sesungguhnya keimanan itu mempunyai beberapa kefardhuan (kewajiban), syariat,  had (yakni batas/hukum), dan sunnah. Barangsiapa mengikuti semuanya itu maka  keimanannya telah sempurna. Dan barangsiapa tidak mengikutinya secara sempurna,  maka keimanannya tidak sempurna. Jika saya masih hidup, maka hal-hal itu akan  kuberikan kepadamu semua, sehingga kamu dapat mengamalkan secara sepenuhnya.  Tetapi, jika saya mati, maka tidak terlampau berkeinginan untuk menjadi  sahabatmu.&#8221; Nabi Ibrahim a.s. pernah berkata dengan mengutip firman Allah,  &#8220;Walakin liyathma-inna qalbii&#8221; &#8216;Agar hatiku tetap mantap [dengan imanku]&#8216;.  (al-Baqarah: 260)</p>
<p><span id="more-47"></span></p>
<p>2. Mu&#8217;adz pernah berkata kepada kawan-kawannya, &#8220;Duduklah di sini bersama kami  sesaat untuk menambah keimanan kita.&#8221;</p>
<p>3. Ibnu Mas&#8217;ud berkata, &#8220;Yakin adalah keimanan yang menyeluruh.&#8221;</p>
<p>4. Ibnu Umar berkata, &#8220;Seorang hamba tidak akan mencapai hakikat takwa yang  sebenarnya kecuali ia dapat meninggalkan apa saja yang dirasa tidak enak dalam  hati.&#8221;</p>
<p>5. Mujahid berkata, &#8220;Syara&#8217;a lakum&#8221; (Dia telah mensyariatkan bagi kamu)  (asy-Syuura: 13), berarti, &#8220;Kami telah mewasiatkan kepadamu wahai Muhammad, juga  kepadanya  untuk memeluk satu macam agama.&#8221;</p>
<p>6. Ibnu Abbas berkata  dalam menafsiri lafaz &#8220;Syir&#8217;atan wa minhaajan&#8221;, yaitu jalan yang lempang (lurus)  dan sunnah.&#8221;</p>
<p>7. Doamu adalah  keimananmu sebagaimana firman Allah Ta&#8217;ala yang artinya, &#8220;Katakanlah, Tuhanku  tidak mengindahkan (memperdulikan) kamu, melainkan kalau ada imanmu.&#8221;  (al-Furqan: 77). Arti doa menurut bahasa adalah iman.</p>
<p>8.Ibnu Umar  berkata, &#8220;Rasulullah saw bersabda, &#8216;Islam dibangun di atas lima dasar:</p>
<p><span style="color: #888888;"><span style="color: #000000;">1. </span>bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi kecuali Allah, dan bahwa  Nabi Muhammad adalah Utusan Allah;</span><span style="color: #888888;"> <span style="color: #000000;">2.</span> menegakkan shalat;</span><span style="color: #888888;"> <span style="color: #000000;">3.</span> membayar zakat;</span><span style="color: #888888;"> <span style="color: #000000;">4. </span>haji; dan</span><span style="color: #888888;"> <span style="color: #000000;">5.</span> puasa pada bulan Ramadhan.&#8217;&#8221;</span></p>
<p><!-- A:hover {color: #808080} --></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><strong>Bab Ke-2:  Perkara-Perkara Iman dan firman Allah, &#8220;Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah  timur dan barat itu suatu kebajikan. Tetapi, sesungguhnya kebajikan itu ialah  orang yang beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab,  nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak  yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan), dan orang yang  meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan  menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji,  dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan peperangan. Mereka  itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang  bertakwa. &#8220;(al-Baqarah: 177) Dan firman Allah, &#8220;Sesungguhnya beruntunglah  orang-orang yang beriman.&#8221; (al-Mu&#8217;miniin: 1)<br />
</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">6. Abu Hurairah  r.a. mengatakan bahwa Nabi saw. bersabda, &#8220;Iman itu ada enam puluh lebih  cabangnya, dan malu adalah salah satu cabang iman.&#8221;<sup><span style="color: #ff0000;"> </span></sup></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><strong>Bab Ke-3:  Orang Islam Itu Ialah Seseorang yang Orang-Orang Islam Lain Selamat dari Ucapan  lisannya dan Perbuatan Tangannya</strong></p>
<p>7. Abdullah bin Umar r.a. mengatakan  bahwa Nabi saw bersabda, &#8220;Orang Islam itu adalah orang yang orang-orang Islam  lainnya selamat dari lidah dan tangannya; dan orang yang berhijrah (muhajir)  adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.&#8221;</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><strong>Bab Ke-4: Islam  Manakah yang Lebih Utama?</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">8. Abu Musa r.a.  berkata, &#8220;Mereka (para sahabat) bertanya, Wahai Rasulullah, Islam manakah yang  lebih utama?&#8217; Beliau menjawab, &#8216;Orang yang orang-orang Islam lainnya selamat  dari lidah dan tangannya. &#8220;&#8216;</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><strong>Bab Ke-5:  Memberikan Makanan Itu Termasuk Ajaran Islam</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">9. Abdullah bin Amr  r.a. mengatakan bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah saw., &#8220;Islam  manakah yang lebih baik?&#8221; Beliau bersabda, &#8220;Kamu memberikan makanan dan  mengucapkan salam atas orang yang kamu kenal dan tidak kamu kenal.&#8221;</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><strong>Bab Ke-6:  Termasuk Iman Ialah Apabila Seseorang Itu Mencintai Saudaranya (Sesama Muslim)  Sebagaimana Dia Mencintai Dirinya Sendiri</strong></p>
<p>10. Anas r.a. mengatakan  bahwa Nabi saw. bersabda, &#8220;Tidak beriman salah seorang di antaramu sehingga ia  mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.&#8221;</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><strong>Bab Ke-7:  Mencintai Rasulullah saw. Termasuk Keimanan</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">11. Dari Abu  Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, &#8220;Demi Zat yang jiwaku berada dalam  genggaman-Nya (kekuasaan-Nya), salah seorang di antara kamu tidak beriman  sehingga saya lebih dicintai olehnya daripada orang tua dan anaknya.&#8221;</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">12. Anas r.a.  berkata, &#8220;Nabi saw. bersabda, &#8216;Salah seorang di antaramu tidak beriman sehingga  saya lebih dicintai olehnya daripada orang tuanya, anaknya, dan semua  manusia.&#8217;&#8221;</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><strong>Bab Ke-8:  Manisnya Iman</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">13. Dari Anas  r.a. bahwa Nabi saw. bersabda, &#8220;Tiga hal yang apabila terdapat pada diri  seseorang maka ia mendapat manisnya iman yaitu Allah dan Rasul-Nya lebih  dicintai olehnya daripada selain keduanya, mencintai seseorang hanya karena  Allah, dan ia benci untuk kembali ke dalam kekafiran (1/11) sebagaimana bencinya  untuk dicampakkan ke dalam neraka.&#8221;</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><strong>Bab Ke-9:  Tanda Keimanan Ialah Mencintai Kaum Anshar<br />
</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">14. Dari Anas r.a.  bahwa Nabi saw bersabda, &#8220;Tanda iman adalah mencintai orang-orang Anshar dan  tanda munafik adalah membenci orang-orang Anshar&#8221;</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><strong>Bab  Ke-10:<br />
</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">15. Dari Ubadah bin  Shamit r.a &#8211; Ia adalah orang yang menyaksikan yakni ikut bertempur dalam Perang  Badar (bersama Rasulullah saw. 4/251). Ia adalah salah seorang yang menjadi  kepala rombongan pada malam baiat Aqabah &#8211; (dan dari jalan lain: Sesungguhnya  aku adalah salah satu kepala rombongan yang dibaiat oleh Rasulullah saw.) bahwa  Rasulullah saw. bersabda dan di sekeliling beliau ada beberapa orang sahabatnya  (Dalam riwayat lain : ketika itu kami berada di sisi Nabi saw dalam suatu  majelis 8/15) [dalam suatu rombongan, lalu beliau bersabda 8/18, "Kemarilah  kalian"], &#8220;Berbaiatlah kamu kepadaku (dalam riwayat lain: Kubaiat kamu sekalian)  untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, tidak mencuri, tidak berzina, dan  tidak membunuh anak-anakmu (dan kamu tidak akan merampas). Jangan kamu bawa  kebohongan yang kamu buat-buat antara kaki dan tanganmu, dan janganlah kamu  mendurhakai(ku) dalam kebaikan. Barangsiapa di antara kamu yang menepatinya,  maka pahalanya atas Allah. Barang siapa yang melanggar sesuatu dari itu dan dia  dihukum (karenanya) di dunia, maka hukuman itu sebagai tebusannya (dan penyuci  dirinya). Dan, barangsiapa yang melanggar sesuatu dari semua itu kemudian  ditutupi oleh Allah (tidak terkena hukuman), maka hal itu terserah Allah. Jika  Dia menghendaki, maka Dia memaafkannya. Dan, jika Dia menghendaki, maka Dia akan  menghukumnya.&#8221; (Ubadah berkata ), &#8220;Maka kami berbaiat atas hal itu.&#8221;</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><strong>Bab Ke- 11:  Lari dari Berbagai Macam Fitnah adalah Sebagian dan Agama</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">(Imam Bukhari  mengisnadkan dalam bab ini hadits Abu Sa&#8217;id al-Khudri yang akan datang kalau ada  izin Allah dalam Al Manaqib 61/25 &#8211; Bab&#8221;)</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><strong>Bab Ke-12:  Sabda Nabi Saw., &#8220;Aku lebih tahu di antara kamu semua tentang  Allah&#8221;</strong> ,<strong> dan bahwa pengetahuan (ma&#8217;rifah ) ialah  perbuatan hati sebagaimana firman Allah, &#8220;Walaakin yuaakhidzukum bimaa kasabat  quluubukum &#8216;Tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpahmu) yang disengaja  (untuk bersumpah) dalam hatimu&#8217;.&#8221; (al-Baqarah: 225)</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">16. Aisyah r.a.  berkata, &#8220;Apabila Rasulullah saw. menyuruh mereka, maka beliau menyuruh untuk  beramal sesuai dengan kemampuan. Mereka berkata, &#8216;Sesungguhnya kami tidak  seperti keadaan engkau wahai Rasulullah, karena Allah telah mengampuni engkau  terhadap dosa yang terdahulu dan terkemudian.&#8217; Lalu beliau marah hingga  kemarahan itu diketahui (tampak) di wajah beliau. Kemudian beliau bersabda,  &#8216;Sesungguhnya orang yang paling takwa dan paling kenal tentang Allah dari kamu  sekalian adalah saya.&#8217;&#8221;</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><strong>Bab Ke-13:  Barangsiapa yang Benci untuk Kembali kepada Kekufuran Sebagaimana Kebenciannya  jika Dilemparkan ke dalam Neraka adalah Termasuk Keimanan</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">(Imam Bukhari  mengisnadkan dalam bab ini hadits Anas yang telah disebutkan pada nomor  13).</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><strong>Bab Ke-14:  Kelebihan Ahli Iman dalam Amal Perbuatan</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">17. Abu Said  al-Khudri berkata, &#8220;Rasulullah saw. bersabda, &#8216;Ketika aku tidur, aku bermimpi  manusia. Diperlihatkan kepadaku mereka memakai bermacam-macam baju, ada yang  sampai susu, dan ada yang (sampai 4/201) di bawah itu. Umar ibnul Khaththab  diperlihatkan juga kepadaku dan ia memakai baju yang ditariknya.&#8217; Mereka  berkata, &#8216;Apakah takwilnya, wahai Rasulullah?&#8217; Nabi bersabda, &#8216;Agama.&#8217;&#8221;</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><strong>Bab Ke-15:  Malu Termasuk Bagian dari Iman<br />
</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">18. Salim bin  Abdullah dari ayahnya, mengatakan bahwa Rasulullah saw lewat pada seorang Anshar  yang sedang memberi nasihat (dalam riwayat lain: menyalahkan 7/100) saudaranya  perihal malu. (Ia berkata, &#8220;Sesungguhnya engkau selalu merasa malu&#8221;, seakan-akan  ia berkata, &#8220;Sesungguhnya malu itu membahayakanmu.&#8221;) Lalu, Rasulullah saw.  bersabda, &#8220;Biarkan dia, karena malu itu sebagian dari iman.&#8221;</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><strong>Bab Ke-16:  Firman Allah &#8220;Jika mereka bertobat dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat,  maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan.&#8221; (at-Taubah:  5)</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">19. Ibnu Umar ra.  mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, &#8220;Saya diperintah untuk memerangi  manusia sehingga mereka bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan  sesungguhnya Muhammad itu adalah utusan Allah, mendirikan shalat, dan memberikan  zakat. Apabila mereka telah melakukan itu, maka terpelihara daripadaku darah dan  harta mereka kecuali dengan hak Islam, dan hisab mereka atas Allah.&#8221;</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><strong>Bab Ke-17:  Orang yang mengatakan bahwa sesungguhnya keimanan itu adalah amal perbuatan,  berdasarkan pada firman Allah Ta&#8217;ala, &#8220;Dan itulah surga yang diwariskan kepada  kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan (dalam kehidupan).&#8221;  (az-Zukhruf: 72)</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">8.  Ada beberapa orang  dari golongan ahli ilmu agama mengatakan bahwa apa yang difirmankan oleh Allah  Ta&#8217;ala dalam surah al-Hijr ayat 92-93, &#8220;Fawarabbika lanas-alannahum ajma&#8217;iina  &#8216;ammaa kaanuu ya&#8217;maluuna&#8221; &#8216;Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka  semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu&#8217;, adalah tentang kalimat  &#8220;laa ilaaha illallaah&#8221; &#8216;Tiada Tuhan selain Allah&#8217;. Dan firman Allah, &#8220;Limitsli  haadzaa falya&#8217;malil &#8216;aamiluun&#8221; &#8216;Untuk kemenangan semacam ini hendaklah berusaha  orang-orang yang bekerja&#8217;.&#8221; (ash-Shaaffat: 61)</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">20. Abu Hurairah  r.a. mengatakan bahwa Rasulullah saw. ditanya, &#8220;Apakah amal yang paling utama?&#8221;  Beliau menjawab, &#8220;Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.&#8221; Ditanyakan lagi, &#8220;Kemudian  apa?&#8221; Beliau menjawab, &#8220;Jihad (berjuang) di jalan Allah.&#8221; Ditanyakan lagi,  &#8220;Kemudian apa?&#8221; Beliau menjawab, &#8220;Haji yang mabrur.&#8221;</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><strong>Bab Ke-18:  Jika masuk Islam tidak dengan sebenar-benarnya tetapi karena ingin selamat atau  karena takut dibunuh. Hal tersebut dapat terjadi, karena Allah telah berfirman,  &#8220;Orang-orang Badui itu berkata, &#8216;Kami telah beriman.&#8217; Katakanlah (wahai  Muhammad), &#8216;Kamu belum beriman, tetapi katakanlah, &#8216;Kami telah tunduk.&#8221;  (al-Hujuurat: 14). Dan, jika masuk Islam dengan sebenar-benarnya, maka hal itu  didasarkan pada firman Allah, &#8220;Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah  hanyalah Islam&#8221; (Ali Imran: 19), &#8220;Dan barangsiapa mencari agama selain agama  Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima (agama itu) daripadanya.&#8221;(Ali-Imran:  85)</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">21. Dari Sa&#8217;ad  r.a. bahwa Rasulullah saw. memberikan kepada sekelompok orang, dan Sa&#8217;ad sedang  duduk, lalu Rasulullah saw meninggalkan seorang laki-laki (Beliau tidak  memberinya, dan 2/131). Lelaki itu adalah orang yang paling menarik bagi saya  (lalu saya berjalan menuju Rasulullah saw. dan saya membisikkan kepadanya)  lantas saya berkata, &#8220;wahai Rasulullah, ada apakah engkau terhadap Fulan? Demi  Allah saya melihat dia seorang mukmin.&#8221; Beliau berkata, &#8220;Atau seorang muslim.&#8221;  Saya diam sebentar, kemudian apa yang saya ketahui dari Beliau itu mengalahkan  saya, lalu saya ulangi perkataan saya. Saya katakan, &#8220;Ada apakah engkau terhadap  Fulan? Demi Allah saya melihatnya sebagai sebagai seorang mukmin.&#8221; Beliau  berkata, &#8220;Atau seorang muslim&#8221;. Saya diam sebentar, kemudian apa yang saya  ketahui dari Beliau mengalahkan saya, dan Rasulullah saw. mengulang kembali  perkataannya. (Dan dalam satu riwayat disebutkan: kemudian Rasulullah saw.  menepukkan tangannya di antara leher dan pundakku). Kemudian beliau bersabda,  &#8220;(Kemarilah) wahai Sa&#8217;ad! Sesungguhnya saya memberikan kepada seorang laki-laki  sedang orang lain lebih saya cintai daripada dia, karena saya takut ia  dicampakkan oleh Allah ke dalam neraka.&#8221;</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">Abu Abdillah  berkata, &#8220;<em>Fakubkibuu</em> &#8216;dibolak-balik&#8217;. <em>Mukibban</em>, seseorang itu  <em>akabba</em> apabila tindakannya tidak sampai menjadi kenyataan terhadap  seseorang lainnya. Apabila tindakan itu terjadi dalam kenyataan, maka saya  katakan, &#8220;<em>Kabbahul-Laahu bi wajhihi</em> &#8216;Allah mencampakkan wajahnya&#8217;, <em>wa  kababtuhu ana</em> &#8216;dan saya mencampakkannya&#8217;.&#8221; [Abu Abdillah berkata, "Shalih  bin Kaisan lebih tua daripada az-Zuhri, dan dia telah mendapati Ibnu Umar" 2/132].</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><strong>Bab ke-19:  Salam Termasuk Bagian Dari Islam</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">9.<sup><span style="color: #ff0000;"> </span></sup> Ammar berkata, &#8220;Ada  tiga perkara yang barangsiapa yang dapat mengumpulkan ketiga hal itu dalam  dirinya, maka ia telah dapat mengumpulkan keimanan secara sempurna. Yaitu,  memperlakukan orang lain sebagaimana engkau suka dirimu diperlakukan oleh orang  lain, memberi salam terhadap setiap orang (yang engkau kenal maupun yang tidak  engkau kenal), dan mengeluarkan infak di jalan Allah, meskipun hanya  sedikit.&#8221;</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">(Saya [Al-Albani]  mengisnadkan dalam bab ini hadits yang telah disebutkan di muka pada nomor 9  [bab 5]).</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><strong>Bab Ke-20:  Mengkufuri Suami, dan Kekufuran di Bawah Kekufuran</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">Dalam bab ini  terdapat riwayat Abu Said dari Nabi saw. (Saya katakan, &#8220;Dalam bab ini Imam  Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya sepotong dari hadits Ibnu Abbas yang akan  disebutkan pada [16 - al-Kusuf  / 8 - Bab]).&#8221;</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><strong>Bab Ke-21:  Kemaksiatan Termasuk Perbuatan Jahiliah, dan Pelakunya tidak Dianggap Kafir  Kecuali Jika Disertai dengan Kemusyrikan, mengingat sabda Nabi saw.,  &#8220;&#8216;Sesungguhnya kamu adalah orang yang ada sifat kejahiliahan dalam dirimu&#8217;.&#8221; Dan  firman Allah Ta&#8217;ala, &#8216;Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan  Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang  dikehendaki-Nya&#8217;.&#8221; (an-Nisaa&#8217;: 48)</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><strong>Bab Ke-22:  &#8220;Apabila Dua Golongan Kaum Mukminin Saling Berperang, Maka Damaikanlah Antara  Keduanya Itu&#8221; (al-Hujuraat : 9), dan Mereka Itu Tetap Dinamakan Kaum  Mukminin.</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">22. Ahnaf bin Qais  berkata, &#8220;Aku pergi (dengan membawa senjataku pada malam-malam fitnah 8/92)  hendak memberi pertolongan kepada orang lain, (dalam riwayat lain: anak paman  Rasulullah saw.) kernudian aku bertemu Abu Bakrah, lalu ia bertanya, &#8216;Hendak ke  manakah kamu?&#8217; Aku menjawab, &#8216;Aku hendak memberi pertolongan kepada orang ini.&#8217;  Abu Bakrah berkata, &#8216;Kembali sajalah.&#8217; Karena saya mendengar Rasulullah saw.  bersabda, &#8216;Apabila dua orang Islam bertemu dengan pedangnya (berkelahi), maka  orang yang membunuh dan orang yang dibunuh sama-sama di neraka.&#8217; Lalu kami  bertanya, &#8216;Ini yang membunuh, lalu bagaimanakah orang yang dibunuh?&#8217; Beliau  bersabda, &#8216;Sesungguhnya ia (orang yang terbunuh) berkeinginan keras untuk  membunuh temannya.&#8217;&#8221;</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><strong>Bab Ke-23:  Kezaliman yang Tingkatnya di Bawah Kezaliman</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">23. Abdullah (bin  Mas&#8217;ud) berkata, &#8220;Ketika turun [ayat ini 8/481, 'Orang-orang yang beriman dan  tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka itulah orang-orang  yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk'  (al-An'aam: 82), maka hal itu dirasa sangat berat oleh sahabat-sahabat  Rasulullah saw. (Maka mereka berkata, 'Siapakah gerangan di antara kita yang  tidak pernah menganiaya dirinya?' Lalu Allah menurunkan ayat, 'Sesungguhnya  syirik itu adalah benar-benar kezaliman yang besar.' (Luqman: 13) (Dan dalam  riwayat lain : Rasulullah saw. bersabda, Tidak seperti yang kamu katakan itu.  (Mereka tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman). Itu ialah  kemusyrikan. Apakah kamu tidak mendengar perkataan Luqman kepada anaknya bahwa  sesungguhnya syirik itu adalah benar-benar kezaliman yang besar?)</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><strong>Bab Ke-24:  Tanda-Tanda Orang Munafik</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">24. Abu Hurairah  r.a. mengatakan bahwa Nabi saw bersabda, 'Tanda tanda orang munafik itu ada  tiga, yaitu apabila berbicara dia berdusta, apabila berjanji dia ingkar, dan  apabila dipercaya dia berkhianat."</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">25. Abdullah bin  Amr mengatakan bahwa Nabi saw bersabda, "Empat (sikap 4/69) yang barangsiapa  terdapat pada dirinya keempat sikap itu, maka dia adalah seorang munafik yang  tulen. Barangsiapa yang pada dirinya terdapat salah satu dari sifat sifat itu,  maka pada dirinya terdapat salah satu sikap munafik itu, sehingga dia  meninggalkannya. Yaitu, apabila dipercaya dia berkhianat (dan dalam satu  riwayat: apabila berjanji dia ingkar), apabila berbicara dia berdusta, apabila  berjanji dia menipu, dan apabila bertengkar dia curang."</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><strong>Bab Ke-25:  Mendirikan Shalat Pada Malam Lailatul Qadar Termasuk Keimanan</strong></p>
<p>26. Abu  Hurairah r.a. berkata, "Rasulullah saw, bersabda, 'Barangsiapa yang menegakkan  (shalat) pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mencari keridhaan Allah, maka  diampunilah dosanya yang telah lalu.'"</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><strong>Bab Ke-26:  Melakukan Jihad Termasuk Keimanan</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">27. Abu Hurairah  mengatakan bahwa (dan dalam jalan lain disebutkan: Dia berkata, "Saya mendengar  3/203) Nabi saw. bersabda, 'Allah menjamin orang yang keluar di jalan Nya, yang  tidak ada yang mengeluarkannya kecuali karena iman kepada Nya dan membenarkan  rasul-rasul Nya, bahwa Dia akan memulangkannya dengan mendapatkan pahala atau  rampasan (perang), atau Dia memasukkannya ke dalam surga. Kalau bukan karena  akan memberatkan umatku, niscaya saya tidak duduk-duduk di belakang. (Dari jalan  lain disebutkan: Demi Zat yang diriku berada dalam genggaman-Nya, kalau bukan  karena khawatir bahwa banyak orang dari kaum mukminin tidak senang hatinya  ketinggalan dari saya, dan saya tidak dapat mengangkut mereka, niscaya saya  tidak akan tertinggal dari 3/ 203) pasukan [yang berperang di jalan Allah].  [Tetapi, saya tidak mendapatkan kendaraan dan tidak mendapatkan sesuatu untuk  mengangkut mereka, dan berat bagi saya kalau mereka tertinggal dari saya 8/11].  [Dan demi Zat yang diriku berada dalam genggaman Nya 8/ 128] sesungguhnya saya  ingin terbunuh di jalan Allah, kemudian dihidupkan lagi, kemudian terbunuh lagi,  kemudian dihidupkan lagi, kemudian terbunuh lagi.&#8221;</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><strong>Bab Ke-27:  Melakukan Sunnah Shalat Malam Bulan Ramadhan Termasuk Keimanan</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">28. Abu  Hurairah r.a. mengatakan bahwa Rasulullah saw bersabda, &#8220;Barangsiapa menunaikan  shalat malam Ramadhan (tarawih) karena iman dan mengharap keridhaan Allah, maka  diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu.&#8221;</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><strong>Bab Ke-28:  Melakukan Puasa Ramadhan Karena Mengharap Keridhaan Allah Termasuk  Keimanan</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">29. Abu Hurairah  berkata, &#8220;Rasulullah saw. bersabda, &#8216;Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan  karena iman dan mencari keridhaan Allah, maka diampunilah dosa-dosanya yang  telah lalu.&#8221;</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><strong>Bab Ke-29:  Agama Itu Mudah,</strong><strong> dan Sabda Nabi saw., &#8220;Agama yang Paling Dicintai  Allah Ialah yang Lurus dan Lapang.&#8221;</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">30. Abu Hurairah  mengatakan bahwa Nabi saw. bersabda, &#8220;Sesungguhnya agama ini mudah, dan tidak  akan seseorang memberat-beratkan diri dalam beragama melainkan akan  mengalahkannya. Maka, berlaku luruslah, berlaku sedanglah, bergembiralah, dan  mintalah pertolongan pada waktu pagi, sore, dan sedikit pada akhir malam.&#8221;</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><strong>Bab Ke-30:  Shalat Termasuk Iman, dan Firman Allah, &#8220;Allah tidak akan menyia-nyiakan  keimananmu&#8221;, yakni Shalatmu di Sisi Baitullah</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">31. Al-Barra&#8217;  mengatakan bahwa ketika Nabi saw. pertama kali tiba di Madinah, beliau singgah  pada kakek-kakeknya atau paman-pamannya dari kaum Anshar. Beliau melakukan  shalat dengan menghadap ke Baitul Maqdis selama enam belas bulan atau tujuh  belas bulan. Tetapi, beliau senang kalau kiblatnya menghadap ke Baitullah. (Dan  dalam satu riwayat disebutkan: dan beliau ingin menghadap ke Ka&#8217;bah 1/104).  Shalat yang pertama kali beliau lakukan ialah shalat ashar, dan orang-orang pun  mengikuti shalat beliau. Maka, keluarlah seorang laki-laki yang telah selesai  shalat bersama beliau, lalu melewati orang-orang di masjid [dari kalangan Anshar  masih shalat ashar dengan menghadap Baitul Maqdis] dan ketika itu mereka sedang  ruku. Lalu laki-laki itu berkata, &#8220;Aku bersaksi demi Allah, sesungguhnya aku  telah selesai melakukan shalat bersama Rasulullah saw dengan menghadap ke  Mekah.&#8221; Maka, berputarlah mereka sebagaimana adanya itu menghadap ke arah  Baitullah [sambil ruku 8/134], [sehingga mereka semua menghadap ke arah  Baitullah].<br />
Orang-orang Yahudi dan Ahli Kitab suka kalau Rasulullah saw.  shalat dengan menghadap ke Baitul Maqdis. Maka, ketika beliau menghadapkan  wajahnya ke arah Baitullah, mereka mengingkari hal itu, [lalu Allah Azza wa  Jalla menurunkan ayat 144 surat al-Baqarah, "Sungguh Kami (sering) melihat  mukamu menengadah ke langit." Lalu, beliau menghadap ke arah Ka'bah. Maka,  berkatalah orang-orang yang bodoh, yaitu orang-orang Yahudi, "Apakah yang  memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu  mereka telah berkiblat kepadanya?" Katakanlah, "Kepunyaan Allahlah timur dan  barat. Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang  lurus." 7/104]. [Dan orang-orang yang telah meninggal dunia dan terbunuh dengan  masih menghadap kiblat sebelum dipindahkannya kiblat itu, maka kami tidak tahu  apa yang harus kami katakan tentang mereka, lalu Allah menurunkan ayat, "Allah  tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha  Penyayang" (Surat al-Baqarah - 143)].</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><strong>Bab Ke-31:  Baiknya Keislaman Seseorang</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">6.<sup><span style="color: #ff0000;"> </span></sup> Abu Sa&#8217;id al-Khudri  mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah saw bersabda, &#8220;Apabila seorang hamba  (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya  segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum  pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus  kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu,  kecuali jika Allah memaafkannya.&#8221;</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">32. Abu  Hurairah r.a. berkata, &#8220;Rasulullah saw bersabda, Apabila seseorang di antara  kamu memperbaiki keislamannya, maka setiap kebaikan yang dilakukannya ditulis  untuknya sepuluh kebaikan yang seperti itu hingga tujuh ratus kali lipat. Dan  setiap kejelekan yang dilakukannya ditulis untuknya balasan yang sepadan dengan  kejelekan itu.&#8221;</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><strong>Bab Ke-32:  Amalan dalam Agama yang Paling Dicintai Allah Azza wa Jalla Ialah yang Dilakukan  Secara Konstan (Terus Menerus / Berkesinambungan)</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">33. Aisyah r.a.  mengatakan bahwa Nabi saw: masuk ke tempatnya dan di sisinya ada seorang wanita  [dari Bani Asad 2/48], lalu Nabi bertanya, &#8220;Siapakah ini?&#8221; Aisyah menjawab, &#8220;Si  Fulanah [ia tidak pernah tidur malam], ia menceritakan shalatnya.&#8221; Nabi  bersabda, &#8220;Lakukanlah [amalan] menurut kemampuanmu. Karena demi Allah, Allah  tidak merasa bosan (dan dalam satu riwayat: karena sesungguhnya Allah tidak  merasa bosan) sehingga kamu sendiri yang bosan. Amalan agama yang paling  disukai-Nya ialah apa yang dilakukan oleh pelakunya secara kontinu (terus  menerus / berkesinambungan).&#8221;</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><strong>Bab Ke-33:  Keimanan Bertambah dan Berkurang. Firman Allah, &#8220;Dan Kami tambahkan kepada  mereka petunjuk&#8221; (al-Muddatstsir: 31) dan &#8220;Hari ini telah Aku sempurnakan  agamamu untukmu&#8221; (al-Maa&#8217;idah: 3). Apabila seseorang meninggalkan sebagian dari  kesempurnaan agamanya, maka agamanya tidaklah sempurna.</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">34. Anas r.a.  mengatakan bahwa Nabi saw bersabda, &#8220;Akan keluar dari neraka orang yang  mengucapkan, &#8216;Tidak ada Tuhan melainkan Allah&#8217; dan di dalam hatinya ada kebaikan  (7 &#8211; di dalam riwayat yang mu&#8217;alaaq: iman) seberat biji gandum. Akan keluar dari  neraka orang yang mengucapkan, &#8216;Tidak ada Tuhan melainkan Allah&#8217;, sedang di  dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang  yang mengucapkan, &#8216;Tidak ada Tuhan melainkan Allah&#8217;, sedang di hatinya ada  kebaikan seberat atom.&#8221;</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">35. Umar  ibnul-Khaththab r.a. mengatakan bahwa seorang Yahudi berkata (dan dalam suatu  riwayat: beberapa orang Yahudi berkata 5/127) kepadanya, &#8220;Wahai Amirul Mu&#8217;minin,  suatu ayat di dalam kitabmu yang kamu baca seandainya ayat itu turun atas  golongan kami golongan Yahudi, niscaya kami jadikan hari raya.&#8221; Umar bertanya,  &#8220;Ayat mana itu?&#8221; Ia menjawab, &#8220;Al-yauma akmaltu lakum diinakum wa atmamtu  &#8216;alaikum ni&#8217;matii waradhiitu lakumul islaamadiinan&#8221; &#8216;Pada hari ini Aku  sempurnakan bagimu agamamu dan Aku sempurnakan atasmu nikmat-Ku dan Aku rela  Islam sebagai agamamu&#8217;.&#8221; Lalu Umar berkata, &#8220;Kami telah mengetahui hari itu dan  tempat turunnya atas Nabi saw., yaitu beliau sedang berdiri di Arafah pada hari  Jumat. [Demi Allah, saya pada waktu itu berada di Arafah].&#8221;</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><strong>Bab Ke-34:  Membayar Zakat adalah Sebagian dari Islam. Firman Allah, &#8220;Padahal mereka tidak  disuruh kecuali menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam  (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan  menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus.&#8221;</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">36. Thalhah bin  Ubaidillah r.a. berkata, &#8220;Seorang laki-laki (dalam satu riwayat disebutkan:  seorang Arab dusun 2/225) penduduk Najd datang kepada Rasulullah saw. dengan  morat-marit (rambut) kepalanya. Kami mendengar suaranya tetapi kami tidak  memahami apa yang dikatakannya sehingga dekat. Tiba-tiba ia bertanya tentang  Islam (di dalam suatu riwayat disebutkan bahwa ia berkata, &#8216;Wahai Rasulullah,  beri tahukanlah kepadaku, apa sajakah shalat yang diwajibkan Allah atas  diriku?). Lalu Rasulullah saw. bersabda, &#8220;Shalat lima kali dalam sehari  semalam.&#8221; Lalu ia bertanya lagi, &#8220;Apakah. ada kewajiban atasku selainnya?&#8221;  Beliau bersabda, &#8220;Tidak, kecuali kalau engkau melakukan yang sunnah.&#8221; Rasulullah  saw. bersabda, &#8220;Dan puasa (dan di dalam satu riwayat disebutkan: &#8220;Beri  tahukanlah kepadaku, apa sajakah puasa yang diwajibkan Allah atasku?&#8221; Lalu  beliau menjawab, &#8220;Puasa pada bulan&#8221;) Ramadhan.&#8221; Ia bertanya lagi, &#8220;Apakah ada  kewajiban atasku selainnya?&#8221; Beliau bersabda, &#8220;Tidak, kecuali sunnah.&#8221; [Lalu dia  berkata, "Beri tahukanlah kepadaku, apakah zakat yang diwajibkan Allah atasku?"  2/225]. Thalhah berkata, &#8220;Rasulullah saw. menyebutkan kepadanya zakat&#8221; (Dan  dalam satu riwayat disebutkan bahwa Rasulullah saw memberitahukan kepadanya  tentang syariat-syariat Islam). Lalu dia bertanya, &#8220;Apakah ada kewajiban  selainnya atas saya?&#8221; Beliau menjawab, &#8220;Tidak, kecuali jika engkau mau melakukan  yang sunnah.&#8221; Kemudian laki-laki itu berpaling seraya berkata, &#8220;Demi Allah, saya  tidak menambah dan tidak pula mengurangi [sedikit pun dari apa yang telah  diwajibkan Allah atas diri saya] ini.&#8221; Rasulullah saw bersabda, &#8220;Berbahagialah  dia, jika (dia) benar.&#8221;</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><strong>Bab Ke-35:  Mengantarkan Jenazah adalah Sebagian dari Keimanan</strong></p>
<p>37. Abu Hurairah  r.a. mengatakan bahwa Rasulullah saw bersabda, &#8220;Barangsiapa yang mengiringkan  jenazah orang Islam karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah, dan ia  bersamanya sehingga jenazah itu dishalati dan selesai dikuburkan, maka ia  kembali mendapat pahala dua qirath yang masing-masing qirath seperti Gunung  Uhud. Barangsiapa yang menyalatinya kemudian ia kembali sebelum dikuburkan, maka  ia kembali dengan (pahala) satu qirath.&#8221;</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><strong>Bab Ke-36:  Kekhawatiran Orang yang Beriman jika Sampai Terhapus Amalnya Tanpa  Disadarinya</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">9.  Ibrahim at Taimi  berkata, &#8216;Tidak pernah perkataanku sebelum aku melakukan (atau) aku menunjukkan  amal perbuatanku, melainkan aku takut kalau-kalau aku nanti akan disudutkan oleh  amalan yang tidak jadi aku lakukan.&#8221;</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">10. Ibnu Abi Mulaikah  berkata, &#8220;Aku mengunjungi tiga puluh sahabat Nabi saw. dan masing-masing  khawatir dengan munafik dan tak seorang pun di antara mereka yang mengatakan  bahwa keimanannya sama kuatnya seperti yang ada pada Jibril dan Mikail.&#8221;</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">11.  Al-Hasan al-Bashri  berkata, &#8216;Tiada seorang pun yang takut akan hal itu (yakni kemunafikan)  melainkan ia adalah orang mukmin yang sebenar-benarnya dan tiada seorang pun  yang merasa aman akan hal itu melainkan ia pasti seorang yang munafik.&#8221;</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">38. Ziad  berkata, &#8220;Aku bertanya kepada Wa-il tentang golongan Murji-ah, lalu dia berkata,  &#8216;Aku diberi tahu oleh Abdullah bahwa Nabi saw bersabda&#8217;, &#8220;Mencaci maki orang  muslim adalah fasik dan memeranginya adalah kafir.&#8221;</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><strong>Bab Ke-37:  Pertanyaan Malaikat Jibril kepada Nabi saw tentang iman, Islam, ihsan,  pengetahuan tentang hari kiamat, dan keterangan yang diberikan Nabi saw.  kepadanya, lalu beliau bersabda, &#8220;Malaikat Jibril as. datang untuk mengajarkan  kepada kalian agama kalian.&#8221; Maka, Nabi saw. menganggap bahwa semuanya itu  sebagai agama.</strong><strong> Semua yang diterangkan Nabi saw. kepada tamu  Abdul Qais (tersebut) termasuk keimanan. Dan firman Allah, &#8220;Barangsiapa mencari  agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima agama itu  daripadanya. &#8221; (Ali Imran : 85)</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">(Saya berkata,  &#8220;Dalam hal ini Imam Bukhari meriwayatkan hadits Jibril yang diisyaratkan itu  dari hadits Abu Hurairah yang akan datang [65-at-Tajsir/21-asSurah  2-Bab]&#8220;).</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">Abu Abdillah  berkata, &#8220;Beliau menjadikan semua itu termasuk keimanan.&#8221;</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><strong>Bab  Ke-38:</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">(Saya berkata,  &#8220;Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya sebagian dan hadits Abu Sufyan yang  panjang dalam dialognya dengan Heraklius sebagaimana yang akan disebutkan pada  &#8220;56 &#8211; al-Jihad/102 &#8211; BAB&#8230;..&#8221;)&#8221;</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><strong>Bab Ke-39:  Keutamaan Orang yang Membersihkan Agamanya</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">39. An-Nu&#8217;man bin  Basyir berkata, &#8220;Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, &#8220;Yang halal itu jelas  dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya terdapat hal-hal musyabbihat  (dan dalam satu riwayat: perkara-perkara musytabihat / samar, tidak jelas  halal-haramnya, 3/ 4), yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Barangsiapa  yang menjaga hal-hal musyabbihat, maka ia telah membersihkan kehormatan dan  agamanya. Dan, barangsiapa yang terjerumus dalam syubhat, maka ia seperti  penggembala di sekitar tanah larangan, hampir-hampir ia terjerumus ke dalamnya.  (Dalam satu riwayat disebutkan bahwa barangsiapa yang meninggalkan apa yang  samar atasnya dari dosa, maka terhadap yang sudah jelas ia pasti lebih  menjauhinya; dan barangsiapa yang berani melakukan dosa yang masih diragukan,  maka hampir-hampir ia terjerumus kepada dosa yang sudah jelas). Ketahuilah bahwa  setiap raja mempunyai tanah larangan, dan ketahuilah sesungguhnya tanah larangan  Allah adalah hal-hal yang diharamkan-Nya (dan dalam satu riwayat:  kemaksiatan-kemaksiatan itu adalah tanah larangan Allah). Ketahuilah bahwa di  dalam tubuh ada sekerat daging. Apabila daging itu baik, maka seluruh tubuh itu  baik; dan apabila sekerat daging itu rusak, maka seluruh tubuh itu pun rusak.  Ketahuilah, dia itu adalah hati.&#8221;</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><strong>Bab Ke-40:  Memberikan Seperlima dari Harta Rampasan Perang Termasuk Keimanan</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">40. Abi Jamrah  berkata, &#8220;Aku duduk dengan Ibnu Abbas dan ia mendudukkan aku di tempat duduknya.  Dia berkata, Tinggallah bersamaku sehingga aku berikan untukmu satu bagian dari  hartaku.&#8217; Maka, aku pun tinggal bersamanya selam dua bulan. (Dan dalam satu  riwayat: &#8216;Aku menjadi juru bicara antara Ibnu Abbas dan masyarakat 1/ 30).  (Kemudian pada suatu saat dia berkata kepadaku). (Dan dalam satu riwayat: Aku  berkata kepada Ibnu Abbas, &#8216;Sesungguhnya aku mempunyai guci untuk membuat  <em>nabidz</em> &#8216;minuman keras&#8217;, lalu aku meminumnya dengan terasa manis di dalam  guci itu jika aku habis banyak. Kemudian aku duduk bersama orang banyak dalam  waktu yang lama karena aku takut aku akan mengatakan sesuatu yang memalukan.&#8217;  (Lalu Ibnu Abbas berkata 5/116), &#8216;Sesungguhnya utusan Abdul Qais ketika datang  kepada Nabi saw., beliau bertanya, &#8216;Siapakah kaum itu atau siapakah utusan itu?&#8217;  Mereka menjawab, &#8216;[Kami adalah satu suku dari 7/114] Rabi&#8217;ah.&#8217; (Dan dalam satu  riwayat: &#8216;Maka kami tidak dapat datang kepadamu kecuali pada setiap bulan Haram&#8217;  4/157). Beliau bersabda, &#8216;Selamat datang kaum atau utusan (yang datang) tanpa  tidak kesedihan dan penyesalan.&#8221; Mereka berkata, &#8216;Wahai Rasulullah, sesungguhnya  kami tidak dapat datang kepada engkau kecuali pada bulan Haram, karena antara  kita ada perkampungan ini yang (berpenghuni) kafir mudhar. [Kami datang kepadamu  dari tempat yang jauh], maka perintahkanlah kami dengan perintah yang terperinci  (dan dalam satu riwayat: dengan sejumlah perintah). [Kami ambil dari engkau dan  1/133] kami beri tahukan kepada orang-orang yang di belakang kami dan karenanya  kami masuk surga [jika kami mengamalkannya' 8/217]. Mereka bertanya kepada  beliau tantang minuman. Lalu beliau menyuruh mereka dengan empat perkara dan  melarang mereka (dan dalam satu riwayat disebutkan bahwa beliau bersabda, &#8216;Aku  perintahkan kamu dengan empat perkara dan aku larang kamu) dari empat perkara,  yaitu aku perintahkan kamu beriman kepada Allah (Azza wa Jalla) saja.&#8217; Beliau  bertanya, &#8216;Tahukah kalian apakah iman kepada Allah sendiri itu? Mereka berkata,  &#8216;Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.&#8217; Beliau bersabda, &#8216;Bersaksi tidak ada  Tuhan melainkan Allah dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Allah [dan beliau  menghitung dengan jarinya 4/44], mendirikan shalat, memberikan zakat, puasa  Ramadhan, dan kalian memberikan harta seperlima harta rampasan perang. Lalu,  beliau melarang mereka dari empat hal yaitu (dan dalam satu riwayat: Janganlah  kamu minum dalam) guci hijau, labu kering, pohon korma yang diukir, dan sesuatu  yang dilumuri fir (empat hal ini adalah alat untuk membuat minuman keras).&#8217;  Barangkali beliau bersabda (juga), &#8216;Barang yang dicat.&#8217; Dan beliau bersabda,  &#8216;Peliharalah semua itu dan beri tahukanlah kepada orang yang di belakang  kalian!&#8221;</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><strong>Bab Ke-41:  Keterangan tentang apa yang terdapat dalam hadits bahwa sesungguhnya semua amal  perbuatan itu tergantung pada niat dan harapan memperoleh pahala dari Allah  sesuai dengan apa yang diniatkannya. Bab ini meliputi keimanan, wudhu, shalat,  zakat, haji, puasa, dan hukum-hukum. Allah berfirman, &#8220;Tiap-tiap orang berbuat  menurut keadaannya masing-masing. &#8221; (al-Israa&#8217;: 84)</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">10.  Nafkah yang  dikeluarkan seorang laki-laki untuk keluarganya dengan niat untuk memperoleh  suatu pahala dari Allah adalah sedekah.</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">11.  Nabi saw bersabda,  &#8220;Tetapi jihad dan niat.&#8221;</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><strong>Bab Ke-42:  Sabda Nabi saw., &#8220;Agama adalah nasihat (kesetiaan) kepada Allah, Rasul-Nya,  pemimpin-pemimpin kaum muslimin dan umat nya.&#8221;</strong><strong> Dan firman Allah Ta&#8217;ala, &#8220;Apabila  mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul Nya.&#8221;(at-Taubah: 91)</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">41. Jarir bin  Abdullah berkata, &#8220;Saya berbaiat kepada Rasulullah saw. untuk [bersaksi bahwa  tidak ada Tuhan kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, dan 3/27]  mendirikan shalat, memberikan zakat, [mendengar dan patuh, lalu beliau  mengajarkan kepadaku apa yang mampu kulakukan 8/122], dan memberi nasihat kepada  setiap muslim.&#8221; Dan, menurut riwayat lain dari Ziyad bin Ilaqah, ia berkata,  &#8220;Saya mendengar Jarir bin Abdullah berkata pada hari meninggalnya Mughirah bin  Syu&#8217;bah. Ia (Jarir) berdiri, lalu memuji dan menyanjung Allah, lalu berkata,  &#8216;Hendaklah kamu semua bertakwa kapada Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu  bagi-Nya. Juga hendaklah kamu semua bersikap tenang dan tenteram sehingga amir,  penguasa daerah, datang padamu, sebab ia nanti akan datang ke sini.&#8217; Kemudian ia  berkata lagi, &#8216;Berilah maaf pada amirmu (pemimpinmu), sebab pemimpin (kalian)  senang memberi maaf orang lain. Seterusnya Jarir berkata, &#8216;Amma ba&#8217;du,  (kemudian) aku datang kepada Nabi saw. dan aku berkata, &#8216;Aku berbaiat kepadamu  atas Islam.&#8217; Lalu beliau mensyaratkan atasku agar menasihati setiap muslim.  Maka, saya berbaiat kepada beliau atas yang demikian ini. Demi Tuhan Yang  Menguasai masjid ini, sesungguhnya aku ini benar-benar memberikan nasihat kepada  kamu sekalian.&#8217; Sehabis itu ia mengucapkan istighfar (mohon pengampunan kepada  Allah), lalu turun (yakni duduk).&#8221;</p>
<hr size="1" />
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><strong>Catatan  Kaki:</strong><span style="font-size: x-small;"> </span></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><span style="font-size: x-small;">[1].Ini adalah potongan dari hadits Ibnu Umar, yang  di-maushul-kan oleh penyusun (Imam Bukhari) dalam bab ini.</span><span style="font-size: x-small;"> </span></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><span style="font-size: x-small;">[2]Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Kitab  al-Iman nomor 135 dengan pentahkikan saya, dan sanadnya adalah sahih. Ini juga  diriwayatkan oleh Ahmad dalam al-Iman sebagaimana dikatakan oleh  al-Hafizh.</span><span style="font-size: x-small;"> </span></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><span style="font-size: x-small;">[3].Di-maushul-kan juga oleh Ibnu Abi Syaibah nomor 105  dan 107, dan oleh Abu Ubaid al-Qasim bin Salam dalam Al-Iman juga nomor 30  dengan pentahkikan saya dengan sanad yang sahih. Diriwayatkan pula oleh Imam  Ahmad</span><span style="font-size: x-small;">.</span></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><span style="font-size: x-small;">[4].Di-maushul-kan oleh Thabrani dengan sanad sahih dari  Ibnu Mas&#8217;ud secara mauquf, dan diriwayatkan secara marfu&#8217; tetapi tidak sah,  sebagaimana dikatakan oleh al-Hafizh.</span></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><span style="font-size: x-small;">[5].Al-Hafizh tidak memandangnya maushul. Akan tetapi,  hadits yang semakna dengan ini terdapat di dalam Shahih Muslim dan lainnya dari  hadits an-Nawwas secara marfu. Silakan Anda periksa kalau mau di dalam kitab  saya Shahih al-Jami&#8217; ash-Shaghir (2877).</span></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><span style="font-size: x-small;">[6].Di-maushul-kan oleh Abd bin Humaid  darinya.</span></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><span style="font-size: x-small;">[7].Yakni Nuh a.s. sebagaimana disebutkan dalam konteks  ayat, &#8220;Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang diwasiatkan-Nya  kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami  wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa yaitu tegakkanlah agama dan janganlah  kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang  kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang  dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama-Nya) orang yang kembali  (kepada-Nya). &#8221; (asy-Syuura: 13)</span></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><span style="font-size: x-small;">[8].Di-maushul-kan oleh Abdur Razzaq di dalam Tafsirnya  dengan sanad sahih darinya (Ibnu Abbas).</span></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><span style="font-size: x-small;">[9].Di-maushul-kan oleh Ibnu Jarir dari Ibnu Abbas  juga.</span></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><span style="font-size: x-small;">[10].Diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya dengan lafal  Sab&#8217;uuna &#8216;tujuh puluh&#8217;, dan inilah yang kuat menurut pendapat saya, mengikuti  pendapat Al-Qadhi Iyadh dan lainnya, sebagaimana telah saya jelaskan dalam  Silsilatul Ahaditsish Shahihah (17).</span></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><span style="font-size: x-small;"><a name="[11]" href="#11"></a>[11]. Ini adalah potongan dari hadits Aisyah yang akan  datang dalam bab ini secara maushul.</span></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><span style="font-size: x-small;">[12].Al-Hafizh berkata, &#8220;Di antaranya adalah Anas, yang  diriwayatkan oleh Tirmidzi dan lain-lainnya, tetapi di dalam isnadnya terdapat  kelemahan. Dan di antaranya lagi Ibnu Umar sebagaimana disebutkan dalam Tafsir  ath-Thabari dan kitab Ad-Du&#8217;a karya ath-Thabrani. Dan di antaranya lagi adalah  Mujahid sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Abdur Razzaq, dan  lain-lainnya.&#8221;</span></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><span style="font-size: x-small;">[13].Saya katakan, &#8220;Yakni yang disebutkan pada salah  satu jalan periwayatan hadits ini.&#8221;</span></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><span style="font-size: x-small;">[14].Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Iman  (131) dengan sanad sahih dari Ammar secara mauquf. Lihat takhrijnya di dalam  catatan kaki saya terhadap kitab Al-Kalimuth Thayyib nomor 142, terbitan  Al-Maktabul-Islami.</span></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><span style="font-size: x-small;">[15].Di-maushul-kan oleh penyusun di dalarn Al-Adabul  Mufrad dan oleh Ahmad dan lain-lainnya dari hadits Ibnu Abbas recara marfu&#8217;,  sedangkan dia adalah hadits hasan sebagaimana sudah saya jelaskan dalam  Al-Ahaadiitsush Shahihah (879).</span></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><span style="font-size: x-small;">[16]. Hadits Ini menurut penyusun (Imam Bukhari)  rahimahullah adalah mu&#8217;allaq, dan dia di-maushul-kan oleh Nasaa&#8217;i denqan sanad  sahih, sebagaimana telah ditakhrij dalam Al-Ahaadiitsush Shahihah  (247).</span></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><span style="font-size: x-small;">[17]. Di-maushul-kan oleh Hakim dalam Kitab Al-Arba&#8217;in  dan di situ Qatadah menyampaikan dengan jelas dengan menggunakan kata  <em>tahdits</em> &#8216;diinformasikan&#8217; dari Anas. Saya (Al-Albani) katakan, &#8220;Dan  di-maushul-kan oleh penyusun (Imam Bukhari) dari jalan lain dari Anas di dalam  hadits safa&#8217;at yang panjang, dan akan disebutkan pada &#8220;(7 -At-Tauhid /  36)&#8221;.<br />
</span></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><span style="font-size: x-small;">[18]. Di-maushul-kan oleh penyusun dalam At-Tarikh dan  Ahmad dalam Az-Zuhd dengan sanad sahih darinya.</span></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><span style="font-size: x-small;"><br />
[19].Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Khaitsamah di dalam  Tarikh-nya, tetapi dia tidak menyebutkan jumlahnya. Demikian pula Ibnu Nashr di  dalam Al-Iman, dan Abu Zur&#8217;ah ad-Dimasyqi di dalam Tarikh-nya dari jalan lain  darinya sebagaimana disebutkan di sini.</span></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><span style="font-size: x-small;"><br />
[20].Di-maushul-kan oleh Ja&#8217;far al-Faryabi di dalam  Shifatul Munafiq dari beberapa jalan dengan lafal yang berbeda-beda. Hal ini  menunjukkan sahihnya riwayat ini darinya. Maka, bagaimana bisa terjadi penyusun  meriwayatkannya dengan menggunakan kata-kata &#8220;<em>wa yudzkaru</em>&#8221; &#8216;dan  disebutkan&#8217; yang mengesankan bahwa ini adalah hadits dhaif? Al-Hafizh menjawab  hal itu yang ringkasnya bahwa penyusun (Imam Bukhari) tidak mengkhususkan  redaksi <em>tamridh</em> &#8216;melemahkan&#8217; ini sebagai melemahkan isnadnya, bahkan dia  juga menyebutkan matan dengan maknanya saja atau meringkasnya juga. Hal ini  perlu dipahami karena sangat penting.</span></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><span style="font-size: x-small;"><br />
[21]. Mereka adalah salah satu dari kelompok-kelompok  sesat. Mereka berkata, &#8220;Maksiat itu tidak membahayakan iman.&#8221;<br />
</span></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><span style="font-size: x-small;">[22.] Menunjuk hadits Ibnu Abbas yang akan disebutkan  secara maushul sesudah dua bab lagi.</span></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><span style="font-size: x-small;">[23]. Ini adalah bagian dari hadits Abu Mas&#8217;ud al-Badri  yang di-maushul-kan oleh penyusun pada (69 &#8211; an-Nafaqat / 1- BAB).</span></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><span style="font-size: x-small;"><br />
[24]. Ini adalah bagian dari hadits Ibnu Abbas yang akan  disebutkan secara maushul pada (56 al-Jihad / 27-BAB).</span></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><span style="font-size: x-small;">[25]. Di-maushul-kan oleh Muslim dan lainnya dari hadits  Tamim ad-Dari, dan hadits ini telah ditakhrij dalam Takhrij al-Halal (328) dan  Irwa-ul Ghalil (25).<br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kumpulanhadist.arisyi-design.web.id/shahih-bukhari/kitab-iman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kitab Permulaan Turunnya Wahyu</title>
		<link>http://kumpulanhadist.arisyi-design.web.id/shahih-bukhari/kitab-permulaan-turunnya-wahyu/</link>
		<comments>http://kumpulanhadist.arisyi-design.web.id/shahih-bukhari/kitab-permulaan-turunnya-wahyu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Apr 2011 17:09:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>azimah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Shahih Bukhari]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab Permulaan Turunnya Wahyu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kumpulanhadist.arisyi-design.web.id/?p=40</guid>
		<description><![CDATA[Bab Bagaimana Permulaan Turunnya Wahyu kepada Rasulullah saw. dan Firman Allah Ta&#8217;ala, &#8220;Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya.&#8221; l. Dari Alqamah bin Waqash al-Laitsi, ia berkata, &#8220;Saya mendengar Umar ibnul Khaththab r.a. (berpidato 8/59) di atas mimbar, &#8216;Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, &#8216;(Wahai manusia), sesungguhnya amal-amal itu hanyalah dengan niatnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Bab Bagaimana Permulaan Turunnya Wahyu kepada Rasulullah saw. dan Firman  Allah Ta&#8217;ala, &#8220;Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi  yang kemudiannya.&#8221;</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">l. Dari Alqamah bin  Waqash al-Laitsi, ia berkata, &#8220;Saya mendengar Umar ibnul Khaththab r.a.  (berpidato 8/59) di atas mimbar, &#8216;Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda,  &#8216;(Wahai manusia), sesungguhnya amal-amal itu hanyalah dengan niatnya (dalam satu  riwayat: amal itu dengan niat 6/118) dan bagi setiap orang hanyalah sesuatu yang  diniatkannya. Barangsiapa yang hijrahnya (kepada Allah dan Rasul Nya, maka  hijrahnya kepada Allah dan Rasul Nya. Dan, barangsiapa yang hijrahnya 1/20)  kepada dunia, maka ia akan mendapatkannya. Atau, kepada wanita yang akan  dinikahinya (dalam riwayat lain: mengawininya 3/119), maka hijrahnya itu kepada  sesuatu yang karenanya ia hijrah.&#8221;</p>
<p><span id="more-40"></span></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">2. Aisyah r.a.  mengatakan bahwa Harits bin Hisyam r.a. bertanya kepada Rasulullah saw., &#8220;Wahai  Rasulullah, bagaimana datangnya wahyu kepada engkau?&#8221; Rasulullah saw. menjawab,  &#8220;Kadang-kadang wahyu itu datang kepadaku bagaikan gemerincingnya lonceng, dan  itulah yang paling berat atasku. Lalu, terputus padaku dan saya telah hafal  darinya tentang apa yang dikatakannya. Kadang-kadang malaikat berubah rupa  sebagai seorang laki-laki datang kepadaku, lalu ia berbicara kepadaku, maka saya  hafal apa yang dikatakannya.&#8221; Aisyah r.a. berkata, &#8220;Sungguh saya melihat beliau  ketika turun wahyu kepada beliau pada hari yang sangat dingin dan wahyu itu  terputus dari beliau sedang dahi beliau mengalirkan keringat&#8221;</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p>3. Aisyah r.a. berkata, &#8220;[Adalah 6/871] yang pertama (dari wahyu) kepada  Rasulullah saw. adalah mimpi yang baik di dalam tidur. Beliau tidak pernah  bermimpi melainkan akan menjadi kenyataan seperti merekahnya cahaya subuh.  Kemudian beliau gemar bersunyi. Beliau sering bersunyi di Gua Hira. Beliau  beribadah di sana, yakni beribadah beberapa malam sebelum rindu kepada keluarga  beliau, dan mengambil bekal untuk itu. Kemudian beliau pulang kepada Khadijah.  Beliau mengambil bekal seperti biasanya sehingga datanglah kepadanya (dalam  riwayat lain disebutkan: maka datanglah kepadanya) kebenaran. Ketika beliau ada  di Gua Hira, datanglah malaikat (dalam nomor 8/67) seraya berkata, &#8216;Bacalah!&#8217;  Beliau berkata, &#8216;Sungguh saya tidak dapat membaca. Ia mengambil dan mendekap  saya sehingga saya lelah. Kemudian ia melepaskan saya, lalu ia berkata,  &#8216;Bacalah!&#8217; Maka, saya berkata, &#8216;Sungguh saya tidak dapat membaca:&#8217; Lalu ia  mengambil dan mendekap saya yang kedua kalinya, kemudian ia melepaskan saya,  lalu ia berkata, &#8216;Bacalah!&#8217; Maka, saya berkata, &#8216;Sungguh saya tidak bisa  membaca&#8217; Lalu ia mengambil dan mendekap saya yang ketiga kalinya, kemudian ia  melepaskan saya. Lalu ia membacakan, &#8220;Iqra&#8217; bismi rabbikalladzi khalaq. Khalaqal  insaana min&#8217;alaq. Iqra&#8217; warabbukal akram. Alladzii &#8216;allama bil qalam. &#8216;Allamal  insaana maa lam ya&#8217;lam. &#8216;Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Menciptakan.  Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang  Paling Pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan  kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Lalu Rasulullah saw. pulang dengan  membawa ayat itu dengan perasaan hati yang goncang (dalam satu riwayat: dengan  tubuh gemetar). Lalu, beliau masuk menemui Khadijah binti Khuwailid, lantas  beliau bersabda, &#8216;Selimutilah saya, selimutilah saya!&#8217; Maka, mereka menyelimuti  beliau sehingga keterkejutan beliau hilang. Beliau bersabda dan menceritakan  kisah itu kepada Khadijah, &#8216;Sungguh saya takut atas diriku.&#8217; Lalu Khadijah  berkata kepada beliau, &#8216;Jangan takut (bergembiralah, maka) demi Allah, Allah  tidak akan menyusahkan engkau selamanya. (Maka demi Allah), sesungguhnya engkau  suka menyambung persaudaraan (dan berkata benar), menanggung beban dan berusaha  membantu orang yang tidak punya, memuliakan tamu, dan menolong penegak  kebenaran.&#8217; Kemudian Khadijah membawa beliau pergi kepada Waraqah bin Naufal bin  Asad bin Abdul Uzza (bin Qushai, dan dia adalah) anak paman Khadijah. Ia  (Waraqah) adalah seorang yang memeluk agama Nasrani pada zaman jahiliah. Ia  dapat menulis tulisan Ibrani, dan ia menulis Injil dengan bahasa Ibrani (dalam  satu riwayat: kitab berbahasa Arab. dan dia menulis Injil dengan bahasa Arab)  akan apa yang dikehendaki Allah untuk ditulisnya. Ia seorang yang sudah sangat  tua dan tunanetra. Khadijah berkata, Wahai putra pamanku, dengarkanlah putra  saudaramu!&#8217; Lalu Waraqah berkata kepada beliau, Wahai putra saudaraku, apakah  yang engkau lihat?&#8217; Lantas Rasulullah saw: menceritakan kepadanya tentang apa  yang beliau lihat. Lalu Waraqah berkata kepada beliau, &#8216;Ini adalah wahyu yang  diturunkan Allah kepada Musa! Wahai sekiranya saya masih muda, sekiranya saya  masih hidup ketika kaummu mengusirmu&#8230;.&#8217; Lalu Rasulullah saw. bertanya, &#8216;Apakah  mereka akan mengusir saya?&#8217; Waraqah menjawab, &#8216;Ya, belum pernah datang seorang  laki-laki yang (membawa seperti apa yang engkau bawa kecuali ia ditolak (dalam  satu riwayat: disakiti / diganggu). Jika saya masih menjumpai masamu, maka saya  akan menolongmu dengan pertolongan yang tangguh.&#8217; Tidak lama kemudian Waraqah  meninggal dan wahyu pun bersela, [sehingga Nabi saw. bersedih hati karenanya -  menurut riwayat yang sampai kepada kami - dengan kesedihan yang amat dalam yang karenanya  berkali-kali beliau pergi ke puncak-puncak gunung untuk menjatuhkan diri dari  sana. Maka, setiap kali beliau sudah sampai di puncak dan hendak menjatuhkan  dirinya, Malaikat Jibril menampakkan diri kepada beliau seraya berkata, 'Wahai  Muhammad, sesungguhnya engkau adalah Rasul Allah yang sebenarnya.' Dengan  demikian, tenanglah hatinya dan mantaplah jiwanya. Kemudian beliau kembali  pulang. Apabila dalam masa yang lama tidak turun wahyu, maka beliau pergi ke  gunung seperti itu lagi. Kemudian setelah sampai di puncak, maka Malaikat Jibril  menampakkan diri kepada beliau seraya berkata seperti yang dikatakannya pada  peristiwa yang lalu - 6/68].&#8221; [Namus (yang di sini diterjemahkan dengan Malaikat  Jibril) ialah yang mengetahui rahasia sesuatu yang tidak diketahui oleh orang  lain 124/4].</p>
<p>4. Ibnu Abbas r.a. berkata, &#8220;Rasulullah saw. adalah orang  yang paling suka berderma [dalam kebaikan 2/228], dan paling berdermanya beliau  adalah pada bulan Ramadhan ketika Jibril menjumpai beliau. Ia menjumpai beliau  pada setiap malam dari [bulan 6/102] Ramadhan [sampai habis bulan itu], lalu  Jibril bertadarus Al-Qur&#8217;an dengan beliau. Sungguh Rasulullah saw. adalah  [ketika bertemu Jibril - 4/81] lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang  dilepas.&#8221;</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<hr />
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><strong>Catatan  Kaki:</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><span style="font-size: x-small;"><a name="[1]" href="#1">[1]</a> Saya (Al-Albani) berkata, &#8220;Yang  berkata, &#8216;Menurut riwayat yang sampai kepada kami&#8221; adalah Ibnu Syihab az-Zuhri,  perawi asli hadits ini dari Urwah bin Zubair dari Aisyah. Maka, perkataannya ini  memberi kesan bahwa tambahan ini tidak menurut syarat Shahih Bukhari, karena ini  dari penyampaian az-Zuhri sendiri, sehingga tidak maushul, sebagaimana dikatakan  oleh al-Hafizh dalam Fathul Bari. Karena itu, harap diperhatikan!&#8221;</span></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><span style="color: #000080;">Sumber: Ringkasan Shahih Bukhari &#8211; M. Nashiruddin Al-Albani &#8211; Gema  Insani Press</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kumpulanhadist.arisyi-design.web.id/shahih-bukhari/kitab-permulaan-turunnya-wahyu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kitab Shalat bag. 3</title>
		<link>http://kumpulanhadist.arisyi-design.web.id/shahih-bukhari/kitab-shalat-bag-3/</link>
		<comments>http://kumpulanhadist.arisyi-design.web.id/shahih-bukhari/kitab-shalat-bag-3/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Mar 2011 18:20:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>azimah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Shahih Bukhari]]></category>
		<category><![CDATA[Bab-Bab Sutrah Orang yang Shalat]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab Shalat]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kumpulanhadist.arisyi-design.web.id/?p=268</guid>
		<description><![CDATA[Bab-Bab Sutrah Orang yang Shalat Bab Ke-89: Sutrah (Sasaran/Pembatas) Imam adalah Juga Sutrah Orang yang di Belakangnya 279. Ibnu Umar r.a. mengatakan bahwa Rasulullah ketika keluar pada hari raya (dalam satu riwayat: pada hari Idul Fitri dan Idul Adha [2/7] ke mushalla/ lapangan tempat shalat Id 2/8), beliau memerintahkan kepada kami untuk meletakkan tombak di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bab-Bab Sutrah Orang yang Shalat</p>
<p>Bab Ke-89: Sutrah (Sasaran/Pembatas) Imam adalah Juga Sutrah Orang yang di Belakangnya</p>
<p>279. Ibnu Umar r.a. mengatakan bahwa Rasulullah ketika keluar pada hari raya (dalam satu riwayat: pada hari Idul Fitri dan Idul Adha [2/7] ke mushalla/ lapangan tempat shalat Id 2/8), beliau memerintahkan kepada kami untuk meletakkan tombak di hadapan beliau. (Dalam satu riwayat: beliau biasa pergi ke mushalla dan dibawakan tombak. Lalu, ditancapkan di hadapan beliau. Dalam riwayat lain: ditegakkan di hadapan beliau 1/127). Lalu, beliau shalat dengan menghadap kepadanya, sedang orang-orang di belakang beliau. Beliau berbuat demikian itu dalam perjalanan. Karena itulah, para amir mengambilnya (melakukannya).</p>
<p>Bab Ke-90: Berapakah Seyogianya Jarak Antara Orang yang Shalat dan Sutrahnya</p>
<p>280. Sahl r.a. berkata, &#8220;Antara tempat shalat Rasulullah[67] dan dinding (dan dalam satu riwayat: jarak antara dinding masjid ke arah kiblat dengan mimbar 8/154)[68] adalah kira-kira jalan tempat lewatnya kambing.&#8221;</p>
<p>281. Salamah r.a. berkata, &#8220;Dinding masjid di sisi mimbar itu hampir-hampir seekor biri-biri saja tidak dapat melaluinya.&#8221;[69]</p>
<p>Bab Ke-91: Shalat Menghadapi Tombak Pendek sebagai Sutrah</p>
<p>(Saya berkata, &#8220;Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ibnu Umar yang disebutkan pada nomor 279 tadi.&#8221;)<br />
<span id="more-268"></span><br />
Bab Ke-92: Shalat Menghadapi Tongkat</p>
<p>Bab Ke-93: Sutrah di Mekah dan Lain-Lainnya</p>
<p>(Saya berkata, &#8220;Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ibnu Juhaifah yang disebutkan pada nomor 211 di muka.&#8221;)</p>
<p>Bab Ke-94: Shalat dengan Menghadapi Pilar-Pilar</p>
<p>Umar berkata, &#8220;Orang-orang yang shalat lebih berhak untuk shalat di belakang pilar-pilar masjid daripada orang-orang yang berbicara.&#8221;[70]</p>
<p>Umar juga pernah melihat seseorang shalat di antara dua pilar. Lalu, dia memindahkannya ke dekat sebuah pilar dan menyuruhnya supaya shalat di belakangnya.[71]</p>
<p>282. Yazid bin Ubaid berkata, &#8220;Saya bersama-sama dengan Salamah bin Akwa&#8217; dan dia shalat pada tiang yang ada di sebelah mushaf. Lalu saya berkata kepadanya, &#8216;Wahai Abu Muslim, saya melihatmu selalu shalat pada tiang ini.&#8217; Ia menjawab, &#8216;Sesungguhnya saya melihat Rasulullah selalu shalat padanya.&#8217;&#8221;</p>
<p>Bab Ke-95: Mendirikan Shalat yang Bukan Jamaah di Antara Pilar-Pilar</p>
<p>(Saya berkata, &#8220;Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ibnu Umar yang akan disebutkan pada &#8217;56 &#8211; Al-Jihad / 127 &#8211; BAB&#8217;&#8221;).</p>
<p>Bab Ke-96:</p>
<p>283. Nafi&#8217; mengatakan bahwa Abdullah apabila memasuki Ka&#8217;bah, dia terus berjalan ke muka dan meninggalkan pintu Ka&#8217;bah di belakangnya. Dia berjalan terus sehingga dinding yang ada di hadapannya hanya berada lebih kurang tiga hasta darinya. Dia shalat di mana Nabi saw pernah shalat, sebagaimana diceritakan Bilal kepadanya. Ibnu Umar berkata, &#8220;Tidak ada persoalan bagi seseorang di antara kita untuk shalat di sembarang tempat di Ka&#8217;bah.&#8221;</p>
<p>Bab Ke-97: Shalat Menghadap Kendaraan, Unta, Pohon, dan Pelana</p>
<p>284. Dari Nafi&#8217; dari Ibnu Umar dari Nabi saw bahwa beliau menjadikan kendaraan beliau sebagai sasaran (sutrah) shalat. Lalu, beliau shalat menghadap kepadanya. Saya bertanya, &#8220;Apakah kamu melihat apabila kendaraan itu bergerak?&#8221; Ia menjawab, &#8220;Beliau mengambil kendaraan kecil, ditegakkannya. Lalu, beliau shalat di bagian belakangnya.&#8221; Umar melakukannya seperti itu.</p>
<p>Bab Ke-98: Shalat Menghadapi Ranjang</p>
<p>(Saya berkata, &#8220;Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Aisyah yang akan disebutkan pada nomor 288.&#8221;)</p>
<p>Bab Ke-99: Orang yang Shalat Menolak Orang yang Lewat di Depannya</p>
<p>Ibnu Umar menolak orang yang lewat di depannya ketika sedang bertasyahud dan sewaktu di dalam Ka&#8217;bah. Dia pernah berkata, &#8220;Jika ia tidak mau kecuali engkau perangi, maka perangilah ia!&#8221;</p>
<p>285. Abu Sa&#8217;id Al-Khudri mengatakan bahwa ia shalat di hari Jumat pada sesuatu yang menutupinya dari manusia. Seorang pemuda dari bani Abu Muaith akan lewat di depannya. Abu Said menolak dadanya. Maka, pemuda itu melihat. Namun, ia tidak mendapat jalan selain di depannya. Lalu, ia kembali untuk melewatinya. Namun, Abu Said menolak lebih keras daripada yang pertama. Maka, ia mendapat (sesuatu yang tidak menyenangkan-penj.) dari Abu Sa&#8217;id. Kemudian ia datang kepada Marwan, mengadukan apa yang ia jumpai dari Abu Sa&#8217;id. Abu Sa&#8217;id datang pula kepada Marwan di belakangnya, lalu Marwan bertanya, &#8220;Ada apakah kamu dan anak saudaramu, hai Abu Said?&#8221; Abu Sa&#8217;id menjawab, &#8220;Saya mendengar Nabi bersabda, &#8216;Apabila salah seorang di antaramu sedang shalat dengan ada sesuatu yang menutupinya dari orang banyak, lalu ada seseorang yang akan lewat di depannya, maka tolaklah ia.&#8217; (Dan dalam satu riwayat: &#8216;Apabila ada sesuatu yang hendak lewat di depan seseorang di antara kamu ketika ia sedang shalat, maka hendaklah ia mencegahnya. Jika tidak mau, maka hendaklah ia mecegahnya lagi.&#8217; 4192). Jika ia enggan, maka perangilah ia, karena sesungguhnya ia adalah setan.&#8217;&#8221;</p>
<p>Bab Ke-100: Dosa Orang yang Berjalan di Depan Orang Shalat</p>
<p>286. Busr bin Abi Sa&#8217;id mengatakan bahwa Zaid bin Khalid menyuruhnya menemui Abu Juhaim. Ia perlu menanyakan kepadanya, apa yang pernah ia dengar dari Rasulullah mengenai orang yang berjalan di depan orang yang sedang mengerjakan shalat. Kemudian Abu Juhaim berkata, &#8220;Rasulullah bersabda, &#8216;Seandainya orang yang lewat di muka orang yang sedang shalat itu mengetahui dosa yang dibebankan kepadanya, niscaya ia berdiri empat puluh lebih baik daripada ia lewat di depannya.&#8221;&#8216; Abu Nadhar (perawi) berkata, &#8220;Saya tidak mengetahui, apakah beliau bersabda empat puluh hari, atau empat puluh bulan, atau empat puluh tahun.&#8221;</p>
<p>Bab Ke-101: Seseorang Menghadap Seseorang yang Shalat</p>
<p>Utsman benci bila seseorang menghadap seseorang yang sedang shalat, kalau hal itu akan memecah perhatiannya. Apabila tidak menimbulkan efek tersebut, maka Zaid bin Tsabit berkata, &#8220;Aku tidak peduli, karena orang laki-laki tidaklah membatalkan shalat laki-laki lain.&#8221;[72]</p>
<p>287. Dari Masruq dari Aisyah bahwa hal-hal yang membatalkan shalat disebutkan di sisinya. Mereka mengatakan, &#8220;Shalat menjadi batal jika seekor anjing, keledai, atau seorang wanita (lewat di depan orang yang shalat itu).&#8221; Aisyah berkata, &#8220;Anda sekalian telah menjadikan kami (kaum wanita) sama dengan anjing. (dalam satu riwayat: Anda samakan kami [dalam satu jalan: sungguh jelek Anda samakan kami] dengan himar dan anjing. Demi Allah), sesungguhnya saya melihat Nabi saw. shalat sedang saya berada di antara beliau dan kiblat. (Dalam satu riwayat: sedang kedua kakiku di arah kiblat beliau), dan saya berbaring (dalam satu riwayat: tidur) di tempat tidur. (Dalam satu riwayat: Lalu Nabi datang. Kemudian berada di tengah-tengah tempat tidur, lalu shalat 1/29). Maka, saya membutuhkan sesuatu. Tetapi, saya tidak suka menghadap beliau karena dapat mengganggu beliau (dan dalam satu riwayat: mengacaukan pikiran beliau). Maka, saya menyelinap turun dari arah kaki ranjang, sehingga saya menyelinap dari selimut saya.&#8217;&#8221;</p>
<p>Bab Ke-102: Shalat di Belakang Orang yang Tidur</p>
<p>(Saya berkata, &#8220;Dalam bab ini Imam Bukhari dengan isnadnya hadits Aisyah dalam bab berikut ini.&#8221;)</p>
<p>Bab Ke-103: Shalat Tathawwu&#8217; (Sunnah) di Belakang Seorang Wanita</p>
<p>288. Aisyah istri Nabi saw. berkata, &#8220;Saya tidur di depan Rasulullah dengan kedua kakiku berada di arah kiblatnya. Apabila beliau sujud, beliau mendorongku. Lalu, aku menarik kedua kakiku. Apabia beliau berdiri, aku memanjangkan kembali kedua kakiku.&#8221; Aisyah menambahkan, &#8220;Pada waktu itu tidak ada lampu di rumah.&#8221;</p>
<p>Bab Ke-104: Orang yang Mengatakan, &#8220;Tidak Ada Sesuatu yang Dianggap Dapat Membatalkan Shalat.&#8221;</p>
<p>289. Anak lelaki saudara Ibnu Syihab bertanya kepada pamannya tentang shalat, &#8220;Apakah dapat dibatalkan oleh sesuatu?&#8221; Dia menjawab, &#8220;Tidak dapat dibatalkan oleh sesuatu pun.&#8221; Urwah bin Zubeir telah memberitahukan kepadaku bahwa Aisyah, istri Nabi saw. berkata, &#8220;Rasulullah bangun pada malam hari lalu mengerjakan shalat dan aku benar-benar dalam keadaan (tidur) melintang antara beliau dan arah kiblat pada kamar tidur keluarganya. Maka, ketika hendak witir, beliau membangunkan aku, lalu aku shalat witir (1/130).&#8221;</p>
<p>Bab Ke- 105: Jika Seseorang Membawa Seorang Anak Wanita Kecil Di Atas Lehernya Ketika Shalat</p>
<p>290. Abu Qatadah al-Anshari r.a. mengatakan bahwa Rasulullah sering shalat dengan membawa Umamah anak wanita Zainab putri Rasulullah yang menjadi istri Abul &#8216;Ash bin Rabi&#8217;ah bin Abdi Syams (di pundak beliau 7/74). Apabila beliau sujud, beliau meletakkannya. Apabila beliau berdiri, beliau membawanya (menggendongnya).&#8221; (Dalam satu riwayat: &#8220;Apabila beliau ruku, maka beliau meletakkannya. Apabila beliau berdiri, beliau bawa berdiri.&#8221;)</p>
<p>Bab Ke-106: Shalat dengan Menghadap Tempat Tidur yang Ditempati Seorang Wanita Haid</p>
<p>(Saya berkata, &#8220;Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan sebagian dari hadits Maimunah yang telah disebutkan pada nomor 212.&#8221;)</p>
<p>Bab Ke-107: Apakah Diperbolehkan Suami Menyentuh Istrinya di Waktu Sujud, Supaya Bisa Sujud dengan Sebaik-baiknya?</p>
<p>(Saya berkata, &#8220;Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan sebagian dari hadits Aisyah yang tercantum pada nomor 288.&#8221;)</p>
<p>Bab Ke-108: Wanita Dapat Memindahkan Hal-Hal yang Mengganggu / Membahayakan dari Orang yang Sedang Shalat</p>
<p>(Saya berkata, &#8220;Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ibnu Mas&#8217;ud yang disebutkan pada nomor 144 di muka.&#8221;)</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>Catatan Kaki:</p>
<p>[1] Ini adalah bagian dari hadits Ibnu Abbas yang panjang dan akan disebutkan secara maushul dengan lengkap pada Kitab ke-56 &#8220;al-Jihad&#8221;, Bab ke-102.</p>
<p>[2] Di-maushul-kan oleh Imam Bukhari dalam &#8220;at-Tarikh&#8221; dan Abu Dawud dalam Sunan-nya dan lain-lainnya, dan disahkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban, dan itulah yang lebih akurat. Hal ini dijelaskan di dalam Fathul Bari dan Shahih Abi Dawud (643).</p>
<p>[3] Menunjuk kepada hadits Muawiyah bahwa dia bertanya kepada saudara perempuannya, Ummu Habibah, &#8220;Apakah Rasulullah saw. pernah melakukan shalat dengan mengenakan pakaian yang dipergunakannya ketika melakukan hubungan seksual?&#8221; Ummu habibah menjawab, &#8220;Pernah, apabila beliau tidak melihat adanya kotoran padanya.&#8221; Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan disahkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban. Hadits ini aku takhrij di dalam Shahih Abi Dawud (390).</p>
<p>[4] Ini adalah bagian dari hadits yang diriwayatkan secara maushul pada Kitab ke-65 &#8220;at-Tafsir&#8221;, Bab ke-9 &#8220;Bara&#8217;ah&#8221;, Bab ke-2 dari hadits Abu Hurairah.</p>
<p>[5] Di-maushul-kan oleh penyusun pada hadits nomor 203.</p>
<p>[6] Yakni hadits yang diriwayatkannya mengenai menyelimutkan pakaian (dalam shalat), dan yang dimaksudkan boleh jadi haditsnya dari Salim bin Abdullah, dari ayahnya, yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan lain-lainnya, atau dari Sa&#8217;id dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Ahmad dan lain-lainnya. Tampaknya perkataan &#8220;Menyilangkan&#8230;.&#8221; itu adalah perkataan penyusun (Imam Bukhari) sendiri.</p>
<p>[7] Di-maushul-kan penyusun sendiri dalam bab ini tanpa perkataan &#8220;Dan menyilangkan &#8230;&#8221;, dan hadits ini diriwayatkan oleh Muslim (2/158) dan Ahmad (6/342) dari Ummu Hani&#8217;.</p>
<p>[8] Di-maushul-kan oleh Nu&#8217;aim bin Hammad di dalam manuskrip (tulisan tangan) nya yang terkenal dari jalan Hisyam dari al-Hasan dengan lafal yang hampir sama dengannya, dan diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari jalan lain darinya, dan sanadnya sahih.</p>
<p>[9] Di-maushul-kan oleh Abdur Razzaq dengan sanad sahih darinya. Al-Hafizh berkata, &#8220;Perkataannya &#8216;dengan kencing&#8217; itu, apabila alif-lam (&#8216;al-&#8217; pada lafal &#8216;a-baul&#8217;) berfungsi lil-jinsi (menunjukkan jenis kencing secara umum), dapat diartikan bahwa dia telah mencucinya sebelum mengenakannya, dan jika &#8216;al-&#8217; itu berfungsi &#8216;lil-&#8217;ahdi&#8217; (mengikat), yang dimaksud ialah kencing binatang yang boleh dimakan dagingnya karena az-Zuhri berpendapat bahwa kencing binatang ini suci (tidak najis).&#8221;</p>
<p>[10] Di-maushul-kan oleh Ibnu Sa&#8217;ad darinya.</p>
<p>*1*) Saya [Sofyan Efendi] berkata, &#8220;Silakan lihat catatan kaki hadits no.782.&#8221;</p>
<p>[11] Hadits Ibnu Abbas di-maushul-kan oleh Tirmidzi dan lainnya. Hadits Jarhad di-maushul-kan oleh Malik dan Tirmidzi serta dihasankannya dan disahkan oleh Ibnu Hibban. Adapun hadits Muhammad bin Jahsy di-maushul-kan oleh Ahmad dan lain-lainnya. Pada semua isnad-nya terdapat pembicaraan, tetapi sebagiannya menguatkan sebagian yang lain, dan aku telah men-takhrij-nya di dalam &#8220;al-Misykat&#8221; (3112-3114) dan &#8220;al-Irwa&#8217;&#8221; (269).</p>
<p>[12] Di-maushul-kan oleh penyusun di sini dan akan disebutkan pada Kitab ke-55 &#8220;al-Washaayaa&#8221;, Bab ke-26.</p>
<p>[13] Ini adalah bagian dari suatu kisah yang di-maushul-kan oleh penyusun pada Kitab ke-62 &#8220;al-Fadhaail&#8221;, Bab ke-6.</p>
<p>[14] Ini adalah bagian dari suatu hadits yang di-maushul-kan oleh penyusun dalam beberapa tempat, di antaranya Kitab ke-56 &#8220;al-Jihad&#8221; dan disebutkan di sana pada Bab ke-12.</p>
<p>[15] Di-maushul-kan oleh Abdur Razzaq (5033) darinya dan aku katakan bahwa sanadnya sahih.</p>
<p>[16] Di dalam riwayat Abu Ya&#8217;la, redaksinya tertulis, &#8220;Dan, sebagian kami tidak mengetahui keberadaan sebagian yang lain.&#8221; Silakan periksa bukuku Hijabul mar&#8217;atil Muslimah, hlm. 30, cetakan ketiga, terbitan al-Maktab al-Islami.</p>
<p>[17] Tambahan ini merupakan sisipan dari perkataan Ibnu Syihab, sebagaimana penjelasan al-Hafizh.</p>
<p>[18] Di-maushul-kan oleh Imam Ahmad, Muslim, dan lain-lainnya. Hadits ini aku takhrij dalam Shahih Abi Dawud (848) dan Irwa&#8217;ul Ghalil (375).</p>
<p>[19] Al-Hafizh tidak men-takhrij-nya.</p>
<p>[20] Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Syaibah dan Sa&#8217;id bin Manshur dari dua jalan dari Abu Hurairah, yang keduanya saling menguatkan.</p>
<p>[21] Al-Hafizh tidak men-takhrij-nya.</p>
<p>[22] Pada hadits nomor 923 kitab ini disebutkan bahwa sebulan itu adakalanya tiga puluh hari dan adakalanya dua puluh sembilan hari. (Penj.)</p>
<p>[23] Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Syaibah dari keduanya.</p>
<p>[24] Di-maushul-kan oleh Ibnu Qutaibah di dalam naskah tangannya dengan riwayat Nasa&#8217;i dan Ibnu Abi Syaibah.</p>
<p>[25] Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Syaibah dan Said bin Manshur dengan sanad sahih darinya.</p>
<p>[26] Di-maushul-kan oleh penyusun pada bab sesudahnya dengan teks yang semakna dengannya dan diriwayatkan oleh Muslim dengan redaksi mu&#8217;allaq ini.</p>
<p>[27] Di-maushul-kan oleh Abdur Razzaq dan Ibnu Abi Syaibah dengan sanad sahih darinya dengan lafal, &#8220;Sesungguhnya, sahabat-sahabat Rasulullah saw. sujud sedang tangan mereka berada di dalam pakaian mereka, sedangkan seseorang dari mereka sujud di atas kopiah dan sorbannya.&#8221;</p>
<p>[28] Ini adalah sebagian dari hadits Abu Humaid yang akan disebutkan secara lengkap dan maushul pada Kitab ke-10 &#8220;al-Adzan&#8221;, Bab ke-144.</p>
<p>[29] Diriwayatkan secara maushul dari hadits Abu Ayyub (nomor 97), tanpa perkataan &#8220;buang air besar atau kencing&#8221; dan di-maushul-kan oleh Muslim (1/154) dengan tambahan ini.</p>
<p>[30] Ini adalah sebagian dari hadits tentang orang yang rusak shalatnya dari hadits Abu Hurairah dan penyusun me-maushul-kannya pada Kitab ke-79 &#8220;al-Isti&#8217;dzan&#8221;, Bab ke-18.</p>
<p>[31] Imam Bukhari me-maushul-kannya pada Kitab ke-22 &#8220;as-Sahwu&#8221;, Bab ke-88, tetapi tanpa perkataan &#8220;menghadapkan wajahnya ke arah orang banyak&#8221; karena perkataan ini terdapat dalam riwayat Imam Malik dalam al-Muwaththa&#8217; dari jalan Abu Sufyan, mantan budak Ibnu Abu Ahmad, dari Abu Hurairah. Akan tetapi, di situ disebutkan bahwa shalat tersebut adalah shalat ashar, dan isnad-nya sahih. Itu adalah riwayat penyusun (Imam Bukhari) dari riwayat Ibnu Sirin dari Abu Hurairah. Akan tetapi, aku terpaksa menjelaskan macam shalatnya ini sebagaimana akan Anda lihat nanti di sana, sehingga memungkinkan berpegang pada riwayat Abu Sufyan ini di dalam menguatkan riwayat Ibnu Sirin yang sesuai dengan ini. Wallahu a&#8217;lam.</p>
<p>[32] Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Syaibah darinya dengan sanad sahih.</p>
<p>[33] Kemungkinan, ini adalah lafal hadits Abu Said al-Khudri karena pada lafal Abu Hurairah terdapat sedikit perubahan redaksi kalimat dan akan disebutkan sebentar lagi. Karena itu, aku tidak memberinya nomor urut di sini.</p>
<p>[34] Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Syaibah yang semakna dengannya dalam suatu kisah.</p>
<p>[35] Al-Hafizh berkata, &#8220;Aku tidak melihatnya maushul.&#8221;</p>
<p>[36] Di-maushul-kan oleh penyusun dari hadits Aisyah pada Kitab ke-23 &#8220;al Janaiz&#8221;, Bab ke-61.</p>
<p>[37] Ini adalah bagian dari hadits yang panjang yang akan disebutkan secara maushul pada Kitab ke-96 &#8220;al-I&#8217;tisham&#8221;, Bab ke-4.</p>
<p>[38] Di-mauhsul-kan oleh Ibnu Abi Syaibah dari dua jalan dari Ali.</p>
<p>[39] Di-maushul-kan oleh Abdur Razzaq.</p>
<p>[40] Di-maushul-kan oleh al-Baghawi dalam al Ja&#8217;diyyat.</p>
<p>[41] Boleh jadi, ini adalah lafal hadits Ibnu Abbas karena lafal hadits Aisyah sedikit berbeda dengan ini dan akan disebutkan pada Kitab ke-23 &#8220;al-Janaiz&#8221;, Bab ke-62. Karena itu, aku tidak memberinya nomor tersendiri di sini.</p>
<p>[42] Di-maushul-kan oleh penyusun pada nomor 186.</p>
<p>[43] Riwayat mu&#8217;allaq ini di-maushul-kan oleh penyusun (Imam Bukhari) pada Kitab ke-4 &#8220;al-Wudhu&#8221; yang telah disebutkan di muka pada nomor 139.</p>
<p>[44] Ini adalah bagian dari hadits yang di-maushul-kan oleh penyusun pada Kitab ke-61 &#8220;al-Manaqib&#8221; Bab ke25 &#8220;Alamaun Nubuwwah fil-Islam&#8221;.</p>
<p>[45] Ini adalah bagian dari hadits Ka&#8217;ab bin Malik yang panjang dalam kisah ketertinggalannya (keengganannya) ikut perang dan tobatnya, dan akan disebutkan secara maushul pada bagian-bagian akhir Kitab ke-64 &#8220;al-Maghazi&#8221;, Bab ke-81.</p>
<p>[46] Ini adalah bagian dari haditsnya yang panjang tentang Lailatu1-Qadar dan akan disebutkan secara maushul pada Bab ke-134.</p>
<p>[47] AI-Hafizh tidak men-takkrij-nya.</p>
<p>[48] Di-maushul-kan oleh Abu Ya&#8217;la di dalam Musnad-nya dan Ibnu Khuzaimah di dalam Shahih-nya.</p>
<p>[49] Di-maushul-kan oleh Abu Dawud dan Ibnu Hibban dengan sanad yang kuat dan telah aku takhrij dalam Shahih Abi Dawud (474).</p>
<p>[50] Al-Hafizh berkata, &#8220;Yang benar, dia adalah seorang perempuan, yaitu Ummu Mihjan.&#8221; Kisah lain yang mirip dengan ini terjadi pada seorang laki-laki yang bernama Thalhah ibnul-Barra, diriwayatkan oleh Ibnu Abbas. Silakan periksa pada Kitab ke-23 &#8216;al-Janaiz&#8217; , Bab ke-5.</p>
<p>[51] Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Hatim.</p>
<p>[52] Di-maushul-kan oleh Ma&#8217;mar dengan sanad sahih darinya.</p>
<p>[53] Akan disebutkan secara maushul pada Kitab ke-25 &#8216;al-Hajj&#8217;, Bab ke-58.</p>
<p>[54] Al-Hafizh menisbatkan atsar ini di dalam kitab al-Libas kepada al-Ismaili dengan catatan sebagai tambahan terhadap riwayatnya pada akhir hadits yang sebelumnya, seakan-akan kehadirannya memang tidak di sini di sisi penyusun (Imam Bukhari).</p>
<p>[55] Al-Hafizh tidak men-takhrij-nya.</p>
<p>[56] Ini adalah bagian dari hadits mu&#8217;allaq yang akan disebutkan sesudahnya pada sebagian jalannya dan ia mempunyai saksi (penguat) dan hadits Abu Hurairah yang aku takkrij di dalam al-Ahaditsush Shahihah (206).</p>
<p>[57] Hadits ini mu&#8217;allaq dan di-maushul-kan oleh Ibrahim al-Harbi di dalam Gharibul Hadits dan Abu Ya&#8217;la di dalam Musnad-nya dan lainnya dengan sanad yang kuat, dan telah aku takhrij dalam kitab di atas (al-Ahaditsush Shahihah).</p>
<p>[58] Tampaknya yang dimaksud dengan perkataan &#8220;seperti ini&#8221; adalah menjalin jari-jari. Kelengkapan hadits sebagaimana yang diriwayatkan oleh orang yang kami sebutkan di atas adalah, &#8220;Mereka mudah mengobral janji dan amanat serta bersilang sengketa, maka jadinya mereka seperti ini,&#8221; dan beliau menjalin jari-jari beliau&#8230;.</p>
<p>[59] Riwayat tentang shalat ashar ini didukung oleh riwayat Malik dari jalan Abu Sufyan dari Abu Hurairah dan sudah disebutkan pada hadits mu&#8217;allaq pada nomor 86.</p>
<p>[60] Maksudnya boleh jadi, mereka bertanya kepada Ibnu Sirin yang meriwayatkan hadits ini dari Abu Hurairah, &#8220;Apakah dalam hadits itu diceritakan: Kemudian beliau salam?&#8221; Ibnu Sirin lalu menjawab, &#8220;Kami mendapat informasi&#8230;.&#8221; Silakan periksa al-Fath.</p>
<p>[61] Sebuah perkampungan yang jaraknya dari Ruwaitsah sejauh 10 atau 14 mil.</p>
<p>[62] Bukit yang terletak di pertemuan jalan Madinah dan Syam, dekat Juhfah.</p>
<p>[63] Suatu lembah yang oleh masyarakat umum disebut dengan Bathn Muruw, yang jaraknya dengan Mekah sejauh 16 mil.</p>
<p>[64] Jamak dari Shafia&#8217;, sebuah tempat yang terletak sesudah Zhahran.</p>
<p>[65] Suatu tempat di sebelah pintu Ka&#8217;bah yang disukai orang yang hendak masuk Mekah agar mandi di situ. Masalah mandi ini akan disebutkan dalam hadits Ibnu Umar pada Kitab ke-25 &#8220;al-Hajj&#8221;, Bab ke-38.</p>
<p>[66] Al-Hafizh berkata, &#8220;Masjid-masjid ini sekarang sudah tidak diketahui lagi selain Masjid Dzil Hulaifah. Masjid-masjid yang ada di Rauha&#8217; dikenal oleh penduduk sekitar.&#8221; Aku (al-Albani) berkata, &#8220;Menapaktilasi shalat di sana yang dilarang Umar itu bertentangan dengan perbuatan putranya (Ibnu Umar) dan sudah tentu Ibnu Umar lebih tahu karena terdapat riwayat yang menceritakan bahwa dia melihat orang-orang di dalam suatu bepergian lantas mereka bersegera menuju ke suatu tempat, lalu dia bertanya tentang hal itu. Mereka menjawab, &#8216;Nabi Muhammad saw. pernah shalat di situ.&#8217; Dia berkata, &#8216;Barangsiapa yang ingin shalat, silakan; dan barangsiapa yang tidak berminat, silakan jalan terus. Sesungguhnya, Ahli Kitab telah rusak karena mereka mengikuti tapak tilas nabi-nabi mereka, lantas menjadikannya gereja-gereja dan biara-biara.&#8217;&#8221; Aku katakan bahwa ini menunjukkan ilmu dan pengetahuannya radhiyallahu anhu dan Anda dapat menjumpai takkrij atsar ini beserta penjelasan tentang hukum menapaktilasi para nabi dan shalihin di dalam fatwa-fatwaku pada akhir kitab Jaziiratu Failika wa Khuraftu Atsaril Khidhri fiihaa&#8221; karya Ustadz Ahmad bin Abdul Aziz al-Hushain, terbitan ad-Darus Salafiyyah, Kuwait, halaman 43-57. Silakan periksa karena masalah ini sangat penting.</p>
<p>[67] Yakni tempat sujud beliau, dan perkataan al-Asqalani, &#8220;Yakni tempat beliau dalam shalat&#8221;, adalah jauh dari kebenaran. Karena, tidak mungkin beliau biasa bersujud dalam jarak seperti ini. Kecuali, kalau dikatakan bahwa beliau mundur ketika sujud. Sebagian golongan Malikiah berpendapat seperti ini. Tetapi, pendapat ini ditentang oleh Abul Hasan as-Sindi rahimahullah. Di antara yang mendukung pendapat ini ialah kalau Rasulullah berdiri dalam jarak yang demikian dekat dengan dinding itu, sudah tentu jarak shaf yang ada di belakang beliau sekitar tiga bahu. Ini bertentangan dengan Sunnah dalam merapatkan barisan, dan bertentangan dengan sabda beliau, &#8216;Berdekat-dekatanlah kamu di antara shaf-shaf.&#8221; Hadits ini adalah sahih dan kami takhrij dalam Shahih Abi Dawud (673). Pendapat itu juga bertentangan dengan hadits Ibnu Umar yang tercantum pada nomor 283 akan datang.</p>
<p>[68] Saya katakan, &#8220;Riwayat ini menurut pendapat saya lebih sah sanadnya daripada yang pertama. Di dalam riwayat ini tidak terdapat kemusykilan seperti pada riwayat yang pertama. Riwayat ini didukung oleh hadits Salamah yang disebutkan sesudahnya. Bahkan, riwayat yang pertama itu syadz &#8216;ganjil&#8217; sebagaimana saya jelaskan dalam Shahih Abi Dawud (693).&#8221;</p>
<p>[69] Al-Mihlab berkata, &#8220;Di antara dinding dengan mimbar masjid terdapat kesunnahan yang perlu diikuti mengenai tempat mimbar, agar dapat dimasuki dari tempat itu.&#8221;</p>
<p>[70] Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Syaibah dan al-Humaidi dari jalan Hamdan dari Umar. Demikian penjelasan dalam Asy-Syarh.</p>
<p>[71] Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Syaibah juga dari jalan Muawiyah bin Qurrah bin Iyas al-Muzani, dari ayahnya, seorang sahabat, katanya, &#8220;Umar pernah melihat aku ketika aku sedang shalat&#8230;&#8221; Lalu ia menyebutkan seperti riwayat di atas.</p>
<p>[72] Al-Hafizh tidak melihatnya dari Utsman, melainkan dari Umar. Diriwayatkan oleh Abdur Razzaq (2396), dan Ibnu Abi Syaibah dan lain-lainnya dari jalan Hilal bin Yasaf dari Umar yang melarang hal itu. Perawi-perawinya tepercaya, tetapi isnadnya munqathi&#8217; &#8216;terputus&#8217;, Hilal tidak mendapati zaman Umar. Saya (Al-Albani) berkata, &#8220;Adapun hadits yang sering diucapkan oleh sebagian imam masjid di Damsyiq dengan lafal, &#8220;Maa aflaha wajhun shallaa ilaihi&#8221;, maka saya tidak mengetahui asal-usulnya.&#8221;</p>
<p>Sumber: Ringkasan Shahih Bukhari &#8211; M. Nashiruddin Al-Albani &#8211; Gema Insani Press</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kumpulanhadist.arisyi-design.web.id/shahih-bukhari/kitab-shalat-bag-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kitab Shalat bag. 2</title>
		<link>http://kumpulanhadist.arisyi-design.web.id/shahih-bukhari/kitab-shalat-bag-2/</link>
		<comments>http://kumpulanhadist.arisyi-design.web.id/shahih-bukhari/kitab-shalat-bag-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Mar 2011 18:00:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>azimah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Shahih Bukhari]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab Shalat]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kumpulanhadist.arisyi-design.web.id/?p=266</guid>
		<description><![CDATA[Bab Ke-32: Tentang (Menghadap) Kiblat dan Orang yang Menganggap Tidak Perlu Mengulang Shalat Apabila Seseorang Lupa dan Shalat dengan Menghadap ke Arah Selain Kiblat Nabi Muhammad saw pernah mengucapkan salam setelah melakukan dua rakaat shalat zhuhur dan menghadapkan wajahnya ke arah orang banyak, kemudian menyempurnakan rakaat yang masih tertinggal.[31] 225. Anas berkata bahwa Umar berkata, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bab Ke-32: Tentang (Menghadap) Kiblat dan Orang yang Menganggap Tidak Perlu Mengulang Shalat Apabila Seseorang Lupa dan Shalat dengan Menghadap ke Arah Selain Kiblat</p>
<p>Nabi Muhammad saw pernah mengucapkan salam setelah melakukan dua rakaat shalat zhuhur dan menghadapkan wajahnya ke arah orang banyak, kemudian menyempurnakan rakaat yang masih tertinggal.[31]</p>
<p>225. Anas berkata bahwa Umar berkata, &#8220;Aku mendapatkan persetujuan Tuhanku dalam tiga hal. Aku (Umar) berkata, &#8216;Wahai Rasulullah, bagaimana kalau kita jadikan maqam Ibrahim sebagai tempat shalat?&#8217; Turunlah ayat, &#8216;Dan, jadikanlah sebagian maqam Ibrahim sebagai tempat shalat.&#8217; Dan, ayat hijab (bertirai) di mana aku berkata, &#8216;Wahai Rasulullah, bagaimana kalau engkau perintahkan istri-istrimu berhijab karena mereka diajak bercakap-cakap oleh (dalam satu riwayat: engkau biasa didatangi oleh, 5/ 149) orang yang baik dan orang yang jahat? Turunlah ayat hijab. Dan, istri-istri Nabi Muhammad saw. bersepakat untuk cemburu kepada beliau, lalu aku berkata kepada mereka, &#8216;Jika beliau menceraikan kalian, boleh jadi Tuhannya akan menggantinya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kalian.&#8217; (Dalam satu riwayat: &#8216;Dan telah sampai berita kepadaku bahwa Nabi Muhammad saw mencela sebagian istrinya. Aku lalu menemui mereka dan berkata, &#8216;Berhentilah kalian dari perbuatan itu atau Allah akan mengganti bagi Rasul-Nya istri-istri yang lebih baik daripada kalian,&#8217; hingga aku datang kepada salah seorang dari mereka. Salah satu istri ini berkata, &#8216;Hai Umar, apakah pada Rasulullah itu tidak terdapat sesuatu yang dapat memberi pelajaran atau menyadarkan istri-istrinya sehingga engkau menasihati mereka?&#8217;). Maka, turunlah ayat ini.&#8221;</p>
<p>226. Abdullah bin Umar berkata, &#8220;Pada waktu orang-orang sedang melakukan shalat subuh di Quba&#8217;, tiba-tiba mereka didatangi seseorang (untuk menyampaikan berita). Orang itu berkata, &#8216;Sesungguhnya, malam tadi telah diturunkan kepada Rasulullah saw. Al-Qur&#8217;an (yakni wahyu). Beliau diperintahkan shalat menghadap ke Kabah. [Maka ingatlah, menghadaplah kalian ke Kabah! 5/152].&#8217; Mereka lalu menghadap ke Ka&#8217;bah, padahal waktu itu wajah mereka sedang menghadap ke Syam. Mereka lalu menghadapkan wajahnya ke Ka&#8217;bah.&#8221;</p>
<p>Bab Ke-33: Menggaruk Ludah dari Masjid dengan Tangan</p>
<p>227. Anas r.a. berkata bahwa Nabi Muhammad saw melihat dahak di arah kiblat. Beliau merasa keberatan terhadap hal itu sehingga tampak di wajah beliau (ketidaksenangan itu), lalu beliau berdiri, lantas menggaruknya dengan tangan beliau seraya bersabda, &#8220;Sesungguhnya, apabila salah seorang di antaramu berdiri dalam shalat, sesungguhnya ia sedang bermunajat (bercakap-cakap) dengan Tuhannya atau Tuhannya itu di antara dia dan kiblatnya. Karena itu, janganlah salah seorang diantaramu meludah ke arah kiblatnya [dan jangan pula ke arah kanannya, 1/107], tetapi kesebelah kiri atau di bawah telapak kakinya [yang kiri, 1/135].&#8221; Beliau lalu mengambil ujung selendang beliau dan meludah di situ. Beliau lalu menggeserkan sebagiannya atas sebagian yang lain, lalu beliau bersabda, &#8216;Atau, berbuat seperti ini.&#8217;&#8221;<br />
<span id="more-266"></span><br />
228. Abdullah bin Umar berkata bahwa Rasulullah saw melihat ludah (dalam satu riwayat: dahak, 1/183) di dinding masjid pada arah kiblat [ketika beliau akan mengerjakan shalat di depan orang banyak], lalu beliau menggosoknya [dengan tangannya, 7/98], lalu menghadap kepada orang banyak (dalam satu riwayat: maka beliau marah kepada ahli masjid, 2/62), lalu bersabda [setelah selesai], &#8220;Apabila salah seorang di antara kalian sedang shalat, janganlah ia meludah di depannya karena sesungguhnya Allah itu berada di arah mukanya jika ia sedang shalat.&#8221; [Ibnu Umar radhiyallahu anhuma berkata, "Apabila salah seorang dari kamu meludah, hendaklah ia meludah ke sebelah kirinya."]</p>
<p>229. Aisyah berkata bahwa Rasulullah saw melihat ada ingus, ludah, atau dahak di dinding masjid, lalu beliau menggosoknya.</p>
<p>Bab Ke-34: Menggosok Dahak dari Masjid dengan Batu</p>
<p>Ibnu Abbas berkata, &#8220;Apabila kamu menginjak kotoran yang basah, cucilah ia, dan jika kering, tidak perlu kamu cuci.&#8221;[32]</p>
<p>230. Abu Hurairah dan Abu Said berkata bahwa Rasulullah saw melihat dahak pada dinding (dalam satu riwayat: ke arah kiblat, 1/107) masjid, lalu beliau mengambil sebutir kerikil kemudian menggosok-gosoknya, lalu beliau bersabda, &#8220;Apabila seseorang di antara kalian ingin meludah, janganlah ia meludah ke arah depannya dan kanannya, tetapi hendaklah meludah ke sebelah kirinya atau ke bawah kakinya yang kiri.&#8221;[33]</p>
<p>Bab Ke-35: Jangan Meludah ke Sebelah Kanan Ketika Shalat</p>
<p>Bab Ke-36: Hendaknya Meludah ke Sebelah Kirinya atau di Bawah Kaki Kirinya</p>
<p>Bab Ke-37: Denda Meludah di Masjid</p>
<p>231. Anas bin Malik berkata bahwa Nabi Muhammad saw bersabda, &#8220;Meludah di masjid adalah suatu kesalahan dan kaffarahnya (tebusannya) adalah menanamnya (menghilangkannya).&#8217;&#8221;</p>
<p>Bab Ke-38: Memendam Ludah di Masjid</p>
<p>232. Abu Hurairah berkata bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda, &#8220;Jika seseorang di antara kalian berdiri mengerjakan shalat, janganlah meludah ke depannya karena sebenarnya ia di saat itu sedang bermunajat kepada Allah selama ia masih di tempat shalatnya dan janganlah ia meludah ke sebelah kanannya karena di sebelah kanannya ada seorang malaikat, tetapi hendaklah dia meludah ke sebelah kirinya atau ke bawah telapak kakinya, lalu memendamnya (menanamnya).&#8221;</p>
<p>Bab Ke-39: Apabila Terpaksa untuk Segera Meludah, Baiknya Mengambil Ujung Pakaiannya</p>
<p>(Aku berkata, &#8220;Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Anas yang tersebut pada nomor 227 di muka.&#8221;)</p>
<p>Bab Ke-40: Nasihat Imam Kepada Orang Banyak Mengenai Pelaksanaan Shalat yang Sempurna dan Keterangan Tentang Kiblat</p>
<p>233. Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, &#8220;Apakah kamu melihat kiblatku di sini? Demi Allah, tidaklah tersembunyi atasku kekhusyuanmu dan rukumu, [dan, l/181] sesungguhnya aku melihatmu dari belakang punggungku.&#8221;</p>
<p>234. Anas bin Malik berkata, &#8220;Nabi Muhammad saw shalat bersama dengan kami sebagai imam dalam suatu shalat yang dikerjakan. Kemudian, beliau naik mimbar, lalu bersabda mengenai shalat dan ruku, &#8216;Sesungguhnya, aku melihat kalian dari belakangku sebagaimana aku melihat kalian (sewaktu berhadap-hadapan).&#8217;&#8221;</p>
<p>Bab Ke-41: Bolehkah Dikatakan Masjid Bani Fulan?</p>
<p>235. Abdullah bin Umar r.a. berkata bahwa Rasulullah saw memperlombakan antar kuda yang diberi makan penuh dari Hafya&#8217; ke Tsaniyatil Wada&#8217; dan memperlombakan antar kuda yang tidak diberi makan penuh dari Tsaniyah ke masjid bani Zuraiq. Abdullah bin Umar termasuk orang yang ikut berlomba itu.</p>
<p>Bab Ke-42: Membagi dan Menggantungkan Tempat Penyimpanan Harta di Dalam Masjid</p>
<p>Anas berkata, &#8220;Nabi Muhammad saw diberi harta dari Bahrain. Beliau lalu bersabda, &#8216;Sebarkanlah di masjid!&#8217; Itulah sebanyak-banyak harta yang disampaikan kepada Rasulullah saw. Rasulullah saw lalu keluar untuk shalat dan tidak menoleh kepadanya. Ketika beliau telah selesai menunaikan shalat, beliau datang dan duduk di sana. Bila beliau melihat seseorang, orang itu beliau beri harta itu. Tiba-tiba Abbas r.a. datang kepada beliau, lalu ia berkata, &#8216;Wahai Rasulullah, berilah aku karena aku menebus diriku dan aku menebus Aqil.&#8217; Rasulullah lalu bersabda kepadanya, &#8216;Ambillah.&#8217; Abbas lalu mengambilnya dan memasukkannya di dalam kainnya, dan dia menganggap pemberian itu hanya sedikit, tetapi ia tidak mampu untuk membawanya. Ia berkata, &#8216;Wahai Rasulullah, suruhlah seseorang mengangkatkannya kepadaku.&#8217; Beliau bersabda, &#8216;Tidak.&#8217; Ia berkata, &#8216;Engkau sajalah yang mengangkatkannya kepadaku.&#8217; Beliau menjawab, &#8216;Tidak.&#8217; Ia lalu pergi. Rasulullah saw. mengikutinya terus dengan pandangannya hingga Abbas tidak terlihat oleh kami. Rasulullah saw berbuat begitu karena merasa heran terhadap keinginannya. Ketika Rasulullah saw. berdiri, di sana sudah tidak ada satu dirham pun.&#8221;</p>
<p>Bab Ke-43: Orang yang Mengundang Makan di Masjid dan Orang yang Mengabulkan Undangan Itu</p>
<p>236. Anas berkata, &#8220;Aku mendapati Nabi Muhammad saw dalam masjid bersama dengan sejumlah orang. Aku langsung mendekati beliau, lalu beliau bertanya kepadaku, &#8216;Apakah engkau suruhan Abu Thalhah?&#8217; Aku menjawab, &#8216;Ya.&#8217; Beliau bertanya, &#8216;Untuk makan-makan?&#8217; Aku menjawab, &#8216;Ya.&#8217; Beliau lalu bersabda kepada orang-orang yang bersama beliau, &#8216;Berdirilah!&#8217; Mereka lalu keluar dan aku berangkat di depan mereka.&#8221;</p>
<p>Bab Ke-44: Memberikan Keputusan dan Saling Mengucapkan Li&#8217;an di Masjid</p>
<p>(Aku berkata, &#8220;Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya bagian dari hadits Sahl bin Sa&#8217;ad yang tercantum pada Kitab ke-68 &#8216;ath-Thalaq&#8217;, Bab ke-20.&#8221;)</p>
<p>Bab Ke-45: Apabila Seseorang Memasuki Sebuah Rumah, Haruskah Dia Shalat di Mana Saja yang Dia Kehendaki Ataukah Seperti yang Diperintahkan? Dan tidak Boleh Mengadakan Penyelidikan</p>
<p>(Aku berkata, &#8220;Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya bagian dari hadits Itban yang panjang yang akan disebutkan di bawah ini [nomor 237].&#8221;)</p>
<p>Bab Ke-46: Mendirikan Masjid di Rumah-Rumah</p>
<p>Al-Barra&#8217; bin Azib shalat di masjidnya yang terletak di rumahnya dengan berjamah.[34]</p>
<p>237. Dari Mahmud bin ar-Rabi&#8217; al-Anshari [dan dia mengaku menahan Rasulullah saw dan menahan muntahan yang dimuntahkannya (dalam satu riwayat: dia berkata, "Aku menahan dari Nabi Muhammad saw muntahan yang beliau muntahkan di wajahku dan ketika itu aku berumur lima tahun, 1/27) dari timba yang berharga beberapa dirham, l/204] [Mahmud mengaku, 2/55] bahwasanya [dia mendengar] Itban bin Malik [seorang tunanetra dan, 1/163] termasuk sahabat Rasulullah saw. dari golongan yang menyaksikan (turut serta dalam) Perang Badar dari kalangan Anshar [bersama Rasulullah saw., katanya, "Aku melakukan shalat untuk mengimami kaumku, bani Salim, dan antara aku dan mereka terdapat lembah yang apabila turun hujan aku kesulitan melewatinya menuju ke masjid. Aku datang kepada Rasulullah saw. dan berkata kepada beliau, 'Wahai Rasulullah, pandanganku sudah buruk, padahal aku menjadi imam shalat bagi kaumku. Apabila turun hujan, mengalirlah air di lembah yang ada di antara aku dan mereka sehingga aku tidak mampu mendatangi masjid mereka untuk mengimami mereka. Wahai Rasulullah, aku ingin engkau datang kepada ku, lalu engkau shalat di rumahku [di tempat] yang aku jadikan mushalla.&#8217; Rasulullah saw bersabda kepadaku, &#8216;Akan aku lakukan insya Allah.&#8217; Keesokan harinya, Rasulullah saw dan Abu Bakar datang kepadaku saat matahari sudah tinggi (dalam satu riwayat: sangat terik). Rasulullah saw minta izin dan aku mengizinkannya, namun beliau tidak duduk ketika (dalam satu riwayat: sehingga, 6/202) masuk rumah. Beliau lalu bertanya, &#8216;Dimanakah kamu inginkan agar aku shalat di rumahmu?&#8217; Aku menunjukkan beliau suatu arah dari rumahku, lalu Rasulullah berdiri dan bertakbir. Kami lalu berdiri dan berbaris [di belakang beliau), kemudian beliau shalat dua rakaat dan salam [dan kami mengucapkan salam setelah beliau salam]. Kami menahan beliau (untuk menyantap) bubur gandum yang kami campur dengan daging untuk beliau. [Maka orang-orang sekitar mendengar Rasulullah saw. ada di rumah saya]. Datanglah beberapa orang laki-laki dari desa itu dan mereka berkumpul. Salah seorang dari mereka berkata, &#8216;Dimanakah Malik bin Dukhaisyin atau Ibnu Dukhsyun?&#8217; Sebagian mereka menjawab, &#8216;Dia itu orang munafik, tidak mencintai Allah dan Rasul-Nya.&#8217; Rasulullah saw lalu bersabda, Janganlah kamu berkata demikian. Bukankah kamu telah melihatnya telah mengucapkan, &#8216;Tiada Tuhan melainkan Allah&#8217; yang dengan ucapan itu ia mengharapkan ridha Allah?&#8217; Ia berkata, &#8216;Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.&#8217; [Adapun kami], sesungguhnya kami melihat wajah dan nasihatnya kepada orang-orang munafik. Rasulullah saw lalu bersabda, &#8216;Sesungguhnya, Allah mengharamkan neraka terhadap orang yang mengucapkan, &#8216;Tiada tuhan melainkan Allah, karena mengharapkan keridhaan Allah.&#8217;&#8221;</p>
<p>[Mahmud berkata, "Aku lalu menceritakan hal ini kepada suatu kaum yang di antaranya terdapat Abu Ayyub, yang menemani Rasulullah saw dalam peperangan yang mengantarkannya gugur di sana. Yazid bin Muawiyah sedang berkuasa atas mereka di negeri Rum. Abu Ayyub mengingkari hal itu atas aku. Ia berkata, 'Demi Allah, aku tidak mengira Rasulullah akan bersabda seperti yang engkau ceritakan itu.' Aku merasakan hal itu sebagai sesuatu yang besar. Aku menetapkan diriku karena Allah supaya menerimaku, sehingga aku selesai perang, untuk menanyakan hal itu kepada Itban bin Malik r.a-jika aku dapat menjumpainya ketika masih hidup-di masjid kaumnya. Aku menutup (selesai perang). Aku lalu ber-talbiyah untuk haji atau umrah, kemudian aku pergi hingga sampai di Madinah, kemudian aku datang ke perkampungan bani Salim, ternyata dia adalah seorang tua yang tunanetra, yang sedang shalat mengimami kaumnya. Setelah dia usai salam dari shalatnya, aku mengucapkan salam kepadanya dan aku beritahukan jati diriku, kemudian aku tanyakan kepadanya tentang hadits itu. Dia lalu menceritakannya kepadaku sebagaimana dahulu ia menceritakannya kepadaku kali pertama." 2/56]</p>
<p>Ibnu Syihab berkata, &#8220;Aku bertanya kepada al-Hushain bin Muhammad al Anshari-salah seorang dari bani Salim dan termasuk salah seorang anggota pasukan infanteri-tentang hadits Mahmud bin ar-Rabi&#8217; (diatas), lalu ia membenarkan hal itu.&#8221;</p>
<p>Bab Ke-47: Mendahulukan Yang Kanan dalam Memasuki Masjid dan Lain-Lain</p>
<p>Abdullah bin Umar memulai dengan kakinya yang kanan, sedangkan bila keluar, ia memulainya dengan kakinya yang kiri.[35]</p>
<p>238. Aisyah berkata, &#8220;Nabi Muhammad saw suka sekali mendahulukan yang kanan sebisa mungkin dalam semua urusannya, seperti dalam bersuci, menyisir rambut, dan memakai terompah.&#8221;</p>
<p>Bab Ke-48: Apakah Boleh Menggali Kubur Kaum Musyrikin di Zaman Jahiliah dan Mempergunakan Tempat Itu Sebagai Masjid?</p>
<p>Nabi Muhammad saw bersabda, &#8220;Allah melaknat orang Yahudi karena mereka membangun tempat-tempat ibadah di kuburan-kuburan para nabi mereka.&#8221;</p>
<p>Juga dibencinya shalat di kuburan.</p>
<p>Umar melihat Anas bin Malik shalat di sisi kuburan dan berseru, &#8220;Kuburan! Kuburan!&#8221; Beliau tidak menyuruh mengulangi shalatnya.[36]</p>
<p>239. Anas r.a. berkata, &#8220;Nabi Muhammad saw datang ke Madinah. Beliau turun di Madinah kawasan atas, di suatu perkampungan yang disebut bani Amr bin Auf. Nabi Muhammad saw tinggal di tempat mereka selama empat belas malam. Beliau lalu mengirimkan (utusan) kepada orang-orang bani Najjar. Mereka datang dengan menyandang pedang. Seolah-olah aku melihat Nabi Muhammad saw di atas kendaraan beliau, Abu Bakar mengiringi beliau, dan orang-orang bani Najjar di sekeliling beliau, sehingga beliau meletakkan kendaraan beliau di halaman rumah Abu Ayyub. Beliau suka menunaikan shalat di mana saja sewaktu tiba waktu shalat dan beliau shalat di tempat menderumnya kambing. [Kemudian sesudah itu, aku mendengar dia berkata, 'Beliau shalat di tempat menderumnya kambing, sebelum dibangunnya masjid.'] (Dalam satu riwayat: Kemudian) beliau menyuruh membangun masjid dan beliau minta dipanggilkan orang-orang bani Najjar, lalu beliau bersabda, &#8216;Berapakah harga kebunmu ini?&#8217; Mereka menjawab, &#8216;Tidak. Demi Allah, kami tidak meminta harganya kecuali kepada Allah ta&#8217;ala.&#8217; Anas berkata, &#8216;Di kebun itu terdapat apa yang aku katakan kepadamu, yaitu kuburan orang-orang musyrik, juga terdapat reruntuhan dan terdapat pohon kurma. Nabi Muhammad saw. lalu memerintahkan supaya kuburan orang-orang musyrik itu digali, kemudian reruntuhan itu diratakan, dan pohon-pohon kurma ditebang. Mereka menjajarkan batang-batang pohon kurma di arah kiblat masjid. Kedua ambang pintu dibuat dari batu. Mereka memindahkan batu-batu seraya bersyair rajaz dan Nabi bersama mereka sambil berkata (dalam satu riwayat: bersama mereka mengucapkan), (&#8220;Ya Allah, tiada kebaikan kecuali kebaikan akhirat, maka ampunilah orang-orang Anshar dan Muhajirin.&#8217;)&#8221;</p>
<p>Bab Ke-49: Shalat di Kandang Kambing</p>
<p>(Aku berkata, &#8220;Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya sebagian dari hadits Anas di muka.&#8221;)</p>
<p>Bab Ke-50: Shalat di Tempat Pembaringan (Ladang-Ladang) Unta</p>
<p>240. Nafi&#8217; berkata, &#8220;Aku melihat Ibnu Umar shalat menghadap untanya dan ia berkata, &#8216;Aku melihat Nabi Muhammad saw melakukannya.&#8217;&#8221;</p>
<p>Bab Ke-51: Orang yang Shalat di Depan Tungku Pemanasan atau Api atau Hal-Hal Lain Yang Disembah Orang, Tetapi Dia Memaksudkan Shalatnya Semata-mata untuk Allah</p>
<p>Anas berkata bahwa Nabi Muhammad saw bersabda, &#8220;Neraka ditampakkan kepadaku ketika aku sedang shalat&#8221;[37]</p>
<p>(Aku berkata, &#8220;Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya bagian dari hadits Ibnu Abbas yang akan disebutkan pada Kitab ke-16 &#8216;al-Kusuf&#8217;, Bab ke-9.&#8221;)</p>
<p>Bab Ke-52: Dibencinya Shalat di Kuburan</p>
<p>241. Ibnu Umar berkata bahwa Nabi Muhammad saw bersabda, &#8220;Lakukanlah sebagian shalatmu (selain shalat fardhu, yakni shalat sunnah) di rumahmu dan janganlah kamu jadikan rumahmu itu sebagai kuburan (bukan tempat shalat).&#8221;</p>
<p>Bab Ke-53: Shalat di Tempat Tempat Reruntuhan Gempa dan Bekas Azab</p>
<p>Diriwayatkan bahwa Ali tidak menyukai shalat di tempat bekas reruntuhan gempa di Babil.[38]</p>
<p>(Aku berkata, &#8220;Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ibnu Umar yang akan disebut kan pada Mtab ke-60 &#8216;al-Anbiya&#8217;, Bab ke17.&#8221;)</p>
<p>Bab Ke-54: Shalat di Gereja atau Candi (Tempat Ibadah Agama Selain Islam)</p>
<p>Umar berkata, &#8220;Kami tidak memasuki gereja-gerejamu karena patung-patung dan gambarnya itu.&#8221;[39]</p>
<p>Ibnu Abbas shalat di dalam biara (tempat ibadah agama lain) kecuali biara yang ada patung di dalamnya.[40]</p>
<p>(Aku berkata, &#8220;Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnad-nya hadits Aisyah yang akan disebutkan pada Kitab ke-23 &#8216;al-Janaiz&#8217;, Bab ke-62.&#8221;)</p>
<p>Bab Ke-55:</p>
<p>242. Aisyah dan Abdullah bin Abbas (Ibnu Abbas) berkata, &#8220;Ketika Rasulullah saw menghadapi kematian, beliau melemparkan selendang pada muka beliau. Ketika selendang itu menutupi muka beliau, beliau membukanya seraya bersabda dalam keadaan demikian, &#8216;Laknat (kutukan) Allah atas orang-orang Yahudi dan Nasrani karena mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid (tempat ibadah).&#8217;&#8221; Beliau mempertakutkan akan apa yang mereka perbuat.[41]</p>
<p>243. Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, &#8220;Semoga Allah melaknat orang-orang Yahudi karena mereka membangun tempat-tempat ibadah di atas kuburan nabi-nabi mereka.&#8221;</p>
<p>Bab Ke-56: Sabda Nabi Muhammad saw., &#8220;Bumi Itu Dijadikan untukku Sebagai Tempat Shalat dan Alat Bersuci (Tayamum).&#8221;[42]</p>
<p>(Aku berkata, &#8220;Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Jabir yang tersebut pada nomor 186 di muka.&#8221;)</p>
<p>Bab Ke-57: Tidurnya Seorang Wanita di Masjid</p>
<p>244. Aisyah berkata bahwa seorang budak perempuan hitam milik suatu perkampungan Arab yang sudah mereka merdekakan, tetapi masih suka bersama mereka, berkata, &#8220;Seorang anak perempuan kecil yang mengenakan selendang merah dari kulit keluar kepada mereka. Diletakkannya atau jatuh darinya dan lewatlah seekor burung rajawali dan burung itu mengira selendang yang jatuh itu sebagai daging, lantas dipungut nya. Mereka mencari selendang itu, namun tidak ditemukan, lalu mereka menuduhku. Mereka mencarinya sehingga mereka mencari di kemaluanku. (Dalam satu riwayat: Mereka lalu menyiksaku sampai mereka mencari di kemaluanku, 4/235). Demi Allah, sungguh aku berdiri bersama mereka [sedang aku masih dalam kesedihan], tiba-tiba burung rajawali itu lewat [hingga sejajar dengan kepala kami] lantas menjatuhkan selendang itu. Selendang itu jatuh di antara mereka [lalu mereka mengambilnya]. Aku berkata, &#8216;Itulah selendang yang kamu tuduh aku mengambilnya, padahal aku sama sekali tidak mengambilnya. Inilah dia!&#8217; Perempuan itu mengatakan bahwa ia datang kepada Rasulullah saw dan masuk Islam. Aisyah berkata, &#8216;Perempuan itu mempunyai kemah atau bilik dari tumbuh-tumbuhan di masjid. Perempuan itu datang dan bercerita kepadaku. Tidaklah dia duduk di tempatku melainkan ia mengatakan, &#8216;Hari selendang adalah sebagian dari keajaiban Tuhan kita. Ketahuilah, bahwasanya Tuhan menyelamatkan aku dari negara kafir.&#8217; Aku bertanya kepada perempuan itu, &#8216;Mengapakah ketika kamu duduk bersamaku mesti kamu ucapkan kalimat ini?&#8217; Perempuan itu lalu menceritakan cerita-cerita ini.&#8217;&#8221;</p>
<p>Bab Ke-58: Tidurnya Orang Laki-Laki di Masjid</p>
<p>Anas berkata, &#8220;Beberapa orang dari suku Ukal datang kepada Nabi Muhammad saw., kemudian mereka bertempat di teras masjid.&#8221;[43]</p>
<p>Abdur Rahman bin Abu Bakar berkata, &#8220;Orang-orang Ahlush Shuffah (orang-orang yang berdiam di teras masjid) itu adalah orang-orang fakir.&#8221;[44]</p>
<p>245. Abu Hurairah berkata, &#8220;Aku melihat ada tujuh puluh orang dari Ahlush Shuffah, tiada seorang pun di antara mereka itu yang mempunyai selendang. Mereka hanya memiliki izar (kain panjang) atau lembaran-lembaran kain yang diikat seputar leher mereka. Di antara lembaran kain itu ada yang hanya sampai pada separo betis dan ada yang sampai pada kedua mata kaki, dan mereka menyatukannya dengan tangan mereka, karena khawatir aurat mereka terlihat&#8221;</p>
<p>Bab Ke-59: Shalat Ketika Datang dari Bepergian</p>
<p>Ka&#8217;ab bin Malik berkata, &#8220;Apabila Nabi Muhammad saw. pulang dari bepergian, beliau terlebih masuk ke masjid, lalu shalat di sana.&#8217;&#8221;[45]</p>
<p>(Aku berkata, &#8220;Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya potongan dari hadits Jabir yang akan disebutkan pada Kitab ke-34 &#8216;al-Buyu&#8221;, Bab ke-34.&#8221;)</p>
<p>Bab Ke-60: Apabila Masuk Masjid Hendaklah Shalat Dua Rakaat</p>
<p>246. Abu Qatadah as-Salami berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, &#8220;Apabila salah seorang di antaramu masuk masjid, hendaklah ia shalat dua rakaat sebelum duduk.&#8221; (Dalam satu riwayat: &#8220;Janganlah ia duduk sehingga shalat dua rakaat.&#8221; 2/51)</p>
<p>Bab Ke-61: Hadats di Dalam Masjid</p>
<p>(Aku berkata, &#8220;Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya bagian dari hadits Abu Hurairah yang tersebut pada Kitab ke-10 &#8216;al-Adzan&#8217;, Bab ke-30.&#8221;)</p>
<p>Bab Ke-62: Membangun Masjid</p>
<p>Abu Said berkata, &#8220;Atap masjid terbuat dari pelepah-pelepah pohon kurma.&#8221;[46]</p>
<p>Umar menyuruh membangun masjid dan berkata, &#8220;Lindungilah manusia (yang berjamaah di dalamnya) dari hujan. Jangan sekali-kali diwarnai merah atau kuning karena hal itu dapat menyebabkan orang-orang tergoda (tidak khusuk).&#8221;[47]</p>
<p>Anas mengatakan, &#8220;Banyak orang yang akan bermegah-megahan dalam mendirikan masjid, tetapi mereka tidak memakmurkannya (meramaikannya) melainkan sedikit&#8221;[48]</p>
<p>Ibnu Abbas berkata, &#8220;Sesungguhnya, kalian akan bersungguh-sungguh menghiasi masjid-masjid kalian seperti orang-orang Yahudi dan Kristen menghiasi (gereja dan rumah ibadah mereka).&#8221;[49]</p>
<p>247. Abdullah (bin Umar) berkata bahwa masjid pada zaman Rasulullah saw dibangun dengan batu bata, atapnya dengan pelepah korma, dan tiangnya dengan batang pohon korma. Abu Bakar r.a. tidak menambahnya sedikit pun. Umar r.a. menambahnya dan membangun masjid seperti bangunan di masa Rasulullah saw dengan batu bata dan pelepah korma, dan mengganti tiangnya dengan kayu. Selanjutnya, Utsman r.a. mengubahnya dan melakukan penambahan yang banyak. Ia membangun dindingnya dengan batu yang diukir dan dibuat pola tertentu. Ia menjadikan tiang nya dari batu yang diukir dan atapnya dari kayu jati.</p>
<p>Bab Ke-63: Tolong-menolong dalam Membangun (Memakmurkan) Masjid. Firman Allah, &#8220;Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka. Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut kepada (siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.&#8221; (at-Taubah: 17-18)</p>
<p>248. Ikrimah berkata, &#8220;Ibnu Abbas berkata kepadaku dan kepada anakku, yaitu Ali, &#8216;Berangkatlah kamu berdua ke rumah Abu Sa&#8217;id, lalu dengarlah apa yang diceritakannya.&#8217; Kami berdua pergi kepadanya dan kami dapati dia [dan saudaranya, 3/207] sedang dalam kebun membersihkan kebun itu. [Setelah melihat kami, dia datang] lalu diambilnya selendangnya dan ia duduk dengan berpegang lutut. Dia mulai bercerita kepada kami hingga sampai menyebutkan pembangunan masjid. Ia berkata, &#8216;Kami dahulu membawa [batu bata masjid] satu demi satu dan Ammar membawa dua-dua batu bata, lalu Nabi Muhammad saw melihatnya dan beliau menghilangkan debu darinya (dalam satu riwayat: beliau mengusap debu dari kepalanya) seraya bersabda, &#8216;Kasihan Ammar, ia akan dibunuh oleh golongan yang zalim, padahal ia mengajak mereka ke surga, sedangkan mereka mengajaknya ke neraka.&#8217; Ammar menjawab, &#8216;Aku berlindung kepada Allah dari fitnah-fitnah itu.&#8217;&#8221;</p>
<p>Bab Ke-64: Meminta Pertolongan Kepada Tukang Kayu dan Ahli Bangunan untuk Mendirikan Tiang-Tiang Mimbar dan Masjid</p>
<p>249. Jabir berkata bahwa seorang wanita berkata, &#8220;Wahai Rasulullah, dapatkah aku membuatkan sesuatu untukmu yang dapat engkau duduk di atasnya karena aku mempunyai seorang budak yang merupakan seorang tukang kayu?&#8221; Beliau bersabda, &#8220;Jika kamu mau, bolehlah.&#8221; Perempuan itu lalu membuatkan tempat duduk yang berupa mimbar.</p>
<p>Bab Ke-65: Orang yang Mendirikan Masjid</p>
<p>250. Ubaidillah al-Khaulani mendengar ucapan Utsman bin Affan r.a. ketika ia mendengar perkataan orang-orang di kala membangun masjid Rasulullah saw., &#8220;Sesungguhnya, kamu telah berbuat banyak dan sesungguhnya aku mendengar Rasulullah saw bersabda, &#8216;Barang siapa yang membangun masjid-Bukair berkata, &#8216;Aku kira beliau bersabda&#8217;-karena mengharapkan keridhaan Allah, Allah akan membangunkan untuknya yang seperti itu di surga.&#8217;&#8221;</p>
<p>Bab Ke-66: Memegang Mata Panah dengan Tangan Sewaktu Lewat di Masjid</p>
<p>251. Jabir bin Abdullah berkata, &#8220;Seorang laki-laki lewat di masjid sambil membawa panah [dengan menampakkan mata panah/bagian tajamnya 8/190] lalu Rasulullah saw bersabda kepadanya, &#8216;Peganglah mata panahnya [jangan sampai menggores orang muslim].&#8217; [Dia menjawab, 'Ya, aku laksanakan.']&#8221;</p>
<p>Bab Ke-67: Lewat di Masjid</p>
<p>252. Abu Musa berkata bahwa Nabi Muhammad saw bersabda, &#8220;Barangsiapa yang lewat pada sesuatu dari masjid-masjid kami atau pasar kami dengan anak panah, hendaklah ia pegang mata panahnya; janganlah ia melukai muslim dengan telapaknya.&#8221; (Dalam satu riwayat: &#8220;Jangan sampai ada sesuatu darinya yang menimpa salah seorang muslim.&#8221; 8/90)</p>
<p>Bab Ke-68: Bersyair di Dalam Masjid</p>
<p>253. Abu Salamah bin Abdurrahman bin Auf mendengar Hassan bin Tsabit al Anshari meminta kesaksian kepada Abu Hurairah r.a. (dan dari jalan Said ibnul Musayyab, berkata, &#8220;Umar lewat di masjid dan Hasan sedang bersenandung. Hassan berkata (kepada Umar yang memelototinya), &#8216;Aku pernah bersenandung (bersyair) di dalamnya, sedangkan di sana ada orang yang lebih baik daripada engkau.&#8217; Hassan lalu menoleh kepada Abu Hurairah seraya berkata, 4/79), ['Hai Abu Hurairah, 7/109], aku meminta kepadamu dengan nama Allah, apakah kamu mendengar Rasulullah saw. bersabda, &#8216;Wahai Hassan, jawablah dari Rasulullah saw (dalam satu riwayat: jawablah dariku). &#8216;Wahai Allah, kuatkanlah ia dengan ruh suci (Jibril).&#8217; Abu Hurairah menjawab, &#8216;Ya.&#8217;&#8221;</p>
<p>Bab Ke-69: Orang-Orang yang Bermain Tombak (Anggar) di Dalam Masjid</p>
<p>(Aku berkata, &#8220;Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Aisyah yang tercantum pada Kitab ke-12 &#8216;al-Idaini&#8217;, Bab ke-2.&#8221;)</p>
<p>Bab Ke-70: Menyebutkan Jual Beli di Atas Mimbar di Dalam Masjid</p>
<p>(Aku berkata, &#8220;Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnad nya hadits Aisyah dalam masalah pemerdekaan Barirah yang tercantum pada Kitab ke-24 &#8216;al-Buyu&#8221;, Bab ke-73.&#8221;)</p>
<p>Bab Ke-71: Menagih Utang dan Memberi Ketetapan di Masjid</p>
<p>254. Ka&#8217;ab bin Malik berkata bahwa ia beperkara utang dengan [Abdullah, 3/ 92] Ibnu Abi Hadrad [al-Aslami] [pada masa Rasulullah saw., 1/121] di masjid, [lalu ia mendesaknya, kemudian keduanya bersitegang]; suara keduanya keras hingga terdengar oleh Rasulullah saw. yang sedang berada di rumah beliau. Beliau keluar menemui keduanya sehingga terbukalah tirai kamar beliau. Beliau memanggil [Ka'ab bin Malik, 3/ 172], &#8220;Hai, Ka&#8217;ab.&#8221; Ia menjawab, &#8220;Ya, wahai Rasulullah.&#8221; Beliau bersabda, &#8220;Lunasilah sebagian dari utangmu ini.&#8221; Beliau memberi isyarat kepadanya [dengan tangan beliau], yakni separonya. Ia menjawab, &#8216;Telah aku lakukan, wahai Rasulullah&#8221;. Beliau bersabda, &#8220;Berdirilah, lalu tunaikanlah.&#8221; [Lalu ia mengambil separo utangnya dan membiarkan yang separonya].</p>
<p>Bab Ke-72: Menyapu Masjid, Memunguti Sobekan Kain, Kotoran, dan Kayu-kayuan Harum-haruman</p>
<p>255. Abu Hurairah berkata bahwa seorang laki-laki hitam atau wanita hitam penyapu masjid [aku tidak mengetahuinya kecuali seorang wanita],[50] lalu ia meninggal [sedang Nabi Muhammad saw. tidak mengetahui kematiannya, 2/ 92], lalu beliau menanyakannya [seraya bersabda, "Apa yang dilakukan orang-orang itu?"] Mereka manjawab, &#8220;Meninggal.&#8221; Nabi Muhammad saw menimpali, &#8220;Mengapa kamu tidak memberitahukan kepadaku? Tunjukkanlah kuburannya (dengan dhamir/kata ganti &#8220;hi&#8221; (untuk laki-laki)) kepadaku!&#8221; Atau, beliau bersabda, &#8220;Atau kuburannya (dengan kata ganti untuk wanita).&#8221; Beliau lalu datang ke kuburnya dan menshalatinya.</p>
<p>Bab Ke-73: Diharamkannya Jual Beli Khamr di Masjid</p>
<p>256. Aisyah r.a. berkata, &#8220;Ketika diturunkan ayat-ayat [terakhir, 3/11] dari surah al-Baqarah tentang riba, Nabi Muhammad saw keluar ke masjid. Beliau lalu membacakannya kepada orang-orang dan beliau mengharamkan berdagang khamr&#8221;</p>
<p>Bab Ke-74: Pelayan-Pelayan untuk Kepentingan Masjid</p>
<p>Ibnu Abbas berkata mengenai ayat (tentang perkataan istri Imran), &#8220;Aku nazarkan untuk Mu (ya Allah) anak yang ada dalam kandunganku,&#8221; ialah untuk melayani kepentingan masjid.[51]</p>
<p>(Aku berkata, &#8220;Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Abu Hurairah yang telah disebutkan dua bab sebelumnya.&#8221;)</p>
<p>Bab Ke-75: Orang yang Menjadi Tawanan atau Bermasalah Diikat di Masjid</p>
<p>(Aku berkata, &#8220;Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Abu Hurairah pada Kitab ke 21 &#8216;al-Amal fish Shalah&#8217;, Bab ke-10.&#8221;)</p>
<p>Bab Ke-76: Mandi Ketika Masuk Islam dan Mengikat Seorang Tawanan di Masjid</p>
<p>Syuraih memerintahkan agar orang yang bermasalah ditahan (diikat) di tiang masjid.[52]</p>
<p>(Aku berkata, &#8220;Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Abu Hurairah yang tercantum pada Kitab ke-64 &#8216;al-Maghazi&#8217;, Bab ke-72.&#8221;)</p>
<p>Bab Ke-77: Membuat Kemah di Masjid untuk Orang-Orang Sakit dan Lainnya</p>
<p>(Aku berkata, &#8220;Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Aisyah yang tertera pada Kitab ke-64 &#8216;al-Maghazi&#8217;, Bab ke-72.&#8221;)</p>
<p>Bab Ke-78: Memasukkan Unta ke dalam Masjid Karena Sakit</p>
<p>Ibnu Abbas berkata, &#8220;Nabi Muhammad saw melakukan thawaf dengan menaiki unta.&#8221;[53]</p>
<p>257. Ummu Salamah berkata, &#8220;Aku mengadu kepada Rasulullah saw bahwa aku sakit. Beliau bersabda, &#8216;Thawaflah di belakang orang-orang dan kamu naik kendaraan.&#8217; (Dalam satu riwayat darinya: Rasulullah saw bersabda kepadanya-ketika itu beliau berada di Mekah dan hendak keluar-, &#8216;Apabila telah diiqamati shalat subuh, berthawaflah di atas unta mu ketika orang-orang sedang shalat, 2/65-1661). Aku lalu thawaf dan Rasulullah saw sedang shalat di samping Baitullah seraya membaca ath-Thuur wa Kitaabim Masthuur.&#8221; [Ummu Salamah tidak melakukan shalat sehingga dia keluar.]</p>
<p>Bab Ke-79: Pintu Kecil dan Jalan Berlalu dalam Masjid</p>
<p>258. Abu Sa&#8217;id al-Khudri berkata, &#8220;Nabi Muhammad saw berkhotbah [kepada orang banyak, 4/253] dan beliau bersabda, &#8216;Sesungguhnya, Allah menyuruh hamba Nya untuk memilih antara [diberi kemewahan] dunia dan apa yang ada di sisi-Nya, lalu hamba itu memilih apa yang ada di sisi Allah.&#8217; Abu Bakar r.a. menangis [dan berkata, 'Kami tebus dirimu dengan bapak dan ibu kami.'] Aku berkata dalam hati, &#8216;Apakah yang menjadikan Tuan ini menangis? Jika Allah menyuruh seorang hamba untuk memilih antara [diberi kemewahan] dunia dan apa yang ada di sisi-Nya, lalu hamba itu memilih apa yang ada di sisi Allah [dan dia berkata, 'Kami tebus dirimu dengan bapak dan ibu kami,'] sedang Rasulullah saw itu adalah seorang hamba, padahal Abu Bakar itu adalah orang yang terpandai di antara kami.&#8217; Beliau bersabda, &#8216;Wahai Abu Bakar, janganlah kamu menangis. Sesungguhnya, orang yang paling dermawan atasku dalam berteman dan hartanya adalah Abu Bakar. Seandainya aku boleh mengambil khalil (kekasih dalam arti khusus) [selain Tuhanku] dari umatku, niscaya aku mengambil Abu Bakar. Akan tetapi, persaudaraan (dalam satu riwayat: kekhalilan) Islam dan kasih sayangnya tidak membiarkan pintu (dalam satu riwayat: pintu kecil) di masjid melainkan ditutup kecuali pintu (dalam riwayat lain: pintu kecil) Abu Bakar.&#8217;&#8221;</p>
<p>259. Ibnu Abbas r.a. berkata, &#8220;Rasulullah saw di kala sakit, yang beliau wafat dalam sakit itu, keluar dengan mengikat kepala beliau dengan potongan kain. Beliau duduk di mimbar lalu beliau memuji dan menyanjung Allah, kemudian beliau bersabda, &#8216;Tidak ada seorang pun yang lebih dermawan terhadapku dalam jiwa dan hartanya daripada Abu Bakar bin Abu Quhafah. Seandainya aku mengambil kekasih dari manusia niscaya aku mengambil Abu Bakar sebagai kekasih. Akan tetapi, persahabatan Islam lebih utama.&#8217; (Dalam satu riwayat: &#8216;Akan tetapi, dia adalah saudaraku dan sahabatku.&#8217; 4/19].&#8221; Dalam riwayat lain dari Ibnu Abbas, &#8220;Adapun ucapan Rasulullah saw., &#8216;Seandainya aku mengambil kekasih dari umat ini niscaya aku ambil Abu Bakar, tetapi persaudaraan Islam itu lebih utama atau lebih baik,&#8217; maka beliau mengucapkan yang demikian ini karena beliau menempatkan atau menetapkan Abu Bakar sebagai ayah (mertua).&#8217; 8/7) &#8216;Tutuplah dariku setiap pintu di masjid ini kecuali pintu Abu Bakar.&#8217;&#8221;</p>
<p>Bab Ke-80: Pintu-Pintu dan Kunci-Kunci Ka&#8217;bah serta Masjid</p>
<p>260. Ibnu Juraij berkata, &#8220;Ibnu Abi Mulaikah berkata kepadaku, &#8216;Wahai Abdul Malik, aku ingin kamu telah melihat masjid Ibnu Abbas dan pintu-pintunya.&#8217;&#8221;</p>
<p>(Aku berkata, &#8220;Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ibnu Umar yang tercantum pada Kitab ke-56 &#8216;al-Jihad&#8217;, Bab ke-127.&#8221;)</p>
<p>Bab Ke-81: Masuknya Orang Musyrik ke Dalam Masjid</p>
<p>(Aku berkata, &#8220;Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnad-nya hadits Abu Hurairah yang tercantum pada Kitab ke-64 &#8216;al-Maghazi&#8217;, Bab ke-72.&#8221;)</p>
<p>Bab Ke-82: Mengeraskan Suara di Dalam Masjid</p>
<p>261. Saib bin Yazid berkata, &#8220;Aku sedang berdiri di masjid, lalu ada seorang laki-laki melempariku dengan beberapa batu kecil. Aku melihat ke arahnya, ternyata orang itu adalah Umar ibnul Khaththab. Ia berkata, &#8216;Pergilah, kemudian bawalah kedua orang itu ke sini!&#8217; Aku membawa kedua orang itu kepadanya. Umar berkata, &#8216;Siapakah Anda berdua ini?&#8217; Atau, ia berkata, &#8216;Dari manakah Anda berdua ini?&#8217; Mereka menjawab, &#8216;Kami penduduk Thaif.&#8217; Umar berkata, &#8216;Seandainya Anda berdua penduduk negeri ini niscaya aku pukul Anda. Pantaskah Anda berdua mengeraskan suara di masjid Rasulullah saw.?&#8217;&#8221;</p>
<p>Bab Ke-83: Pertemuan-Pertemuan Keagamaan Berbentuk Lingkaran dan Duduk di Dalam Masjid</p>
<p>262. Ibnu Umar berkata, &#8220;Seorang laki-laki bertanya kepada Nabi Muhammad saw ketika beliau [sedang di masjid] di atas mimbar [berkhotbah kepada orang banyak], &#8216;Bagaimanakah shalat malam itu?&#8217; Beliau bersabda, &#8216;Dua (rakaat) dua (rakaat). Jika takut kedahuluan subuh, shalat satu rakaat sebagai witir shalat yang sudah dikerjakan.&#8217; Dia berkata, &#8216;Jadikanlah akhir shalatmu di malam hari itu witir karena Nabi Muhammad saw memerintahkan demikian.&#8217;&#8221; (Dalam satu riwayat: &#8220;Apabila engkau takut didahului masuknya waktu subuh, shalatlah satu rakaat sebagai witir bagi shalat yang sudah engkau kerjakan.&#8221;)</p>
<p>Bab Ke-84: Berbaring di Masjid dan Menjulurkan Kaki</p>
<p>263. Paman Abbad bin Tamim pernah melihat Rasulullah saw. telentang di masjid sambil meletakkan salah satu kaki beliau di atas yang lain</p>
<p>264. Sa&#8217;id ibnul Musayyab berkata &#8220;Umar dan Utsman juga pernah melakukan hal yang seperti itu.&#8221;</p>
<p>Bab Ke-85: Masjid yang Ada di Jalan dengan Tidak Mengganggu Orang Banyak</p>
<p>Al Hasan, Ayyub, dan Malik mengatakan begitu (yakni masjid di pinggir jalan hendaknya tidak mengganggu orang banyak).[54]</p>
<p>Bab Ke-86: Shalat di Masjid Pasar</p>
<p>Ibnu Aun shalat di masjid yang ada di rumahnya dan pintunya ditutup sehingga tidak dapat dimasuki oleh orang banyak.[55]</p>
<p>265. Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Nabi Muhammad saw., bersabda, &#8220;Shalat jamaah melebihi atas shalat seseorang di rumahnya dan di pasarnya dengan dua puluh lima derajat. Sesungguhnya, salah seorang di antaramu apabila berwudhu dengan baik lalu datang ke masjid hanya karena mau shalat, tidaklah ia melangkahkan satu langkah melainkan Allah menaikkan derajatnya satu derajat dan menghapuskan satu kesalahan darinya sampai ia masuk masjid. Apabila ia masuk masjid, ia (dinilai dan diberi pahala seperti) berada dalam shalat selama ia bertahan karenanya dan malaikat memohonkan rahmat selama ia di dalam majelisnya yang mana ia shalat di dalamnya dan malaikat itu mengucapkan, &#8216;Ya Allah, ampunilah ia, ya Allah sayangilah ia,&#8217; selama ia belum berhadats.&#8217;&#8221;</p>
<p>Bab Ke-87: Menyilangkan Jari-Jari Tangan (Memasukkan Sela-Sela Jari Tangan Satu ke Dalam Sela-Sela Jari Tangan yang Lain) di Dalam Masjid dan di Luar Masjid</p>
<p>266. Ibnu Umar atau Ibnu Amr berkata, &#8220;Nabi Muhammad saw menjalinkan jari-jari beliau.&#8221;[56]</p>
<p>Abdullah (Ibnu Umar)[57] berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, &#8220;Wahai Abdullah bin Amr, bagaimana keadaanmu kalau kamu berada di antara endapan (ampas) orang-orang seperti ini&#8230;?&#8221;[58]</p>
<p>267. Abu Musa r.a. berkata bahwa Nabi Muhammad saw bersabda, &#8220;Sesungguhnya, orang mukmin bagi orang mukmin lain seperti sebuah bangunan di mana sebagiannya menguatkan sebagian yang lain,&#8221; dan beliau menjalinkan (menyilangkan) jari-jarinya.</p>
<p>268. Abu Hurairah r.a. berkata, &#8220;Rasulullah saw shalat bersama kami dalam salah satu dari dua shalat petang hari [zhuhur atau ashar, 2/66].&#8221; Ibnu Sirin berkata, &#8220;Abu Hurairah menyebutkan jenis shalat itu, tetapi aku lupa.&#8221; Muhammad (bin Sirin) berkata, &#8220;[Dugaan berat aku adalah shalat ashar, 2/66, dan dalam satu riwayat: zhuhur, 7/85].&#8221;[59] Abu Hurairah berkata, &#8220;Beliau shalat bersama kami dua rakaat, kemudian beliau salam, lalu beliau berdiri pada kayu yang melintang di [bagian depan] masjid, kemudian beliau bersandar padanya seolah-olah beliau marah. Beliau meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri, menjalin antara jari-jari, dan meletakkan pipi kanan di atas bagian luar dari telapak tangan kiri beliau, dan keluarlah orang-orang yang bersegera dari pintu masjid. Mereka berkata, &#8216;[Apakah] shalat sudah diringkas?&#8217; Adapun di kalangan kaum itu [pada waktu itu] ada Abu Bakar dan Umar, tetapi mereka takut untuk menyatakannya. Di antara kaum itu ada seorang laki-laki yang kedua tangannya panjang yang disebut (dalam satu riwayat: Nabi Muhammad saw biasa memanggilnya) Dzulyadain, dia berkata, &#8216;Wahai Rasulullah, apakah engkau lupa ataukah memang shalat sudah diqashar (diringkas)?&#8217; Beliau bersabda, &#8216;Aku tidak lupa dan tidak pula shalat itu diqashar.&#8217; [Dzulyadain berkata, 'Bahkan, engkau lupa, wahai Rasulullah.'] Beliau bertanya (kepada orang banyak), &#8216;Apakah (benar) sebagaimana yang dikatakan oleh Dzulyadain?&#8217; Mereka menjawab, &#8216;Ya.&#8217; [Beliau bersabda, 'Benar Dzulyadain.' Beliau lalu berdiri], kemudian beliau maju dan shalat akan apa yang tertinggal [dalam satu riwayat: dua rakaat lagi, 8/133], kemudian beliau salam, kemudian beliau bertakbir dan sujud seperti sujudnya atau lebih lama. Beliau lalu mengangkat kepala dan bertakbir, kemudian bertakbir dan sujud seperti sujudnya atau lebih lama. Beliau lalu mengangkat kepala dan bertakbir.&#8217;&#8221; Bisa jadi, mereka bertanya, &#8220;Kemudian beliau salam?&#8221;[60] Ibnu Sirin berkata, &#8220;Kami mendapat informasi bahwa Imran bin Hushain berkata, &#8216;Beliau lalu salam.&#8217;&#8221;</p>
<p>Bab Ke-88: Masjid-Masjid yang Terdapat di Jalan-Jalan Madinah dan Tempat-Tempat yang Ditempati Nabi Muhammad saw. Shalat</p>
<p>269. Musa bin Uqbah berkata, &#8220;Aku pernah melihat Salim bin Abdullah mencari-cari beberapa tempat di jalan tertentu, lalu ia shalat di tempat-tempat itu dan memberitahukan bahwa ayahnya pernah shalat di tempat-tempat itu dan ayahnya pernah melihat Nabi Muhammad saw. shalat di tempat itu.&#8221; Nafi&#8217; memberitahukan kepadaku dari Ibnu Umar bahwasanya ia mengerjakan shalat di tempat-tempat itu. Aku bertanya pula kepada Salim, maka aku tidak mengetahuinya melainkan cocok dengan apa yang diterangkan Nafi&#8217; mengenai letak tempat tempat itu seluruhnya, hanya saja mereka berbeda pendapat mengenai masjid yang terletak di Syaraf ar-Rauha&#8217;.&#8221;</p>
<p>270. Nafi&#8217; berkata bahwa Abdullah memberitahukan kepadanya bahwa Rasulullah saw. singgah di bani Dzul Khulaifah ketika beliau umrah dan ketika beliau haji, di bawah pohon yang berduri di kawasan masjid yang ada di Dzul Khulaifah. Apabila beliau pulang dari suatu peperangan atau ketika pulang dari haji atau umrah, beliau turun dari perut suatu lembah (yakni Wadil Atiq) di jalan itu. Apabila beliau muncul dari suatu lembah, beliau menderumkan (unta) di tempat mengalirnya air di tebing lembah timur. Beliau tiba di sana di malam hari sampai masuk waktu subuh, tidak di masjid yang ada batunya dan tidak pula di bukit yang ada masjidnya. Di sana, ada celah di mana Abdullah shalat; di lembahnya ada tumpukan pasir, di sana Rasulullah saw shalat, lalu tumpukan pasir itu hanyut oleh banjir di tempat mengalirnya air, sehingga menimbuni tempat yang dipakai shalat oleh Abdullah.</p>
<p>271. Abdullah berkata bahwa Nabi Muhammad saw shalat di masjid kecil yang lebih kecil daripada masjid di dataran tinggi Rauha&#8217;. Abdullah mengetahui tempat yang dipergunakan shalat oleh Nabi Muhammad saw. Ia berkata, &#8220;Di sana, di sebelah kananmu ketika kamu berdiri shalat di masjid itu. Masjid itu di pinggir sebelah kanan, manakala kamu pergi ke Mekah. Jaraknya dengan masjid besar adalah satu lemparan batu atau yang semisal itu.&#8221;</p>
<p>272. Abdullah bin Umar shalat di lembah Irquzh-Zhibyah yang ada di ujung Rauha&#8217;. Lembah itu penghabisan ujungnya di pinggir jalan di bawah masjid yang terletak di antaranya dengan ujung Rauha&#8217; di kala kamu pergi ke Mekah dan di sana telah dibangun masjid. Abdullah tidak shalat di masjid itu. Ia meninggalkannya dari sebelah kiri dan sebelah belakangnya, dan ia shalat di mukanya sampai ke lembah itu sendiri. Abdullah pulang dari Rauha&#8217; dan ia tidak shalat zhuhur sehingga tiba di tempat itu, lalu dia shalat zhuhur di sana. Apabila ia datang dari Mekah, jika ia melewatinya sesaat sebelum subuh atau di akhir waktu sahur, ia singgah sehingga ia shalat subuh di sana.</p>
<p>273. Abdullah berkata bahwa Nabi Muhammad saw. singgah di bawah pohon besar dekat Ruwaitsah di sebelah kanan jalan, yakni jalan tembus di tempat yang rendah dan datar sehingga ia keluar dari bukit kecil di bawah dua mil dari Ruwaitsah. Bagian atasnya telah runtuh dan gugur ke jurangnya dan bagian itu ada di belakang, dan di belakang itu pula terdapat banyak puing.</p>
<p>274. Nafi&#8217; berkata bahwa Nabi Muhammad saw shalat di ujung saluran air di belakang Araj.[61] Ketika Anda pergi ke dataran tinggi, di sebelah masjid itu terdapat dua atau tiga kuburan. Di atas kuburan itu ada batu nisan, di sebelah kanan jalan, di sebelah bebatuan jalan, di antara bebatuan itu Abdullah pulang dari Araj setelah matahari tergelincir di siang hari, lalu ia shalat zhuhur di masjid itu.</p>
<p>275. Abdullah bin Umar bercerita kepadanya (Nafi&#8217;) bahwa Rasulullah saw singgah di pohon-pohon di kiri jalan di tempat saluran dekat Harsya.[62] Saluran itu lekat dengan (terletak di) ujung Harsya, antara dia dengan jalan dekat dari sasaran panah (jaraknya sekitar dua per tiga mil). Abdullah shalat di bawah pohon yang terdekat dari jalan dan itulah pohon yang paling tinggi.</p>
<p>276. Dulu, Nabi Muhammad saw singgah di saluran yang terdekat dengan Zhahran[63] ke arah Madinah ketika beliau singgah di Shafrawat.[64] Beliau singgah di saluran itu di sebelah kiri jalan di kala kamu pergi ke Mekah. Antara tempat tinggal Rasulullah saw dan jalan itu hanya satu lemparan batu.</p>
<p>277. Abdullah bin Umar bercerita kepada Nafi&#8217; bahwasanya Nabi Muhammad saw singgah di Dzi Thuwa[65] dan bermalam sampai pagi. Beliau lalu shalat subuh ketika tiba di Mekah. Mushalla Rasulullah saw di bukit yang besar. Di sana, tidak ada masjid yang dibangun, tetapi mushalla nya di bawah bukit yang besar.</p>
<p>278. Abdullah bin Umar bercerita kepada Nafi&#8217; bahwa Nabi Muhammad saw. menghadap dua tempat masuk gunung yang terletak di antara gunung itu dan gunung tinggi yang menuju Ka&#8217;bah. Beliau memposisikan masjid yang dibangun di sana berada di sebelah kiri masjid yang berada di ujung bukit Mushalla (tempat shalat) Nabi Muhammad saw lebih bawah darinya di atas bukit hitam, yang jaraknya dari bukit itu sekitar sepuluh hasta. Beliau lalu shalat dengan menghadap dua tempat rnasuk yang ada antara kamu dan Ka&#8217;bah.[66]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kumpulanhadist.arisyi-design.web.id/shahih-bukhari/kitab-shalat-bag-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kitab Shalat bag. 1</title>
		<link>http://kumpulanhadist.arisyi-design.web.id/shahih-bukhari/kitab-shalat-bag-1/</link>
		<comments>http://kumpulanhadist.arisyi-design.web.id/shahih-bukhari/kitab-shalat-bag-1/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Mar 2011 17:00:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>azimah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Shahih Bukhari]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab Shalat]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kumpulanhadist.arisyi-design.web.id/shahih-bukhari/kitab-shalat-bag-1/</guid>
		<description><![CDATA[Bab Ke-1: Bagaimana Shalat Diwajibkan di Malam Isra&#8217; Ibnu Abbas berkata, &#8220;Ketika Abu Sufyan menceritakan tentang Heraklius kepadaku, ia berkata, &#8216;Nabi Muhammad saw menyuruh kami mendirikan shalat, berlaku jujur, dan menjaga diri dari segala sesuatu yang terlarang.&#8217;&#8221;[1] 192. Anas bin Malik r.a. berkata, &#8220;Abu Dzarr r.a. menceritakan bahwasanya Nabi Muhammad saw bersabda, &#8216;Dibukalah atap rumahku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bab Ke-1: Bagaimana Shalat Diwajibkan di Malam Isra&#8217;</p>
<p>Ibnu Abbas berkata, &#8220;Ketika Abu Sufyan menceritakan tentang Heraklius kepadaku, ia berkata, &#8216;Nabi Muhammad saw menyuruh kami mendirikan shalat, berlaku jujur, dan menjaga diri dari segala sesuatu yang terlarang.&#8217;&#8221;[1]</p>
<p>192. Anas bin Malik r.a. berkata, &#8220;Abu Dzarr r.a. menceritakan bahwasanya Nabi Muhammad saw bersabda, &#8216;Dibukalah atap rumahku dan aku berada di Mekah. Turunlah Jibril a.s. dan mengoperasi dadaku, kemudian dicucinya dengan air zamzam. Ia lalu membawa mangkok besar dari emas, penuh dengan hikmah dan keimanan, lalu ditumpahkan ke dalam dadaku, kemudian dikatupkannya. Ia memegang tanganku dan membawaku ke langit dunia. Ketika aku tiba di langit dunia, berkatalah Jibril kepada penjaga langit, &#8216;Bukalah.&#8217; Penjaga langit itu bertanya, &#8216;Siapakah ini?&#8217; Ia (jibril) menjawab, &#8216;[Ini, 4/106] Jibril.&#8217; Penjaga langit itu bertanya, &#8216;Apakah Anda bersama seseorang?&#8217; Ia menjawab, &#8216;Ya, aku bersama Muhammad saw.&#8217; Penjaga langit itu bertanya, &#8216;Apakah dia diutus?&#8217; Ia menjawab, &#8216;Ya.&#8217; Ketika penjaga langit itu membuka, kami menaiki langit dunia. Tiba tiba ada seorang laki-laki duduk di sebelah kanannya ada hitam-hitam (banyak orang) dan disebelah kirinya ada hitam-hitam (banyak orang). Apabila ia memandang ke kanan, ia tertawa, dan apabila ia berpaling ke kiri, ia menangis, lalu ia berkata, &#8216;Selamat datang Nabi yang saleh dan anak laki-laki yang saleh.&#8217; Aku bertanya kepada Jibril, &#8216;Siapakah orang ini?&#8217; Ia menjawab, &#8216;Ini adalah Adam dan hitam-hitam yang di kanan dan kirinya adalah adalah jiwa anak cucunya. Yang di sebelah kanan dari mereka itu adalah penghuni surga dan hitam-hitam yang di sebelah kainya adalah penghuni neraka.&#8217; Apabila ia berpaling ke sebelah kanannya, ia tertawa, dan apabila ia melihat ke sebelah kirinya, ia menangis, sampai Jibril menaikkan aku ke langit yang ke dua, lalu dia berkata kepada penjaganya, &#8216;Bukalah.&#8217; Berkatalah penjaga itu kepadanya seperti apa yang dikatakan oleh penjaga pertama, lalu penjaga itu membukakannya.&#8221;</p>
<p>Anas berkata, &#8220;Beliau menyebutkan bahwasanya di beberapa langit itu beliau bertemu dengan Adam, Idris, Musa, Isa, dan Ibrahim shalawatullahi alaihim, namun beliau tidak menetapkan bagaimana kedudukan (posisi) mereka, hanya saja beliau tidak menyebutkan bahwasanya beliau bertemu dengan Adam di langit dunia dan Ibrahim di langit keenam.&#8221; Anas berkata, &#8220;Ketika Jibril a.s. bersama Nabi Muhammad saw melewati Idris, Idris berkata, &#8216;Selamat datang Nabi yang saleh dan saudara laki-laki yang saleh.&#8217; Aku (Rasulullah) bertanya, &#8216;Siapakah ini?&#8217; Jibril menjawab, &#8216;Ini adalah Idris.&#8217; Aku melewati Musa lalu ia berkata, &#8216;Selamat datang Nabi yang saleh dan saudara yang saleh.&#8217; Aku bertanya, &#8216;Siapakah ini?&#8217; Jibril menjawab, &#8216;Ini adalah Musa.&#8217; Aku lalu melewati Isa dan ia berkata, &#8216;Selamat datang saudara yang saleh dan Nabi yang saleh.&#8217; Aku bertanya, &#8216;Siapakah ini?&#8217; Jibril menjawab, &#8216;Ini adalah Isa.&#8217; Aku lalu melewati Ibrahim, lalu ia berkata, &#8216;Selamat datang Nabi yang saleh dan anak yang saleh.&#8217; Aku bertanya,&#8217;Siapakah ini?&#8217; Jibril menjawab, &#8216;Ini adalah Ibrahim as..&#8217;&#8221;<br />
<span id="more-265"></span><br />
193 dan 194. Ibnu Syihab berkata, &#8220;Ibnu Hazm memberitahukan kepadaku bahwa Ibnu Abbas dan Abu Habbah al-Anshari berkata bahwa Nabi Muhammad saw bersabda, &#8216;Jibril lalu membawaku naik sampai jelas bagiku Mustawa. Di sana, aku mendengar goresan pena-pena.&#8217; Ibnu Hazm dan Anas bin Malik berkata bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda, &#8216;Allah Azza wa Jalla lalu mewajibkan atas umatku lima puluh shalat (dalam sehari semalam). Aku lalu kembali dengan membawa kewajiban itu hingga kulewati Musa, kemudian ia (Musa) berkata kepadaku, &#8216;Apa yang diwajibkan Allah atas umatmu?&#8217; Aku menjawab, &#8216;Dia mewajibkan lima puluh kali shalat (dalam sehari semalam).&#8217; Musa berkata, &#8216;Kembalilah kepada Tuhanmu karena umatmu tidak kuat atas yang demikian itu.&#8217; Allah lalu memberi dispensasi (keringanan) kepadaku (dalam satu riwayat: Maka aku kembali dan mengajukan usulan kepada Tuhanku), lalu Tuhan membebaskan separonya. &#8216;Aku lalu kembali kepada Musa dan aku katakan, &#8216;Tuhan telah membebaskan separonya.&#8217; Musa berkata, &#8216;Kembalilah kepada Tuhanmu karena sesungguhnya umatmu tidak kuat atas yang demikian itu. &#8216;Aku kembali kepada Tuhanku lagi, lalu Dia membebaskan separonya lagi. Aku lalu kembali kepada Musa, kemudian ia berkata, &#8216;Kembalilah kepada Tuhanmu karena umatmu tidak kuat atas yang demikian itu.&#8217; Aku kembali kepada Tuhan, kemudian Dia berfirman, &#8216;Shalat itu lima (waktu) dan lima itu (nilainya) sama dengan lima puluh (kali), tidak ada firman yang diganti di hadapan Ku.&#8217; Aku lalu kembali kepada Musa, lalu ia berkata, &#8216;Kembalilah kepada Tuhanmu.&#8217; Aku jawab, &#8216;(Sungguh) aku malu kepada Tuhanku.&#8217; Jibril lalu pergi bersamaku sampai ke Sidratul Muntaha dan Sidratul Muntaha itu tertutup oleh warna-warna yang aku tidak mengetahui apakah itu sebenarnya? Aku lalu dimasukkan ke surga. Tiba-tiba di sana ada kail dari mutiara dan debunya adalah kasturi.&#8217;&#8221;</p>
<p>195. Aisyah r.a. berkata, &#8220;Allah Ta&#8217;ala memfardhukan shalat ketika difardhukan-Nya dua rakaat-dua rakaat, baik di rumah maupun dalam perjalanan. Selanjutnya, dua rakaat itu ditetapkan shalat dalam perjalanan dan shalat di rumah ditambah lagi (rakaatnya).&#8221; (Dalam satu riwayat: Kemudian Nabi Muhammad saw. hijrah, lalu difardhukan shalat itu menjadi empat rakaat dan dibiarkan shalat dalam bepergian sebagaimana semula, 4/267).</p>
<p>Bab Ke-2: Wajibnya Shalat dengan Mengenakan Pakaian dan Firman Allah Ta&#8217;ala, &#8220;Pakailah pakaianmu yang indah pada setiap (memasuki) masjid.&#8221; (al-A&#8217;raaf: 31), dan Orang yang Mendirikan Shalat dengan Memakai Satu Helai Pakaian</p>
<p>Salamah bin Akwa&#8217; meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad saw bersabda, &#8220;Hendaknya ia mengancingnya meskipun dengan duri.&#8221; Akan tetapi, isnad-nya perlu mendapatkan perhatian.[2]</p>
<p>Diterangkan pula mengenai orang yang shalat dengan pakaian yang dipergunakan untuk melakukan hubungan seksual (adalah diperbolehkan) asalkan dia melihat tidak ada kotoran di situ.[3]</p>
<p>Nabi Muhammad saw memerintahkan agar seseorang tidak melakukan thawaf (mengelilingi Ka&#8217;bah) dengan telanjang.[4]</p>
<p>Bab Ke-3: Mengikatkan Kain pada Leher pada Waktu Shalat</p>
<p>Abu Hazim berkata mengenai hadits yang diterima dari Sahl sebagai berikut: &#8220;Para sahabat melakukan shalat bersama Nabi Muhammad saw. sambil mengikatkan sarung ke leher mereka.&#8221;[5]</p>
<p>196. Muhammad al-Munkadir berkata, &#8220;Jabir shalat dengan mengenakan kain yang ia ikatkan di tengkuknya (dalam satu riwayat: kain yang ia selimutkan, 1/97), sedangkan pakaiannya ia letakkan di atas gantungan. [Setelah selesai], ada orang yang bertanya, &#8216;Mengapa Anda melakukan shalat dengan mengenakan selembar kain saja [sedang pakaianAnda dilepas]?&#8217; Jabir menjawab, &#8216;Aku melakukannya untuk memperlihatkannya kepada orang tolol seperti kamu, [aku melihat Nabi Muhammad saw melakukan shalat seperti ini]. Mana ada di antara kita yang mempunyai dua helai pakaian di masa Nabi Muhammad saw.?&#8217;&#8221;</p>
<p>Bab Ke-4: Shalat dalam Selembar Pakaian dengan Cara Menyelimutkannya</p>
<p>Az-Zuhri berkata mengenai haditsnya, &#8220;Orang yang menyelimutkan itu maksudnya ialah menyilangkan antara kedua ujung pakaiannya pada lehernya dan ini meliputi kedua pundaknya.&#8221;[6]</p>
<p>Ummu Hani&#8217; berkata, &#8220;Nabi Muhammad saw menutupi tubuhnya dengan sehelai pakaian dan menyilangkan kedua ujungnya pada kedua pundaknya.&#8217;&#8221;[7]</p>
<p>197. Umar bin Abu Salamah berkata bahwa dia pernah melihat Nabi Muhammad saw. shalat dengan mengenakan sehelai pakaian di rumah Ummu Salamah dan beliau menyilangkan kedua ujungnya pada kedua pundaknya.</p>
<p>198. Ummu Hani&#8217; binti Abi Thalib r.a. berkata, &#8220;Aku pergi ke tempat Rasulullah saw. pada tahun dibebaskannya Mekah, lalu aku menemui beliau sedang mandi [di rumahnya, 2/38] dan Fatimah menutupinya, lalu aku memberi salam kepada beliau. Beliau bertanya, &#8216;Siapa itu?&#8217; Aku menjawab, &#8216;Aku, Ummu Hani&#8217; binti Abu Thalib.&#8217; Beliau berkata, &#8216;Selamat datang, Ummu Hani&#8217;.&#8217; Setelah selesai mandi (dan dari jalan Ibnu Abi Laila: Tidak ada seorang pun yang menginformasikan kepada kami bahwa dia melihat Rasulullah saw melakukan shalat dhuha selain Ummu Hani&#8217; karena ia menyebutkan bahwa beliau, 5/93) berdiri lalu shalat delapan rakaat dengan berselimut satu kain. Ketika beliau berpaling (salam/selesai), aku berkata, &#8216;Wahai Rasulullah, putra ibuku [Ali bin Abi Thalib] menduga bahwa dia membunuh seseorang yang telah aku beri upah, yaitu Fulan bin Huraibah.&#8217; Rasulullah saw bersabda, &#8216;Kami telah memberi upah orang yang telah kamu beri upah, wahai Ummu Hani&#8217;.&#8217; Ummu Hani&#8217; berkata, &#8216;Itulah pengorbanan.&#8217;&#8221;</p>
<p>199. Abu Hurairah berkata bahwa ada orang yang bertanya kepada Rasulullah saw tentang shalat dalam satu kain. Rasulullah saw bersabda, &#8220;Apakah masing-masing dari kamu mempunyai dua kain?&#8221;</p>
<p>Bab Ke-5: Apabila Seseorang Shalat dengan Mengenakan Selembar Pakaian, Hendaknya Mengikatkan Pada Lehernya</p>
<p>200. Abu Hurairah berkata, &#8220;Rasulullah saw. bersabda, &#8216;Salah seorang di antaramu janganlah shalat di dalam satu kain yang di bahunya tidak ada apa-apanya.&#8217;&#8221;</p>
<p>201. Abu Hurairah berkata, &#8220;Aku bersaksi bahwasanya aku mendengar Rasulullah saw bersabda, &#8216;Barangsiapa shalat dengan selembar kain, hendaklah ia mengikatkan antara kedua ujungnya.&#8217;&#8221;</p>
<p>Bab Ke-6: Apabila Pakaian Sempit</p>
<p>202. Sa&#8217;id bin Harits berkata, &#8220;Kami bertanya kepada Jabir bin Abdullah perihal shalat dengan mengenakan selembar pakaian, lalu Jabir berkata, &#8216;Aku keluar bersama Nabi Muhammad saw dalam sebagian perjalanan beliau. Pada suatu malam, aku datang karena suatu urusanku, maka aku mendapatkan beliau sedang shalat dan aku hanya memakai selembar kain, maka aku melipatnya dan aku shalat di samping beliau. Setelah beliau selesai, beliau bersabda, &#8216;Ada apakah engkau pergi malam-malam, hai Jabir?&#8217; Aku lalu memberitahukan tentang keperluanku. Ketika aku selesai, beliau bertanya, &#8216;Lipatan apakah yang aku lihat ini?&#8217; Aku menjawab, &#8216;Kain, yakni sempit.&#8217; Beliau bersabda, &#8216;Jika luas, selimutkanlah, dan jika sempit, bersarunglah dengannya!&#8217;&#8221;</p>
<p>203. Sahl bin Sa&#8217;ad berkata, &#8220;Orang-orang yang shalat bersama Nabi Muhammad saw mengikatkan kain mereka [karena sempit, 2/63] pada tengkuk-tengkuk mereka seperti keadaan anak-anak. Beliau bersabda kepada para wanita, &#8216;Janganlah kamu mengangkat kepalamu sehingga orang-orang laki-laki benar-benar duduk.&#8217;&#8221;</p>
<p>Bab Ke-7: Shalat dengan Mengenakan Jubah Buatan Syam</p>
<p>Al-Hasan berkata bahwa tidak apa apa shalat dengan mengenakan pakaian-pakaian yang ditenun oleh kaum Majusi (yakni para penyembah api).[8]</p>
<p>Ma&#8217;mar berkata, &#8220;Aku melihat az-Zuhri memakai pakaian Yaman yang dicelup dengan air kencing.&#8221;[9]</p>
<p>Ali shalat dengan pakaian baru yang belum dicuci.[10]</p>
<p>204. Mughirah bin Syu&#8217;bah berkata, &#8220;Aku bersama Nabi Muhammad saw. [pada suatu malam, 7/37] dalam suatu perjalanan (dalam satu riwayat: dan aku tidak mengetahui melainkan dia berkata, &#8216;dalam Perang Tabuk&#8217;, 5/136), [lalu beliau bertanya, 'Apakah engkau membawa air?' Aku jawab, 'Ya.' Beliau lalu turun dari kendaraannya], kemudian bersabda, &#8216;Wahai Mughirah, ambillah bejana kecil (terbuat dari kulit)!&#8217; Aku lalu mengambilnya. Rasulullah saw pergi sehingga beliau tertutup dariku [pada malam yang gelap gulita], kemudian beliau menunaikan hajatnya [Beliau lalu datang dan aku temui beliau dengan aku bawakan air, 3/231], dan beliau mengenakan jubah buatan negeri Syam [dari kulit/wol]. Beliau lalu mengeluarkan tangan dari lengannya, namun sempit, [maka beliau tidak dapat mengeluarkan kedua lengan beliau darinya]. Beliau lalu mengeluarkan tangan dari bawahnya dan aku menuangkan atasnya [bejana itu] [ketika beliau telah selesai menunaikan hajatnya, 1/85]. Beliau lalu berwudhu seperti berwudhu untuk shalat, [maka beliau berkumur-kumur, memasukkan air ke hidung dan mengeluarkannya kembali, membasuh mukanya] [dan kedua tangannya] (dalam satu riwayat: kedua lengannya), [kemudian beliau mengusap kepalanya], [lalu aku menunduk untuk melepaskan khuf beliau, kemudian beliau bersabda, 'Biarkanlah, karena aku memasukkannya dalam keadaan suci,'] dan beliau mengusap khuf (semacam sepatu) beliau kemudian shalat&#8221;</p>
<p>Bab Ke-8: Tidak Disukai Telanjang Sewaktu Shalat dan Lainnya</p>
<p>205. Jabir bin Abdullah r.a. menceritakan bahwasanya Rasulullah saw. memindahkan batu Ka&#8217;bah bersama mereka dan beliau mengenakan kain (sarung). Abbas, paman beliau, berkata kepada beliau, &#8220;Wahai anak saudaraku, bagaimana kalau engkau lepaskan kain engkau dan engkau kenakan atas kedua bahu karena ada batu.&#8221; Jabir berkata, &#8220;Beliau lalu melepaskannya dan mengenakannya di atas kedua bahu beliau. Beliau lalu jatuh pingsan. Sesudah itu, beliau tidak pernah telanjang. Mudah-mudahan Allah memberikan rahmat kepada beliau dan memberikan keselamatan.&#8221;*1*)</p>
<p>Bab Ke-9: Shalat dengan Baju, Celana, Celana Tak Berkaki (Selongsongan), dan Pakaian Luar (Mantel dan Sebagainya)</p>
<p>206. Abu Hurairah berkata, &#8220;Seorang laki-laki pergi ke tempat Nabi Muhammad saw., lalu bertanya kepada beliau mengenai shalat dengan mengenakan selembar pakaian saja. Beliau bersabda, &#8216;Apakah masing-masing kamu mempunyai dua helai pakaian?&#8217;&#8221;</p>
<p>Bertanya pula seorang laki-laki kepada Umar ibnul Khaththab mengenai shalat dengan sehelai pakaian juga. Umar berkata, &#8220;Kalau Allah memberi kamu kelapangan (kekayaan), manfaatkanlah kelapangan itu dengan memakai pakaian secukupnya. Shalatlah dengan memakai sarung dan baju, memakai sarung dan kemeja, celana dan mantel, celana agak pendek dan kemeja.&#8221; Aku kira beliau juga mengatakan, &#8220;Boleh mengenakan kain di bawah lutut dan selendang.&#8221;</p>
<p>Bab Ke-10: Apa yang Menutupi Aurat</p>
<p>(Aku berkata, &#8220;Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ibnu Umar yang tersebut pada nomor 89 di muka.&#8221;)</p>
<p>Bab Ke-11: Shalat Tanpa Mengenakan Selendang</p>
<p>(Aku berkata, &#8220;Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Jabir yang tersebut pada nomor 196 di muka.&#8221;)</p>
<p>Bab Ke-12: Mengenai Apa yang Disebutkan Perihal Paha</p>
<p>Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Jarhad, dan Muhammad bin Jahsy bahwa Nabi Muhammad saw bersabda, &#8220;Paha itu adalah aurat.&#8221;[11]</p>
<p>Anas bin Malik berkata, &#8220;Nabi Muhammad saw menyingkapkan (sarungnya) sehingga tampaklah pahanya.&#8221; [12]</p>
<p>Hadits Anas itu lebih kokoh sanadnya, namun hadits Jarhad (yang menyebutkan bahwa paha itu aurat) adalah lebih hati-hati, dapat mengeluarkan kita (kaum muslimin) dari perselisihan pendapat.</p>
<p>Abu Musa berkata, &#8220;Nabi Muhammad saw. menutup pahanya sewaktu Utsman bin Affan masuk.&#8221;[13]</p>
<p>Zaid bin Tsabit berkata, &#8220;Allah menurunkan wahyu kepada Rasul-Nya pada waktu pahanya di atas pahaku, lalu ia terasa begitu beratnya padaku sampai aku khawatir (paha beliau) akan meremukkan pahaku.&#8221;[14]</p>
<p>(Aku berkata, &#8220;Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya sebagian besar hadits Anas yang tersebut pada Kitab ke-55 &#8220;al-Washaayaa&#8221;, Bab ke-26.&#8217;)</p>
<p>Bab Ke-13: Berapa Ukuran Pakaian Seorang Perempuan dalam Shalat?</p>
<p>Ikrimah berkata, &#8220;Apabila perempuan dapat menutup seluruh tubuhnya dengan selembar pakaian, itu sudah cukup.&#8221;[15]</p>
<p>207. Aisyah berkata, &#8220;Rasulullah saw biasa melakukan shalat subuh [ketika hari masih gelap, 1/211] dan orang-orang mukmin perempuan hadir bersama beliau, kepala mereka terselubung dalam kerudung, kemudian mereka pulang ke rumah mereka masing-masing [ketika telah usai melakukan shalat], dan tidak seorang pun yang mengenal mereka karena masih gelap], [atau sebagian mereka tidak mengenal sebagian yang lain, 1/211]&#8220;[16]</p>
<p>Bab Ke-14: Apabila Seseorang Shalat dengan Pakaian yang Bergambar dan Melihat Gambar-Gambar Itu Sewaktu Shalat</p>
<p>208. Aisyah r.a. berkata bahwa Nabi Muhammad saw shalat pada kain hitam persegi empat yang mempunyai beberapa tanda (lukisan). Beliau memandangnya sekilas. Ketika beliau selesai, beliau bersabda, &#8220;Bawa pergilah kain-kainku (yang ada tanda-tandanya) ini kepada Abu Jahm [bin Hudzaifah bin Ghanim dari bani Adi bin Ka'ab][17] dan bawalah kepadaku kain tebal tanpa lukisan milik Abu Jahm karena kain yang berlukisan itu menjadikanku lengah dari shalatku tadi.&#8221; (Dalam satu riwayat, &#8220;Aku disibukkan oleh lukisan-lukisan ini.&#8221; 1/183)</p>
<p>(Dalam riwayat yang mu&#8217;allaq, &#8220;Aku melihat lukisannya ketika aku dalam shalat, dan aku takut terganggu olehnya.&#8221;)[18]</p>
<p>Bab Ke-15: Apabila Seseorang Shalat dengan Pakaian yang Bergambar Salib atau Foto-Foto, Apakah Shalatnya Batal? Dan Apa yang Dilarang Darinya?</p>
<p>209. Anas bin Malik berkata, &#8220;Aisyah mempunyai tirai (korden / penutup jendela) untuk menutupi sisi-sisi rumahnya, lalu Nabi saw bersabda [kepadanya, 7/66], &#8220;Singkirkanlah dariku tiraimu ini karena gambar-gambarnya tampak [kepadaku] di dalam shalatku.&#8221;</p>
<p>Bab Ke-16: Barang Siapa yang Shalat dengan Mengenakan Pakaian Oblong yang Terbuat dan Sutra Lalu Mencopotnya</p>
<p>210. Uqbah bin Amir berkata, &#8220;Dihadiahkan baju kurung sutra kepada Nabi Muhammad saw., lalu beliau mengenakannya dan shalat dengan memakainya. Beliau lalu berpaling dan melepaskannya dengan keras seperti orang yang benci kepadanya, lalu beliau bersabda, &#8216;Ini (sutra) tidak layak bagi orang-orang yang bertakwa.&#8217;&#8221;</p>
<p>Bab Ke-17: Shalat dengan Mengenakan Pakaian Berwarna Merah</p>
<p>211. Abu Juhaifah berkata, &#8220;Aku melihat (dalam satu riwayat: Aku dibawa kepada, 4/167) Rasulullah saw. [sedang beliau di saluran, 4/165] dalam kubah merah dari kulit [pada waktu tengah hari], dan aku melihat Bilal mengambil (dalam satu riwayat: keluar lalu azan untuk shalat, [lalu aku mengikuti gerakan mulutnya ke sana ke mari melakukan azan, l/156], kemudian dia masuk, lalu mengeluarkan sisa) air wudhu Rasulullah saw., dan aku melihat orang-orang bersegera terhadap air wudhu Rasul itu. Orang yang mendapatkan sedikit dari air itu, ia mengusapkannya pada dirinya, dan orang yang tidak mendapatkan sesuatu dari air itu, ia mengambil dari basah-basahan tangan temannya. Aku melihat Bilal [masuk, lalu] mengambil (dalam satu riwayat: mengeluarkan) tongkat panjang dan di pancangkannya [di hadapan Rasulullah saw., dan beliau melakukan shalat]. Nabi Muhammad saw keluar dengan pakaian merah tersingsingkan, [seolah-olah aku melihat sinar betisnya, lalu beliau menancapkan tongkat itu, kemudian melakukan shalat dengan orang-orang ke arah tongkat [yaitu shalat zhuhur dua rakaat dan ashar] dua rakaat, dan aku melihat manusia dan hewan [dalam satu riwayat: himar dan orang perempuan] melewati muka tongkat panjang itu. [Dan orang-orang pun berdiri, lantas mereka pegang kedua tangan beliau dan mereka usapkan ke wajah mereka." Abu Juhaifah berkata, "Aku lalu memegang tangan beliau dan aku letakkan di wajah aku, ternyata tangan beliau itu lebih dingin daripada salju dan lebih harum baunya daripada minyak wangi."]</p>
<p>Abu Abdillah berkata, &#8220;Al-Hasan menganggap tidak apa-apa bagi seseorang untuk shalat di atas salju dan jembatan meskipun kencing mengalir di bawahnya atau di atasnya atau di depannya, asalkan di sana terdapat sutrah (pembatas) antara orang tersebut dan kotoran itu.&#8221;[19]</p>
<p>Abu Hurairah juga pernah shalat di atas atap masjid (mengikuti) shalat imam.[20]</p>
<p>Ibnu Umar shalat di atas salju.[21]</p>
<p>Bab Ke-18: Shalat di Atas Genting (Atap), Mimbar, dan Kayu</p>
<p>212. Anas bin Malik berkata bahwa Rasulullah saw jatuh dari kudanya, lalu terlukalah kulit betisnya atau kulit bahunya (dalam satu riwayat: terluka kaki beliau, 2/229), dan beliau berjanji tidak akan pulang kepada istrinya selama sebulan. Beliau tinggal di kamar loteng yang diberi tangga dengan batang korma. Berdatanganlah para sahabat mengunjungi beliau. Beliau shalat bersama-sama mereka sambil duduk, sedangkan mereka shalat dengan berdiri. Setelah beliau memberi salam, beliau bersabda, &#8220;Imam itu dijadikan hanyalah semata-mata agar diikuti. Apabila ia sudah takbir, bertakbirlah kamu; apabila dia ruku, rukulah kamu; apabila dia sujud, sujudlah kamu. Apabila dia shalat dengan berdiri, shalatlah kamu dengan berdiri.&#8221; [Umar bertanya, "Apakah engkau sudah menceraikan istri-istrimu?" Nabi menjawab, 'Tidak, tetapi aku berjanji menjauhi mereka selama sebulan." 3/106]. Setelah hari yang kedua puluh sembilan, beliau turun dari kamar loteng itu [kemudian masuk menemui istri-istri beliau, 2/229]. Lalu para sahabat bertanya, &#8220;Wahai Rasulullah, bukankah engkau berjanji tidak akan pulang selama sebulan?&#8221; Beliau bersabda, &#8220;Sebulan itu dua puluh sembilan hari.&#8221;[22]</p>
<p>Bab Ke-19: Apabila Pakaian Seseorang yang Shalat Sewaktu Sujud Menyentuh Istrinya</p>
<p>213. Maimunah [binti al-Harits] berkata, &#8220;Rasulullah saw melakukan shalat dan aku berada sejajar dengan beliau (dalam satu riwayat: aku sedang tidur di samping beliau, 1/131), padahal aku sedang haid, (dalam satu riwayat: tempat tidurku sejajar dengan tempat shalat Nabi Muhammad saw.), dan kadang-kadang pakaian beliau menyentuhku apabila beliau sujud.&#8221; Maimunah menambahkan, &#8220;Beliau itu shalat di atas tikar kecil.&#8221;</p>
<p>Bab Ke-20: Shalat di Atas Tikar</p>
<p>Jabir dan Abu Sa&#8217;id pernah shalat di atas kapal dengan berdiri.[23]</p>
<p>Al-Hassan berkata, &#8220;Kalau tidak mengganggu sahabat-sahabat yang lain, Anda boleh shalat dengan berdiri dan berputar-putar dengan berputarnya (perahu). Kalau tidak bisa, bolehlah Anda shalat dengan duduk.&#8221;[24]</p>
<p>Bab Ke-22: Shalat di Atas Hamparan (Tempat Tidur)</p>
<p>Anas pernah shalat di atas tempat tidurnya.[25]</p>
<p>Anas berkata, &#8220;Kami pernah shalat dengan Nabi Muhammad saw dan salah seorang dari kami sujud di atas pakaian beliau.&#8221;[26]</p>
<p>214. Anas bin Malik r.a. berkata bahwa neneknya, Mulaikah, mengundang Rasulullah saw untuk memakan makanan yang dibuatnya untuk beliau, lalu beliau memakannya. Beliau lalu bersabda, &#8220;Berdirilah. Aku akan shalat untukmu.&#8221; Anas berkata, &#8220;Aku berdiri di tikar kami yang telah hitam karena lamanya dipakai. Aku memercikinya dengan air, lalu Rasulullah saw berdiri dan aku bersama anak yatim membuat shaf di belakang beliau, dan orang perempuan tua di belakang kami. Rasulullah saw shalat untuk kami dua rakaat, kemudian beliau pergi.&#8221;</p>
<p>Bab Ke-21: Shalat di Atas Tikar Kecil</p>
<p>(Aku berkata, &#8220;Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya bagian akhir hadits Maimunah yang tercantum pada nomor 213 di atas.&#8221;)</p>
<p>215. Aisyah istri Nabi Muhammad saw. berkata, &#8220;Aku tidur di hadapan Rasulullah saw dan kedua kakiku pada arah kiblat beliau [sedangkan beliau melakukan shalat, 2/61]. Apabila beliau sujud, beliau merabaku, maka aku tarik kedua kakiku. Apabila beliau berdiri, aku julurkan kedua kakiku.&#8221; Ia berkata, &#8220;Pada waktu itu, rumah-rumah tanpa lampu.&#8221; (Dalam satu riwayat: Rasulullah saw melakukan shalat, sedangkan Aisyah berada di antara beliau dan kiblat, di atas tempat tidur istrinya). (Dalam riwayat lain: Aisyah telentang di atas tempat tidur yang ditempati mereka berdua tidur, seperti telentangnya jenazah).</p>
<p>Bab Ke-23: Sujud di Atas Kain Pada Waktu Panas yang Teramat Terik</p>
<p>Al-Hasan berkata, &#8220;Orang-orang sujud di atas sorban-sorban mereka dan kopiah dengan kedua tangan di dalam lengan baju mereka (karena panas yang sangat</p>
<p>terik).&#8221;[27]</p>
<p>216. Anas bin Malik berkata, &#8220;Kami shalat bersama Nabi Muhammad saw. [ketika hari panas terik, 1/107 (dalam satu riwayat: sangat panas. Apabila salah seorang dari kami tidak bisa menempelkan wajahnya ke tanah, 2/161)], lalu salah seorang di antara kami meletakkan ujung pakaiannya di tempat sujud karena sangat (dalam satu riwayat: karena menjaga diri dari) panas.&#8221;</p>
<p>Bab Ke-24: Shalat dengan Mengenakan Sandal</p>
<p>217. Abu Maslamah Sa&#8217;id bin Yazid al Azdi berkata, &#8220;Aku bertanya kepada Anas bin Malik, &#8216;Apakah Nabi Muhammad saw. shalat pada kedua sandal beliau?&#8217; Ia menjawab, &#8216;Ya.&#8217;&#8221;</p>
<p>Bab Ke-25: Shalat dengan Mengenakan Khuf (Sepatu Tinggi)</p>
<p>218. Hamam ibnul-Harits berkata, &#8220;Aku melihat Jarir bin Abdullah kencing, kemudian berwudhu dan mengusap kedua khuf-nya (sepatu yang menutup mata kaki), kemudian ia berdiri dan shalat. Ia ditanya, lalu menjawab, &#8216;Aku melihat Rasulullah saw berbuat seperti ini.&#8217;&#8221; Ibrahim berkata, &#8220;Hal ini menjadikan mereka keheranan karena Jarir termasuk orang yang paling akhir (dari kalangan sahabat) yang masuk Islam.&#8221;</p>
<p>Bab Ke-26: Apabila Seseorang tidak Sujud dengan Sempurna</p>
<p>219. Hudzaifah pernah melihat seseorang melakukan shalat tanpa menyempurnakan ruku dan sujudnya. Setelah orang itu selesai shalat, Hudzaifah menegurnya, &#8220;Kamu tadi belum dapat dianggap telah melakukan shalat.&#8221; Perawi hadits ini menambahkan, &#8220;Aku kira, Hudzaifah berkata, &#8216;Seandainya kamu meninggal, tentulah kamu meninggal tidak di atas sunnah Muhammad saw.&#8217;&#8221;</p>
<p>Bab Ke-27: Menampakkan Ketiak dan Memisahkan Lengan dan Tubuh Pada Waktu Sujud</p>
<p>220. Abdullah bin Malik ibnu Buhainah r.a. berkata bahwa apabila Nabi Muhammad saw. shalat, beliau merenggangkan kedua tangan beliau sehingga tampak putihnya kedua ketiak beliau.</p>
<p>Bab Ke-28: Keutamaan Shalat Menghadap Kiblat</p>
<p>Hendaklah seseorang menghadapkan pula jari-jari kakinya ke kiblat. Demikian dikatakan oleh Abu Humaid dari Nabi Muhammad saw.[28]</p>
<p>211. Anas bin Malik r.a. berkata, &#8220;Rasulullah saw. bersabda, &#8216;Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sehingga mereka menyatakan, &#8216;Tidak ada tuhan kecuali Allah.&#8217; Apabila mereka sudah menyatakan demikian dan melakukan shalat seperti shalat kita, menghadap kiblat kita, dan menyembelih sembelihan seperti cara kita menyembelih, diharamkan atas kita darah dan harta mereka, kecuali dengan haknya, dan hisabnya terserah kepada Allah.&#8217;&#8221; (Dalam satu riwayat: &#8220;Maka ia adalah orang muslim yang mempunyai jaminan dari Allah dan Rasul Nya.&#8221;)</p>
<p>(Dalam suatu riwayat mu&#8217;allaq dari Humaid: Maimun bin Siyah bertanya kepada Anas bin Malik, &#8220;Wahai ayah Hamzah, apakah yang menjadikan haramnya darah dan harta seseorang (untuk diambil)?&#8221; Anas menjawab, &#8220;Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah, menghadap kiblat seperti kiblat kita, mengerjakan shalat seperti shalat kita, dan memakan sembelihan kita, dia adalah muslim, dia mempunyai hak sebagaimana orang muslim, dan mempunyai kewajiban sebagaimana orang muslim.&#8221;)</p>
<p>Bab Ke-29: Kiblatnya Penduduk Madinah dan Penduduk Syam serta Tidak Ada Kiblat di Sebelah Timur dan Barat, Mengingat Sabda Nabi Muhammad saw., &#8216;Janganlah kamu menghadap kiblat pada waktu buang air besar atau kencing, tetapi menghadaplah ke Timur atau ke Barat.[29]</p>
<p>(Aku katakan, &#8220;Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Abu Ayyub yang telah disebutkan pada nomor 97 di muka.&#8221;)</p>
<p>Bab Ke-30: Firman Allah Ta&#8217;ala, &#8220;Dan, jadikanlah sebagian maqam Ibrahim sebagai tempat shalat.&#8221; (al-Baqarah: 125)</p>
<p>222. Ibnu Abbas r.a. berkata, &#8220;Ketika Nabi Muhammad saw masuk di Baitullah, beliau berdoa dalam seluruh arah-arahnya dan beliau tidak shalat sampai beliau keluar darinya. Setelah beliau keluar, beliau melakukan shalat dua rakaat di arah Ka&#8217;bah dan bersabda, &#8216;Inilah kiblat itu.&#8217;&#8221;</p>
<p>Bab Ke-31: Menghadap ke Arah Kiblat (Ka&#8217;bah) di Mana Pun Berada</p>
<p>Abu Hurairah r.a. berkata, &#8220;Nabi Muhammad saw bersabda, &#8220;Menghadaplah ke kiblat dan bertakbirlah (yakni bertakbiratul ihram untuk memulai shalat).&#8221;[30]</p>
<p>223. Jabir berkata, &#8220;Nabi Muhammad saw. shalat di kendaraan beliau ke mana saja kendaraan itu menghadap. Akan tetapi, apabila beliau akan shalat fardhu, beliau turun dan menghadap kiblat&#8221;</p>
<p>224. Abdullah berkata, &#8220;Nabi saw. shalat [zhuhur dengan mereka, 7/227] [lima rakaat 2/65]. Setelah beliau salam, dikatakan kepada beliau, &#8216;Wahai Rasulullah, telah terjadi sesuatu dalam shalat?&#8217; (Dalam satu riwayat: &#8216;Apakah shalat telah ditambah? Dalam riwayat lain: &#8216;Apakah shalat telah diringkas atau terlupakan?) Beliau bersabda, &#8216;Apakah itu?&#8217; Mereka menjawab, &#8216;Engkau melakukan shalat lima rakaat.&#8217; Beliau lalu melipatkan kedua kaki dan menghadap kiblat, lalu sujud dua kali [sesudah salam], kemudian beliau salam lagi. Ketika beliau menghadapkan muka kepada kami, beliau bersabda, &#8216;Sesungguhnya, kalau terjadi sesuatu dalam shalat niscaya aku beritahukan kepadamu. Akan tetapi, aku adalah manusia seperti kamu; aku bisa lupa sebagaimana kamu lupa. Apabila aku lupa, ingatkanlah. Apabila salah seorang di antara kamu ragu-ragu dalam shalatnya, condonglah kepada yang benar, lantas hendaklah ia menyempurnakannya, kemudian mengucapkan salam, kemudian sujud dua kali.&#8217;&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kumpulanhadist.arisyi-design.web.id/shahih-bukhari/kitab-shalat-bag-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kitab Haid</title>
		<link>http://kumpulanhadist.arisyi-design.web.id/shahih-bukhari/kitab-haid/</link>
		<comments>http://kumpulanhadist.arisyi-design.web.id/shahih-bukhari/kitab-haid/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Jun 2010 10:17:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>azimah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Shahih Bukhari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kumpulanhadist.arisyi-design.web.id/?p=329</guid>
		<description><![CDATA[Firman Allah ta&#8217;ala, &#8220;Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah, &#8216;Haid itu adalah kotoran.&#8217; Oleh karena itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya, Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Firman Allah ta&#8217;ala, &#8220;Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah, &#8216;Haid itu adalah kotoran.&#8217; Oleh karena itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya, Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.&#8221; (al-Baqarah: 222)<br />
<span id="more-329"></span></p>
<h3>Bab Ke- 1: Bagaimana Permulaan Haid Itu dan Sabda Nabi Muhammad saw., &#8220;Ini merupakan suatu hal yang telah Allah tetapkan bagi anak cucu perempuan Adam.&#8221;[1]</h3>
<p>Sebagian ulama mengatakan bahwa haid pertama kali datang pada bani Israel.[2]</p>
<p>Abu Abdillah (Imam Bukhari) berkata, &#8220;Akan tetapi, apa yang disabdakan oleh Nabi Muhammad saw. lebih tepat.&#8221;</p>
<h3>Bab Ke-2: Perintah Kepada Kaum Wanita Apabila Sedang Haid</h3>
<p>(Aku berkata, &#8220;Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Aisyah yang tertera pada nomor 178.&#8221;)</p>
<h3>Bab Ke-3: Mencuci Kepala Suami dan Menyisir Rambutnya oleh Seorang Istri yang Haid</h3>
<p>167. Urwah pernah ditanya orang, &#8220;Bolehkah wanita haid melayaniku dan bolehkah wanita junub mendekatiku?&#8221; Urwah berkata, &#8220;Semuanya boleh bagiku, semuanya boleh melayaniku, dan tiada celanya. Aisyah telah menceriterakan kepadaku bahwa dia pernah menyisir rambut Rasulullah saw ketika dia sedang haid, padahal ketika itu Rasulullah saw sedang i&#8217;tikaf di masjid; beliau mendekatkan kepalanya kepadanya (Aisyah) dan dia (Aisyah) ada di dalam kamarnya, lalu ia menyisir beliau, padahal ia sedang haid.&#8221;</p>
<h3>Bab Ke-4: Lelaki Membaca Al-Qur&#8217;an di Pangkuan Istrinya, Sedang Istrinya Itu dalam Keadaan Haid</h3>
<p>Abu Wa&#8217;il mengutus pelayannya yang sedang haid supaya membawa (mengambil) Al-Qur&#8217;an dari Abu Razin dengan memegangnya pada gantungannya.[3]</p>
<p>168. Aisyah r.a. berkata, &#8220;Nabi Muhammad saw. bersandar di pangkuan aku, padahal aku sedang haid, kemudian beliau membaca Al-Qur&#8217;an.&#8221;</p>
<h3>Bab Ke-5: Orang yang Menamakan Nifas Itu Haid</h3>
<p>169. Ummu Salamah berkata, &#8220;Ketika aku bersama Nabi Muhammad saw. tidur-tiduran di kain hitam persegi empat (dalam satu riwayat: di lantai 1/83), tiba-tiba aku haid, lalu aku keluar dan mengambil pakaian haidku, lalu beliau bertanya, &#8216;[Mengapa kamu?, 2/233] Apakah kamu nifas?&#8217; Aku menjawab, &#8216;Ya.&#8217; Beliau lalu memanggilku, lalu aku tidur bersama beliau di lantai yang rendah.&#8221; [Ummu Salamah biasa mandi bersama Rasulullah saw dari satu bejana dan beliau suka menciumnya, padahal beliau sedang berpuasa.]</p>
<h3>Bab Ke-6: Memeluk Wanita yang Sedang Haid</h3>
<p>170. Aisyah berkata, &#8220;Salah seorang di antara kami apabila haid dan Nabi Muhammad saw ingin memeluknya, beliau menyuruhnya untuk berkain pada saat haidnya, kemudian beliau memeluknya&#8221; Aisyah berkata, &#8220;Siapakah diantaramu yang dapat mengendalikan syahwat nya sebagaimana Nabi Muhammad saw mengendalikan syahwat beliau?&#8221;</p>
<p>171. Maimunah berkata, &#8220;Apabila Rasulullah saw ingin menggauli (memeluk) seseorang di antara istri-istrinya yang sedang haid, beliau menyuruhnya supaya memakai izar (kain).&#8221;</p>
<h3>Bab Ke-7: Orang yang Haid Harus Meninggalkan Puasa</h3>
<p>(Aku berkata, &#8220;Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Abu Sa&#8217;id al-Khudri yang tersebut pada Kitab ke-24 &#8216;az-Zakat&#8217;, Bab ke-44.&#8221;)</p>
<h3>Bab Ke-8: Wanita Haid Boleh Melaksanakan Semua Manasik Haji Kecuali Thawaf di Masjidil Haram</h3>
<p>Ibrahim mengatakan, &#8216;Tidak apa-apa wanita yang haid membaca ayat Al-Qur an.&#8221;[4]</p>
<p>Ibnu Abbas berpendapat bahwa tidak apa-apa seorang junub menbaca Al-Qur&#8217;an.[5]</p>
<p>Nabi Muhammad saw selalu mengingat (menyebut) Allah di segala waktu.[6]</p>
<p>Ummu Athiyyah mengatakan, &#8220;Kami (para wanita) diperintahkan agar orang-orang yang dalam keadaan haid dari golongan kami mengucapkan takbir hari raya sebagaimana takbirnya kaum lelaki dan berdoa.&#8221;[7]</p>
<p>Ibnu Abbas berkata, &#8220;Aku diberitahu oleh Abu Sufyan bahwasanya Heraklius meminta surat Nabi Muhammad saw., lalu ia membacanya, tiba-tiba di dalamnya terdapat tulisan Bismillaahir-rahmaanir-rahiim &#8216;dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang&#8217; dan ayat yaa ahlal kitaabi ta&#8217;aalaw ilaa kalimatin&#8230;. &#8216;hai orang-orang ahli kitab! Marilah sama-sama kita berpegang pada kata yang sama antara kami dan kamu yakni bahwa tak ada yang kita sembah selain Allah &#8230;.&#8217;.&#8221;[8]</p>
<p>Atha&#8217; berkata mengenai apa yang diterimanya dari Jabir, yaitu, &#8220;Aisyah haid dan dia melaksanakan semua ibadah haji kecuali thawaf sekitar Ka&#8217;bah dan tidak shalat.&#8221;[9]</p>
<p>Hakam berkata, &#8220;Sesungguhnya, aku menyembelih binatang sedangkan aku dalam keadaan junub dan Allah telah berfirman, &#8216;Dan, janganlah kamu memakan makanan yang tidak disebut nama Allah (sewaktu menyembelihnya).&#8217;&#8221;[10]</p>
<p>(Aku berkata, &#8220;Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Aisyah yang disebutkan pada nomor 178.&#8221;)</p>
<h3>Bab Ke-9: Istihadhah (Keluar Darah dari Rahim, Tetapi Bukan Darah Haid)</h3>
<p>(Aku berkata, &#8220;Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Fatimah binti Abi Hubaisy di muka pada nomor 127.&#8221;)</p>
<h3>Bab Ke-10: Mencuci Darah Haid</h3>
<p>172. Asma&#8217; binti Abu Bakar berkata, &#8220;Seorang wanita bertanya kepada Rasulullah saw., Wahai Rasulullah, bagaimanakah caranya apabila pakaian salah seorang dari kami terkena darah haid, apakah yang harus ia perbuat?&#8217; Rasulullah saw. bersabda, &#8216;Apabila pakaian salah seorang dari kamu terkena darah haid, gosoklah darah itu kemudian bersihkanlah dengan air. Setelah itu, kamu boleh shalat dengan memakai pakaianmu itu.&#8217;&#8221; (Dalam satu riwayat: gosoklah, kemudian hendaklah ia siram dengan air dan bolehlah ia shalat dengannya.)</p>
<p>173. Aisyah berkata, &#8220;Apabila salah seorang di antara kami datang haidnya, ia mengerik darah yang mengenai pakaiannya, mencuci bagian itu, dan menyiram sisanya dengan air,[11] kemudian dia melakukan shalat dengannya.&#8221;</p>
<h3>Bab Ke-11: I&#8217;tikaf Seorang Wanita yang Sedang Istihadhah</h3>
<p>174. Aisyah berkata bahwa Nabi Muhammad saw melakukan i&#8217;tikaf dan beri&#8217;tikaf pulalah sebagian istri-istrinya bersama beliau, sedangkan di antara istri-istrinya ada yang beristihadhah. Dia (istri Nabi) melihat darah (keluar dari kemaluannya) [dan warna kekuning-kuningan], dan mungkin dia (istri Nabi) meletakkan sebuah pinggan di bawahnya untuk (menampung) darah [ketika ia shalat]. Ikrimah mengira bahwasanya Aisyah melihat cairan jenis suatu tumbuhan, lalu ia berkata, &#8216;Tampaknya ini sesuatu yang dimiliki oleh si anu.&#8221;</p>
<h3>Bab Ke-12: Bolehkah Seorang Wanita Melakukan Shalat dengan Pakaian yang Dipakainya Ketika Haid?</h3>
<p>175. Aisyah berkata, &#8216;Tak seorang pun di antara kami yang mempunyai lebih dari satu pakaian yang juga kami pakai ketika kami sedang haid. Karena itu, apabila ia terkena sesuatu dari darah haidnya, ia menghilangkan kotoran itu dengan ludahnya kemudian menggosok-gosoknya dengan kukunya.&#8221;</p>
<h3>Bab Ke-13: Menggunakan Wangi-Wangian Bagi Perempuan Ketika Mandi dari Haid</h3>
<p>176. Ummu Athiyyah r.a. (dan dari jalan Muhammad bin Sirin, berkata, &#8220;Anak laki-laki Ummu Athiyyah r.a. meninggal dunia. Pada hari yang ketiga, dia meminta zat pewarna kuning untuk mengusap wajahnya, dan, 2/78) ia berkata, &#8216;Kami dilarang[12] (dalam satu riwayat: Nabi Muhammad saw. melarang, 6/187) berkabung (dalam satu riwayat: tidak halal bagi perempuan yang beriman kepada Allah dan hari akhir berkabung) pada mayit lebih dari tiga hari kecuali atas suami, yaitu selama 4 bulan 10 hari dengan tidak bercelak, tidak berharum-haruman (dalam satu riwayat: tidak mengenakan harum-haruman kecuali baru suci dari haid), dan tidak boleh mengenakan pakaian yang dicelup kecuali kain dingin (buatan Yaman). Kami pun telah diberi kemurahan ketika suci, apabila salah seorang di antara kami mandi dari haidnya dengan setetes minyak harum. Kami pun dilarang mengiringkan jenazah [tetapi larangan ini tidak keras].&#8217;&#8221;</p>
<p>[Abu Abdullah berkata, "lafal al-qusth dan al-kust itu semacam lafal kaafuur dan qaafuuy, sedang nubdzah berarti qith'ah 'sepotong'." 6/186]</p>
<h3>Bab Ke-14: Seorang Wanita Menggosok Tubuhnya Ketika Mandi Setelah Suci dari Haid, Bagaimana Cara Dia Mandi, dan MenWmakan Sepotong Kain yang Diberi Wewangian untuk Mengusap BekasBekas Darah</h3>
<p>177. Aisyah r.a. berkata, &#8220;Seorang wanita [dari Anshar] bertanya kepada Nabi Muhammad saw tentang cara dia mandi dari haid. Beliau lalu memerintahkan kepadanya bagaimana ia mandi. Beliau bersabda, &#8216;Ambillah sepotong kain yang diberi kasturi lalu bersucilah kamu dengannya [(tiga kali).' Nabi Muhammad saw merasa malu, lalu beliau memalingkan wajahnya, atau beliau bersabda: berwudhulah].&#8217; Ia (wanita itu) bertanya, &#8216;Bagaimana aku bersuci dengannya?&#8217; Beliau bersabda, &#8216;Mahasuci Allah, bersucilah!&#8217;&#8221; [Aisyah berkata, "Aku mengerti apa yang dimaksudkan oleh Rasulullah saw., 8/159], maka aku menariknya ke arahku, lalu aku katakan, &#8216;Telusurilah dengan minyak harum pada bekas darah.&#8217;&#8221;</p>
<h3>Bab Ke-15: Mandi Sehabis Haid</h3>
<p>(Aku berkata, &#8220;Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Aisyah di muka.&#8221;)</p>
<h3>Bab Ke-16: Perempuan Menyisir Rambutrrya Sewaktu Mandi Sehabis Haid</h3>
<p>(Aku berkata, &#8220;Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Aisyah yang akan datang di bawah ini.&#8221;)</p>
<h3>Bab Ke-17: Perempuan Melepaskan Sanggul Kepala Ketika Mandi Haid</h3>
<p>178. Aisyah berkata, &#8220;Kami keluar memenuhi tanggal bulan Dzulhijjah; (dalam satu riwayat: pada tanggal lima Dzulhijjah, 4/7), [dan kami tidak melihat melainkan itu adalah bulan haji, 2/151], [lalu kami berihram untuk umrah, kemudian Rasulullah saw bersabda kepada kami, 'Barangsiapa yang membawa binatang korban, hendaklah ia berihram untuk haji dan umrah, kemudian janganlah ia bertahallul sehingga selesai keduanya.' 5/124]. [Kami lalu turun di Sarif." Kata Aisyah, "Kemudian Rasulullah saw keluar menemui sahabat-sahabat beliau, 2/150], lalu bersabda, &#8216;Barangsiapa [di antara kamu yang tidak membawa binatang korban, dan] ingin berihram dengan umrah, hendaklah ia membaca talbiyah/berihram. (Dalam satu riwayat: ingin berumrah, silakan dia berumrah, dan barangsiapa yang membawa binatang korban, janganlah berihram untuk umrah) karena seandainya aku tidak menyerahkan hewan untuk disembelih niscaya aku membaca talbiyah untuk umrah.&#8217; Sebagian dari mereka lalu membaca talbiyah untuk umrah dan sebagian dari mereka membaca talbiyah untuk haji [dan di antara kami ada yang membaca talbiyah untuk haji dan umrah].&#8221; [Aisyah berkata, "Adapun Rasulullah saw dan beberapa orang sahabat beliau fisiknya kuat-kuat, mereka membawa binatang korban, maka mereka tidak dapat melakukan umrah], dan aku termasuk orang yang membaca talbiyah untuk umrah [dan tidak membawa binatang korban], [kemudian aku haid]. Aku mendapati hari Arafah, sedangkan aku haid. Aku lalu mengadu kepada Nabi Muhammad saw (dan dalam satu riwayat: lalu Rasulullah saw masuk menemuiku, sedangkan aku sedang menangis, lalu beliau bertanya, &#8216;Mengapa engkau menangis, wahai sayang?&#8217; Aku menjawab, &#8216;[Demi Allah, aku ingin tidak haji tahun sekarang, l/79], aku mendengar apa yang engkau katakan kepada sahabat-sahabatmu seperti itu, tetapi aku terhalang melakukan umrah.&#8217; Beliau berkata, &#8216;Mengapa engkau [apakah engkau nifas/haid? 6/235].&#8217; Aku menjawab, &#8216;[Ya], aku tidak shalat&#8217; Beliau bersabda, &#8216;Tidak apa-apa. Sesungguhnya, engkau hanya salah seorang putri-putri Adam. Allah telah menetapkan atasmu seperti apa yang ditetapkannya atas putri-putri Adam itu.) (Dalam satu riwayat: &#8216;Sesungguhnya, ini adalah suatu urusan (dalam satu riwayat: sesuatu) yang telah ditetapkan Allah atas anak-anak perempuan Adam, 1/77). Karena itu, tinggalkanlah umrahmu, uraikan rambutmu dan bersisirlah, dan bertalbiyahlah untuk haji (dalam satu riwayat: maka beradalah kamu dalam haji kamu, mudah-mudahan Allah akan memberimu haji).&#8217; [Beliau bersabda, '[Maka] lakukanlah apa yang dilakukan oleh orang yang sedang melakukan haji, hanya saja janganlah engkau melakukan thawaf di Baitullah[13] sehingga engkau suci.&#8217; 2/171] Kemudian, aku kerjakan. [Kemudian Nabi Muhammad saw datang, lalu thawaf di Baitullah dan sa'i antara Shafa dan Marwah, dan tidak bertahallul, dan beliau membawa binatang korban, lalu berthawaf pula istri-istri beliau dan sahabat-sahabat beliau bersama beliau, 2/196]. [Nabi Muhammad saw. lalu memerintahkan orang yang tidak membawa binatang korban supaya bertahallul. Bertahallullah di antara mereka orang yang tidak membawa binatang korban; sedangkan istri-istri beliau tidak membawa binatang korban, maka mereka bertahallul." [Aisyah berkata bahwa Rasulullah saw. bersabaa, "Seandainya aku tahu akan menghadapi apa yang kutinggalkan ini niscaya aku membawa binatang korban dan aku bertahallul bersama orang banyak ketika mereka bertahallul." 8/128] [Aisyah berkata, "Aku lalu tidak melakukan thawaf di Baitullah."] [Aisyah berkata, "Kami lalu keluar di dalam haji beliau, sehingga kami datang di Mina, lalu aku suci/selesai haid."] [Aisyah berkata, "Kami lalu memasuki hari nahar dengan daging sapi. Aku bertanya, 'Apa ini?' Mereka menjawab, 'Rasulullah saw menyembelih korban untuk istri-istrinya [dengan sapi].&#8217;-Yahya berkata, &#8216;Aku lalu menyebutkan hadits ini kepada al-Qasim bin Muhammad, kemudian dia berkata, &#8216;Demi Allah, Aisyah telah menyampaikan hadits menurut apa adanya.&#8221; 4/7].-[Aku lalu keluar dari Mina, lalu aku thawaf ifadhah di Baitullah [pada hari nahar. 2/ 189]. Aku lalu keluar bersama beliau pada nafar akhir], sehingga ketika malam hashbah [beliau turun di tempat melempar jumrah di Mina dan kami pun turun bersama beliau.] [Aku berkata, 'Wahai Rasulullah, orang-orang pulang dengan membawa pahala umrah dan haji, sedangkan aku hanya kembali dengan haji?' (dalam satu riwayat: 'Sahabat-sahabatmu pulang dengan mendapat pahala haji dan umrah, sedang aku tidak lebih dari pahala haji saja?' 4/14) Beliau bersabda, 'Engkau tidak thawaf selama beberapa malam kita tiba di Mekah?' Aku menjawab, Tidak.' Beliau bersabda, 'Pergilah dengan saudara laki-laki [dan hendaklah ia mengiringimu] ke Tan&#8217;im, lalu bertalbiyahlah untuk umrah, kemudian waktumu untuk ini dan ini], [tetapi hal itu menurut kadar biayamu dan keletihanmu, 2/201].&#8217;</p>
<p>[Shafiyah binti Huyay mengeluarkan haid, 2/196] [pada malam nafar, lalu, 2/198] [ia berkata, 'Aku lihat dirimu menghalangi mereka (dalam satu riwayat: meng halangimu)].&#8217; [Rasulullah saw. menginginkan terhadap Shafiyah apa yang biasa diinginkan seorang laki-laki kepada istrinya, lalu aku berkata, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya dia sedang haid.'] (Dalam satu riwayat: Ketika Rasulullah saw hendak melakukan nafar, tiba-tiba Shafiyah berada di depan pintu kemahnya dengan muram, 6/184) [bersedih hati karena sedang haid, lalu, 7/110] beliau bersabda [kepadanya], [''Aqra haliqa'] -[dialek Quraisy]- [dia menghalangi kita?] [Apakah engkau tidak melakukan thawaf pada hari nahar? Dia menjawab, 'Tidak.' Beliau bersabda, 'T'idak apa-apa. Lakukanlah nafar] [kalau begitu].&#8217; [Rasulullah saw. lalu memanggil Abdur Rahman bin Abu Bakar seraya bersabda, 'Keluarlah bersama saudara perempuanmu ini dari tanah haram, lalu hendaklah ia bertalbiyah untuk umrah, kemudian selesaikanlah. Setelah itu, datanglah kalian berdua ke sini karena aku menunggu kedatanganmu berdua.' Aku keluar ke Tan'im, [dan Abdur Rahman mengiringkan di bagian belakang tali unta, 6/141], [dan menaikkanku di atas pelana, 2/141-142].[14] Aku lalu bertalbiyah untuk umrah sebagai pengganti umrah aku [yang telah kulakukan] [sehingga setelah aku selesai, dan selesai thawaf, kemudian aku datang kepada beliau pada waktu dini hari).' [Nabi Muhammad saw lalu menemuiku [sedangkan hari masih gelap], beliau naik dari Mekah dan aku turun ke sana, atau aku naik dan beliau turun]. (Dalam satu riwayat: Nabi Muhammad saw menantikan Aisyah di Mekah bagian atas hingga Aisyah datang). [Nabi Muhammad saw lalu bertanya, 'Apakah engkau sudah selesai?' Aku menjawab, 'Sudah.'] [Beliau bersabda, 'Ini adalah pengganti umrahmu]. [Allah lalu menjadikannya dapat menyelesaikan hajinya dan umrahnya, dan dalam hal itu tidak ada binatang korban, tidak ada sedekah, dan tidak ada puasa].&#8217;</p>
<p>[Berthawaflah orang-orang yang bertalbiyah umrah di Baitullah, dan sa'i antara Shafa dan Marwah, kemudian tahallul, kemudian mereka thawaf dengan satu kali thawaf (dalan satu riwayat: thawaf yang lain, 2/168) sesudah kembali dari Mina. Adapun orang-orang yang melakukan haji dan umrah bersama-sama, mereka melakukan thawaf satu kali. 2/149].[15] [Rasulullah saw lalu mengumumkan kepada para sahabatnya untuk berangkat, kemudian orang-orang berangkat [dan orang-orang yang thawaf sebelum shalat subuh, kemudian keluar], lalu berjalan menuju ke Madinah.]&#8221;</p>
<h3>Bab Ke-18: Manusia yang Jadi Diciptakan dan yang Tidak Jadi Diciptakan</h3>
<p>(Aku berkata, &#8220;Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Anas yang tercantum pada Kitab ke-82 &#8216;al-Qadar&#8217;.')</p>
<h3>Bab Ke-19: Bagaimana Memulai Ihramnya Perempuan Haid dengan Haji dan Umrah</h3>
<p>(Aku berkata, &#8220;Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Aisyah tersebut tadi.&#8221;)</p>
<h3>Bab Ke-20: Permulaan dan Akhir Masa Haid</h3>
<p>Ada beberapa orang wanita yang sama memberikan sehelai kain kepada Aisyah, yang di dalamnya ada kapasnya dan tampaklah di kapas itu warna kuning. Aisyah berkata, &#8220;Janganlah terburu-buru, sampai kamu melihat sehelai kain itu putih (maksudnya: berhentinya haid secara sempurna).&#8221;[16]</p>
<p>Putri Zaid binTsabit[17] diberi tahu bahwa beberapa wanita meminta lampu-lampu di malam hari untuk melihat apakah haid telah berhenti ataukah belum. Mengenai</p>
<p>hal itu putri Zaid mengatakan, &#8220;Kaum perempuan tidak perlu melakukan hal itu.&#8221; Dia pun mencela mereka.[18]</p>
<p>(Aku berkata, &#8220;Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya bagian dari hadits Bintu Abi Hubaisy yang tersebut pada nomor 127 di muka.&#8217;)</p>
<h3>Bab Ke-21: Orang Haid Tidak Mengqadha Shalat</h3>
<p>Jabir dan Abu Sa&#8217;id berkata dari Nabi Muhammad saw., &#8220;Ia (wanita yang sedang haid, pen) harus meninggalkan shalat.&#8221;[19]</p>
<p>179. Dari Mu&#8217;adzah bahwasanya seorang wanita berkata kepada Aisyah, &#8220;Apakah salah seorang di antara kita shalatnya mencukupi apabila ia suci?&#8221; Aisyah menjawab, &#8220;Apakah kamu seorang Haruri? Kami haid bersama Nabi, namun beliau tidak memerintahkan kami karenanya.&#8221; Atau, ia berkata, &#8220;Karni tidak mengerjakannya.&#8221;</p>
<h3>Bab Ke-22: Tidur dengan Seorang Wanita Haid dan Wanita Itu Memakai Bajunya (Yang Dipakai Ketika Haid)</h3>
<p>(Aku berkata, &#8220;Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ummu Salamah yang tersebut pada nomor 169 di muka.&#8221;)</p>
<h3>Bab Ke-23: Orang yang Mengenakan Pakaian Khusus untuk Haid Selain yang untuk Waktu Sucinya</h3>
<p>(Aku berkata, &#8220;Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ummu Salamah di atas.&#8221;)</p>
<h3>Bab Ke-24: Hadirnya Orang Haid dalam Shalat Dua Hari Raya dan Dakwah Kaum Muslimin, Tetapi Mereka Menjauhkan Diri dari Tempat Shalat</h3>
<p>Hafsah [binti Sirin, 2/9] berkata, &#8220;Kamu semua melarang gadis-gadis kami untuk keluar pada kedua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adlha). Datanglah seorang perempuan lalu singgah di gedung keluarga Khalaf, [lalu aku datang kepadanya], kemudian ia bercerita tentang saudara perempuannya-dan suami dari saudara perempuannya telah mengikuti peperangan bersama-sama dengan Nabi Muhammad saw sebanyak dua belas kali-. Perempuan tersebut selanjutnya mengatakan, &#8216;Saudara perempuanku itu pernah mengikuti suaminya (dalam peperangan) sebanyak enam kali. Ia mengatakan, &#8216;Kami mengobati yang terluka, mengurus yang sakit.&#8217; Saudara perempuanku bertanya kepada Nabi Muhammad saw, &#8216;Apakah tidak apa-apa bagi salah seorang di antara kami untuk tinggal di rumah kalau dia tidak mempunyai jilbab? Beliau menjawab, &#8216;Hendaknya sahabatnya mengenakan salah satu jilbabnya kepadanya dan hendaknya dia berpartisipasi di dalam perbuatan-perbuatan yang baik dan dalam pertemuan-pertemuan keagamaan kaum muslimin.&#8217; Pada waktu Ummu Athiyyah datang, aku datang kepadanya lalu] aku bertanya kepadanya, &#8216;Apakah Anda pernah mendengar Nabi Muhammad saw mengenai masalah ini (yakni bolehnya kaum wanita keluar untuk menghadiri kebaikan yang diadakan oleh kaum muslimin)?&#8217; Ummu Athiyyah berkata, &#8216;Ya, semoga ayahku berkorban untuknya (Nabi Muhammad saw.)-Ummu Athiyyah tidak menyebutkan sesuatu melainkan hanya berkata, &#8216;Semoga ayahku berkorban untuknya&#8217;-. Aku pernah mendengar Nabi Muhammad saw bersabda, &#8216;[Hendaklah] wanita-wanita merdeka (anak-anak gadis) dan wanita-wanita pingitan atau anak-anak gadis pingitan [Abu Ayyub ragu-ragu] dan wanita-wanita haid keluar [pada hari raya] untuk menyaksikan kebaikan dan dakwah orang-orang mukmin, dan orang yang haid supaya mengucilkan diri dari mushalla.&#8217; [Seorang perempuan bertanya, 'Wahai Rasulullah, bagaimana kalau salah seorang dari kami tidak mempunyai jilbab?' Beliau menjawab, 'Hendaklah sahabatnya berpartisipasi dengan mengenakan jilbabnya kepadanya.' 1/93].&#8217;&#8221; Hafshah berkata, &#8220;Aku bertanya, &#8216;Bagaimana dengan wanita-wanita yang sedang haid?&#8217; Jawabnya, &#8216;Bukankah wanita yang sedang haid juga hadir di Arafah, [menghadiri] ini dan [menghadiri] ini?&#8217;&#8221; (Dalam satu riwayat dari Hafshah, &#8220;Kami diperintahkan untuk keluar pada hari raya, hingga kami suruh keluar juga anak-anak gadis dari pingitannya, hingga kami keluarkan wanita-wanita yang sedang haid, lalu mereka berada di belakang orang banyak, lantas bertakbir dengan takbir mereka dan berdoa sebagaimana mereka berdoa karena mengharapkan keberkahan dan kesucian hari itu.&#8221; 2/7)</p>
<h3>Bab Ke-25: Perempuan Apabila Berhaid Tiga Kali dalam Sebulan dan Perihal Dibenarkannya Perempuan Mengenai Haid atau Mengandungnya, Mengingat Firman Allah Ta&#8217;ala, &#8220;&#8230; Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya&#8230;.&#8221; (al-Baqarah: 228)</h3>
<p>Ali dan Syuraih berkata, &#8220;Apabila seorang wanita memberikan bukti dari keluarganya yang terdiri atas orang-orang muslim yang baik dan mengatakan bahwa dia haid tiga kali dalam sebulan, dia dipercaya.&#8221;[20]</p>
<p>Atha&#8217; berkata, &#8220;Haid itu sehari sampai lima belas hari.&#8221;[21]</p>
<p>Mu&#8217;tamir mengatakan tentang apa yang diterima dari ayahnya, &#8220;Aku pernah bertanya kepada Ibnu Sirin perihal seorang perempuan yang melihat adanya darah lagi sesudah sucinya selama lima hari, apakah itu haid?&#8221; Ibnu Sirin menjawab, &#8220;Kaum perempuan adalah lebih mengerti perihal yang Anda tanyakan itu.&#8221;[22]</p>
<p>(Aku berkata, &#8220;Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Fatimah binti Abi Hubaisy yang tercantum di muka pada nomor 12.&#8221;)</p>
<h3>Bab Ke-26: Warna Kuning dan Keruh Pada Hari-Hari Selain Hari-Hari Waktu Kedatangan Haid</h3>
<p>181. Ummu Athiyyah berkata, &#8220;Kami tidak menganggap kekuning-kuningan dan keruh (sebagai darah haid) sedikit pun.&#8221;</p>
<h3>Bab Ke-27: Pembuluh Darah yang Merupakan Sumber Darah yang Keluar Waktu Istihadhah</h3>
<p>182. Aisyah istri Nabi Muhammad saw berkata bahwa Ummu Habibah istihadhah selama tujuh tahun, lalu ia bertanya kepada Rasulullah saw. mengenai apa yang dialaminya itu, kemudian beliau menyuruh mandi, lalu beliau bersabda, &#8220;Istihadhah ini dari pembuluh darah.&#8221; Karena itu, Ummu Habibah mandi untuk setiap hendak mengerjakan shalat.</p>
<h3>Bab Ke-28: Perempuan yang Haid Sesudah Melakukan Thawaf Ifadhah</h3>
<p>183. Thawus berkata dari ayahnya, &#8220;Ibnu Abbas berkata, &#8216;Seorang wanita mendapatkan rukhshah (dispensasi/keringanan) untuk pergi (pulang ke rumah) apabila dia haid (dalam satu riwayat: setelah thawaf ifadhah).&#8217; Ibnu Umar berkata bahwa dia tidak boleh pergi, tetapi kemudian terakhir aku mendengar dia berkata [sesudah itu], &#8216;Sesungguhnya, Rasulullah saw memberikan rukhshah (dispensasi) untuk kaum perempuan yang haid tersebut.&#8217;&#8221;</p>
<h3>Bab Ke-29: Apabila Seorang Wanita yang Mengalami Istihadhah Melihat Tanda-Tanda Kesucian dari Haidnya</h3>
<p>Ibnu Abbas berkata, &#8220;Dia hendaknya mandi dan shalat meskipun (dia suci) cuma satu jam dan dia dapat melakukan (hubungan seksual bersama suaminya) setelah shalat, dan shalat adalah lebih besar dan lebih penting (daripada apa pun juga).&#8221;[23]</p>
<h3>Bab Ke-30: Melaksanakan Shalat Mayit Bagi Seorang Wanita yang Wafat Sewaktu (atau Sesudah) Melahirkan dan Cara (Melaksanakan Shalat) dan Sunnahnya</h3>
<p>184. Samurah bin Jundub r.a. berkata, &#8220;Seorang wanita (dalam satu riwayat: aku shalat di belakang Nabi Muhammad saw atas jenazah seorang wanita, 2/91) yang meninggal karena melahirkan (dalam satu riwayat: pada waktu nifas), maka Nabi saw menshalatinya dengan posisi lurus di pertengahan (tubuh)nya.&#8221;</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<h3>Catatan Kaki:</h3>
<p>[1] Ini adalah bagian dari hadits Aisyah yang tercantum pada Bab ke-17, hadits nomor 178.<br />
[2] Al-Hafizh berkata, &#8220;Seakan-akan dia mengisyaratkan kepada hadits yang diriwayatkan oleh Abdur Razzaq dari Ibnu Mas&#8217;ud dengan isnad yang sahih, katanya, &#8216;Para laki-laki dan para perempuan dari bani Israel biasa melakukan shalat bersama-sama. Akan tetapi, kaum perempuan suka menghambat laki-laki, lalu Allah menimpakan haid kepada mereka dan melarang mereka ke masjid.&#8217; Abdur Razzaq juga meriwayatkan riwayat yang semakna dengan ini dari Aisyah.&#8221;<br />
[3] Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Syaibah dengan sanad sahih darinya.<br />
[4] Di-maushul-kan oleh ad-Darimi (1/235) dengan sanad hasan darinya. Dia itu adalah Ibrahim bin Yazid an-Nakha&#8217;i, seorang faqih (ahli fikih).<br />
[5] Di-maushul-kan oleh Ibnul Mundzir dengan lafal, &#8220;Sesungguhnya, Ibnu Abbas biasa membaca wiridnya meskipun dia dalam keadaan junub.&#8221;<br />
[6] Di-maushul-kan oleh Muslim (1/194) dan lainnya dari hadits Aisyah, dan di-takhrij dalam Shahih Sunan Abi Dawud (14) dan dalam ash-Sahihah (406). Diriwayatkan juga bahwa Aisyah pernah meruqyah (menjampi) saudara perempuannya, yaitu Asma&#8217;, padahal Aisyah sedang haid. Diriwayatkan oleh ad-Darimi (1/235) dan sanadnya hasan.<br />
[7] Ini adalah bagian dari hadits Ummu Athiyah yang maushul yang akan disebutkan beberapa bab mendatang, yaitu pada Bab ke-24.<br />
[8] Ini adalah bagian dari hadits tentang kisah Heraklius bersama Abu Sufyan dan di-maushul-kan oleh Imam Bukhari dalam beberapa tempat, dan disebutkan pada Kitab ke-56 &#8220;al-Jihad&#8221;, Bab ke-102.<br />
[9] Ini adalah bagian dari hadits Jabir dalam kisah Aisyah yang disebutkan secara maushul pada Kitab ke-94 &#8220;at-Tamanni&#8221;, Bab ke-3.<br />
[10] Di-maushul-kan oleh al-Baghawi di dalam al-Ja&#8217;diyyat dengan sanad sahih darinya. Dia adalah al-Hakam bin Uyainah al-Kufi, seorang faqih.<br />
[11] Artinya, hendaklah ia mencuci bagian pakaian yang tidak terkena darah. Disebutkan di dalam riwayat Ibnu Khuzaimah (276), &#8220;Kemudian, hendaklah ia menggosoknya dengan air, lalu menyiramkan air ke pakaiannya, kemudian shalat dengannya.&#8221; Sanadnya hasan.<br />
[12] Riwayat ini disebutkan oleh Imam Bukhari secara mu&#8217;allaq di sini dan di-maushul-kannya dalam &#8220;Ath-Thalaq&#8221; (6/187), dan di-maushul-kan juga oleh al-Baihaqi. Akan tetapi semua ini terluput atas al-Hafizh di dalam syarahnya terhadap kalimat terakhir di dalam &#8220;Al-Janaiz&#8221;, bahkan terjadi kesalahpahaman yang harus dijelaskan di sini. Beliau mengatakan, &#8220;Diriwayatkan oleh al-Ismaili dengan lafal, &#8216;Lalu Rasulullah saw. melarang kami&#8230;&#8217; Seandainya beliau ingat apa yang aku sebutkan ini niscaya beliau tidak perlu menisbatkan riwayat ini kepada al-Ismaili.<br />
[13] Jabir menambahkan di dalam haditsnya, &#8220;Dan, janganlah engkau mengerjakan shalat,&#8221; dan akan disebutkan haditsnya pada akhir kitab ke-94 &#8220;at-Tamanni&#8221;, Bab ke-3, dan sudah disebutkan barusan secara mu&#8217;allaq pada nomor 61.<br />
[14] Tambahan ini diriwayatkan secara mu&#8217;allaq oleh Imam Bukhari dan di-maushul-kan oleh Abu Nu&#8217;aim dalam al Mustkhraj.<br />
[15] yakni selain thawaf (sa&#8217;i) antara Shafa dan Marwah sebagaimana disebutkan dengan jelas dalam hadits Jabir yang diriwayatkan Muslim. Ini adalah bagi yang melakukan haji qiran sebagaimana disebutkan dengan jelas dalam hadits tersebut, demikian juga yang melakukan haji ifrad sebagaimana yang diriwayatkan Imam Malik dalam hadits ini. Adapun orang yang melakukan haji tamattu&#8217;, ia melakukan thawaf antara Shafa dan Marwah lagi sebagaimana lahir hadits ini, dan yang diriwayatkan dengan jelas dalam hadits Ibnu Abbas yang akan disebutkan secara mu&#8217;allaq dalam kitab ini.<br />
[16] Di-maushul-kan oleh Imam Malik dalam al-Muwaththa&#8217; (1/77-78) dengan sanad hasan darinya.<br />
[17] Di-maushul-kan juga oleh Imam Malik, tetapi hal ini perlu mendapat perhatian, sebagaimana dijelaskan oleh al-Hafizh. Putri Zaid ini tidak diketahui namanya.</p>
<p>[18] Ibnu Bathhal dan lainnya berkata, &#8220;Karena hal itu menimbulkan kesulitan dan memberatkan, juga tercela.&#8221;<br />
[19] Hadits Jabir ini merupakan bagian dari haditsnya yang tersebut pada Kitab ke-94 &#8220;at-Tamanni&#8221;, Bab ke-3 tentang haidnya Aisyah pada waktu haji. Di situ disebutkan &#8220;hanya saja ia tidak boleh melakukan thawaf dan tidak boleh melakukan shalat&#8221;. Adapun hadits Abu Sa&#8217;id disebutkan secara maushul pada Kitab ke-24 &#8220;az-Zakat&#8221;, Bab ke-44. Di situ disebutkan &#8220;Bukankah wanita itu apabila sedang haid dia tidak shalat dan tidak berpuasa?&#8221;<br />
[20] Di-maushul-kan oleh ad-Darimi (1/212 -213) dengan sanad sahih dari keduanya dan pernyataan ini diucapkannya dalam sebuah kisah.<br />
[21] Di-maushul-kan oleh Abdur Razzaq dengan sanad sahih darinya.<br />
[22] Di-maushul-kan oleh ad-Darimi (1/210 dan 211) secara terpisah, sedangkan sanad yang menggunakan kata yaum adalah hasan dan sanad lainnya sahih.<br />
[23] Di-maushul-kan oleh ad-Darimi (1/203) dengan sanad sahih dari Ibnu Abbas tanpa perkataan mencampuri (menyetubuhi). Akan tetapi, yang ada perkataan ini diriwayatkan oleh darinya (1/207) dengan sanad yang lemah. Juga diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah sebelumnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kumpulanhadist.arisyi-design.web.id/shahih-bukhari/kitab-haid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kitab Mandi</title>
		<link>http://kumpulanhadist.arisyi-design.web.id/shahih-bukhari/kitab-mandi/</link>
		<comments>http://kumpulanhadist.arisyi-design.web.id/shahih-bukhari/kitab-mandi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 May 2010 05:57:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>azimah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Shahih Bukhari]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab Mandi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kumpulanhadist.arisyi-design.web.id/?p=323</guid>
		<description><![CDATA[Firman Allah Ta&#8217;ala, &#8220;&#8230; dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air besar (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih): sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Firman Allah  Ta&#8217;ala, &#8220;&#8230; dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam  perjalanan atau kembali dari tempat buang air besar (kakus) atau menyentuh  perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang  baik (bersih): sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak  menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat  Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.&#8221; (al-Maa&#8217;idah: 6)</p>
<p>Firman Allah  Ta&#8217;ala, &#8220;Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam  keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula  hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekadar berlalu  saja, hingga kamu mandi. Dan, jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau  kembali dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu  tidak mendapatkan air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci):  sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya, Allah Maha Pemaaf lagi Maha  Pengampun.&#8221; (an-Nisaa&#8217;: 43)<br />
<span id="more-323"></span><br />
<strong>Bab Ke-1:  Berwudhu Sebelum Mandi<br />
</strong>147. Aisyah istri Nabi Muhammad saw. berkata  bahwa apabila Nabi Muhammad saw mandi janabah beliau mulai dengan membasuh kedua  tangan beliau, kemudian beliau wudhu sebagaimana wudhu untuk shalat, kemudian  beliau memasukkan jari-jari beliau ke dalam air, lalu beliau menyeling-nyelingi  pangkal rambut, kemudian beliau menuangkan (dalam satu riwayat: sehingga apabila  beliau merasa sudah meratakan air ke seluruh kulitnya, beliau menuangkan, l/ 72)  tiga ciduk pada kepala beliau dengan kedua tangan beliau, kemudian menuangkan  air pada kulit beliau secara keseluruhan.&#8221;</p>
<p><strong>Bab Ke-2:  Mandinya Seorang Suami Bersama Istrinya</strong><br />
148. Aisyah r.a.  berkata, &#8220;Aku mandi bersama Nabi Muhammad saw. dari sebuah bejana/tempat air  [masing-masing kami junub, 1/78] dari sebuah mangkok yang disebut faraq (tempat  air yang memuat tiga sha&#8217;), [tangan kami saling bergantian di dalam bejana itu,  1/ 70] (dalam satu riwayat: kami menciduk bersama-sama dalam bejana itu,  l/72)<sup>[1]</sup> (dalam  satu riwayat: tempat mencuci pakaian ini diletakkan untukku dan untuk Rasulullah  saw., lalu kami masuk ke dalamnya bersama-sama, 8/154).&#8221;<br />
<strong> </strong></p>
<p><strong>Bab Ke-3:  Mandi dengan Satu Gantang (Empat Mud) Air dan Semacamnya</strong><br />
149. Abu Salamah  berkata, &#8220;Aku dan saudara lelaki Aisyah memasuki tempat Aisyah, lalu saudaranya  itu menanyakan kepadanya mengenai cara mandi Nabi Muhammad saw. Ia lalu meminta  agar dibawakan satu tempat air sekitar (ukuran) satu sha&#8217;, lalu ia mandi dan  menuangkan air pada kepalanya, sedangkan antara kami dan Aisyah ada  tirainya.&#8221;<br />
150. Abu Ja&#8217;far  berkata bahwa ia berada di tempat Jabir bin Abdullah dan ayahnya ada pula di  situ. Di dekatnya ada sekelompok kaum. Mereka menanyakan kepadanya perihal mandi  janabah, lalu ia berkata, &#8220;Satu sha&#8217; cukup bagimu.&#8221; Seorang laki-laki berkata,  &#8216;Tidak cukup bagiku.&#8221; Jabir lalu berkata, &#8220;(Satu sha&#8217; itu) cukup bagi orang yang  rambutnya lebih banyak dan lebih baik daripadamu.&#8221; Ia lalu menuju kami dalam  satu pakaian. (Dan dari jalan lain: dari Abu Ja&#8217;far, katanya, &#8220;Jabir berkata  kepadaku, &#8216;Pamanmu-yakni al-Hasan bin Muhammad al-Hanafiyah-datang kepadaku  seraya bertanya, &#8216;Bagaimana cara mandi janabah?&#8217; Aku jawab, &#8216;Nabi Muhammad saw  mengambil tiga cakupan air dan menuangkannya ke kepala beliau, kemudian  menuangkan ke seluruh tubuh beliau.&#8217; Al-Hasan berkata, &#8216;Sesungguhnya, aku  berambut lebat.&#8217; Aku jawab, &#8216;Nabi Muhammad saw lebih lebat rambutnya daripada  engkau.&#8221;)<br />
151. Ibnu Abbas  berkata bahwa Nabi Muhammad saw dan Maimunah mandi (bersama) dari satu  wadah.<br />
Abu Abdillah berkata, &#8220;Ibnu Uyainah memberikan komentar akhir, &#8216;Dari  Ibnu Abbas dari Maimunah dan yang sahih ialah apa yang diriwayatkan oleh Abu  Nu&#8217;aim&#8217;&#8221;<sup>[2]</sup><br />
<strong> </strong></p>
<p><strong>Bab Ke-4:  Orang yang Menuangkan Air di Atas Kepalanya Tiga Kali</strong><br />
152. Jubair bin  Muth&#8217;im berkata, &#8220;Rasulullah saw bersabda, &#8216;Adapun aku maka aku tuangkan air  atas kepalaku tiga kali,&#8217; dan beliau mengisyaratkan dengan kedua tangan  beliau.<sup>[3]</sup><br />
<strong></strong></p>
<p><strong>Bab Ke-5:  Mandi Satu Kali Mandian</strong><br />
153. Maimunah  berkata, &#8220;Aku pernah meletakkan (dalam satu riwayat: menuangkan) air untuk Nabi  Muhammad saw untuk dipakai mandi [janabah, 1/ 68] [dan aku menabirinya]. Beliau  lalu membasuh kedua tangannya dua atau tiga kali, kemudian menuangkan air  [dengan tangan kanannya] atas tangan kirinya, lalu beliau membasuh kemaluan: dan  apa-apa yang ada di sekitarnya yang terkena kotoran. Beliau lalu  menggosok-gosokkan tangannya ke atas tanah (dan dalam satu riwayat:  menggosokkannya ke dinding, 1/70; dalam riwayat lain: ke tanah atau ke dinding,  1/71 dan 72) [dua atau tiga kali] [kemudian mencucinya], lalu berkumur-kumur,  mencuci hidungnya dengan air, membasuh wajah dan kedua tangannya [dan membasuh  kepalanya tiga kali 1/71], (dalam satu riwayat: berwudhu seperti wudhunya untuk  shalat, hanya saja tidak membasuh kakinya, 1/68), kemudian menyiramkan air ke  seluruh tubuhnya, lalu bergerak dari tempatnya dan mencuci kedua kakinya,  [kemudian dibawakan sapu tangan kepada beliau, tetapi beliau tidak  menggunakannya untuk mengusap tubuhnya (dalam satu riwayat: lalu aku bawakan  penyeka/handuk, lalu beliau berbuat begini, tetapi tidak mengulanginya), (dalam  riwayat lain: lalu aku bawakan kain, tetapi tidak beliau ambil, lalu beliau  pergi sambil mengusapkan kedua tangannya.)].&#8221;<br />
<strong></strong></p>
<p><strong>Bab Ke-6:  Orang yang Memulai Mandi dengan Menggunakan Harum-Haruman atau  Wangi-Wangian</strong><br />
154. Aisyah  berkata, &#8220;Apabila Nabi Muhammad saw mandi janabah, beliau minta dibawakan hilab  (bejana). Beliau mengambil dengan kedua telapak tangan beliau; beliau memulai  dengan bagian kepala yang kanan kemudian yang kiri, lalu beliau lanjutkan pada  bagian tengah kepala.&#8221;<br />
<strong></strong></p>
<p><strong>Bab Ke-7:  Berkumur-kumur dan Menghirup Air ke dalam Hidung Ketika Mandi Janabah</strong><br />
(Aku berkata,  &#8220;Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Maimunah di  muka.&#8221;)</p>
<p><strong>Bab Ke-8:  Mengusap Tangan dengan Debu Agar Lebih Bersih</strong><br />
(Aku berkata,  &#8220;Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Maimunah di  muka.&#8221;)</p>
<p><strong>Bab Ke-9:  Dapatkah Seorang yang Junub Meletakkan Tangannya di dalam Belanga (yang Berisi  Air) sebelum Mencucinya Apabila Ia Tidak Terkotori Barang yang Kotor Kecuali  Janabah?<br />
</strong></p>
<p>Ibnu Umar dan  al-Bara&#8217; bin Azib biasa memasukkan tangannya ke dalam air tanpa mencucinya,  kemudian mereka berwudhu.<sup>[4]</sup><br />
Ibnu Umar dan Ibnu Abbas berpendapat tidak ada  bahaya apa-apa apabila air menetes dari tubuh (ketika mandi) ke dalam tempat  yang dipakai mandi janabah itu.<sup>[5]</sup></p>
<p>155. Anas bin  Malik, &#8220;Nabi Muhammad saw dan salah seorang istrinya mandi [janabah] bersama  dari satu bejana.&#8221;<sup>[6]</sup></p>
<p><strong>Bab Ke-10:  Memisahkan Mandi dan Wudhu</strong><br />
Disebutkan dari  Ibnu Umar bahwa dia mencuci kedua kakinya setelah air wudhu (pada  anggota-anggota tubuhnya) telah kering.<sup>[7]</sup></p>
<p><strong>Bab Ke-11:  Menyiramkan Air dengan Tangan Kanannya ke Tangan Kirinya Waktu  Mandi</strong><br />
(Aku berkata,  &#8220;Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Maimunah yang  diisyaratkan di muka.&#8221;)</p>
<p><strong>Bab Ke-12:  Apabila Menyetubuhi Istri Lalu Mengulanginya dan Suami yang Menggilir Beberapa  Istrinya dalam Satu Kali Mandi</strong><br />
156. Muhammad bin  al-Muntasyir berkata, &#8220;Aku menyebutkan hal itu kepada Aisyah, (dalam satu  riwayat: Aku bertanya kepada Aisyah, lalu aku sebutkan perkataan Ibnu Umar, &#8216;Aku  tidak suka melakukan ihram dengan memakai wangi-wangian.&#8217; 1/72)<sup>[8]</sup> lalu ia (Aisyah)  berkata, &#8216;Mudah-mudahan Allah memberi rahmat kepada ayah Abdur Rahman (yakni  Ibnu Umar). Aku pernah memakaikan harum-haruman kepada Rasulullah saw, lalu  beliau mengelilingi (mencampuri secara bergantian) istri-istri beliau, kemudian  pagi-pagi beliau ihram dan memercikkan harum-haruman (minyak wangi)&#8217;&#8221;</p>
<p>157. Anas bin Malik  berkata, &#8220;Nabi Muhammad saw. selalu mengelilingi (mendatangi) istri-istri beliau  pada satu malam dan siang, dan mereka ada sebelas orang wanita (dalam satu  riwayat: sembilan orang wanita, 6/117).&#8221; Salah seorang yang meriwayatkan hadits  ini (yakni Qatadah) berkata, &#8220;Aku bertanya kepada Anas, &#8216;Apakah beliau mampu  melakukan hal itu?&#8217; Ia menjawab, &#8216;Kami katakan bahwa beliau diberi kekuatan tiga  puluh orang.&#8217;&#8221;<br />
<strong></strong></p>
<p><strong>Bab Ke-13:  Mencuci Madzi dan Berwudhu Karenanya</strong><br />
(Aku berkata,  &#8220;Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ali yang  disebutkan pada nomor 87 di muka.&#8221;)<br />
<strong></strong></p>
<p><strong>Bab Ke-14:  Orang yang Memakai Wangi-Wangian Lalu Mandi dan Masih Tertinggal Bekas Bau  Wangi-Wangiannya</strong><br />
(Aku berkata,  &#8220;Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Aisyah yang  baru saja disebutkan di muka.&#8221;)</p>
<p><strong>Bab Ke-15:  Membasuh Sela-Sela Rambut Sehingga Jika Telah Diperkirakan Bahwa Air Sudah  Merata Pada Kulit Lalu Menuangkan Air di Atas Seluruh Tubuh</strong><br />
(Aku berkata,  &#8220;Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Aisyah yang  tertera pada nomor 147 di muka.&#8221;)</p>
<p><strong>Bab Ke-16: Orang  yang Berwudhu dalam Janabah Lalu Membasuh Tubuhnya yang Lain dan Tidak  Mengulangi Membasuh Tempat-Tempat Anggota Wudhu Sekali Lagi</strong><br />
(Aku berkata,  &#8220;Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Maimunah yang  tercantum pada nomor 153 di atas.&#8221;)</p>
<p><strong>Bab Ke-17:  Apabila Teringat Setelah Ada di Masjid Bahwa Dirinya Menanggung Janabah Lalu  Keluar Sebagaimana Keadaannya dan Tidak Bertayamum</strong><br />
158. Abu  Hurairah r.a. berkata, &#8220;Shalat diiqamati dan shaf-shaf telah diluruskan  berdirinya, lalu Rasulullah saw keluar kepada kami [kemudian beliau maju ke  depan, padahal beliau junub, 1/157]. Ketika beliau berdiri di tempat shalat,  beliau teringat bahwa beliau junub, lalu beliau bersabda kepada kami, Tetaplah  di tempatmu.&#8217; [Maka, kami tetap dalam keadaan kami], kemudian beliau pulang,  lalu mandi, kemudian beliau keluar ke tempat kami, sedang kepala beliau masih  meneteskan air, lalu beliau bertakbir, dan kami shalat bersama  beliau.&#8221;<sup>[9]</sup></p>
<p><strong>Bab Ke-18:  Melenyapkan Air dari Tubuh dengan Tangan Setelah Mandi Janabah</strong><br />
(Aku berkata,  &#8220;Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Maimunah di  muka.&#8221;)<br />
<strong></strong></p>
<p><strong>Bab Ke-19:  Orang yang Memulai dengan Belahan Kepalanya Bagian Kanan Waktu  Mandi</strong><br />
159. Aisyah  berkata, &#8220;Apabila salah seorang di antara kami junub, dia mengambil air dengan  kedua tangannya tiga kali untuk dibasuhkan di atas kepalanya, kemudian mengambil  lagi air dengan tangannya yang satu untuk dituangkan pada belahan kepalanya yang  bagian kanan dan mengambil air lagi dengan tangannya yang lain untuk dituangkan  pada belahan kepala bagian kiri.&#8221;</p>
<p><strong>Bab Ke-20: Orang  yang Mandi Sendirian dengan Telanjang di Tempat Sunyi dan Orang yang Menggunakan  Tutup, Maka yang Menggunakan Tutup Itulah yang Lebih Utama</strong><br />
Bahaz berkata dari  ayahnya, dari kakeknya bahwa Nabi Muhammad saw bersabda, &#8220;Allah itu lebih berhak  dimalui daripada seluruh manusia.&#8221;<sup>[10]</sup><br />
160. Abu  Hurairah berkata bahwa Nabi Muhammad saw bersabda, &#8220;Nabi Ayyub mandi telanjang,  lalu jatuhlah atasnya belalang emas [yang banyak, 8/ 197], maka Ayyub memasukkan  ke dalam pakaiannya. Tuhan lalu memanggilnya, &#8216;Hai Ayyub, bukankah Aku telah  mencukupkanmu dari yang kamu lihat?&#8217; Ia berkata, &#8216;Ya, demi kemuliaan Mu [wahai  Tuhanku], tetapi tidak ada batas kecukupan bagiku (yakni aku selalu membutuhkan)  kepada berkah Mu.&#8221;&#8216;</p>
<p><strong>Bab Ke-21:  Membuat Tutup di Waktu Mandi di Sisi Orang Banyak<br />
</strong></p>
<p><strong>Bab Ke-22:  Apabila Wanita Mimpi Bersetubuh</strong><br />
161. (Hadits ini  telah disebutkan pada nomor 86).</p>
<p><strong>Bab Ke-23:  Keringat Orang yang Menanggung Janabah dan Orang Muslim Tidak Najis</strong><br />
163. Abu Hurairah  berkata bahwa Nabi Muhammad saw bertemu dengannya di salah satu jalan Madinah,  sedangkan dia dalam keadaan junub [(katanya), "Lalu beliau memegang tanganku,  kemudian aku berjalan dengan beliau hingga beliau duduk, 1/75], lalu aku  menghindar dari beliau.&#8221; Kemudian, dia pergi mandi, lalu kembali lagi. (Dalam  satu riwayat: Lalu aku datang, sedangkan beliau masih duduk), lalu beliau  bertanya, &#8220;Di mana engkau tadi, wahai Abu Hurairah?&#8221; Abu Hurairah menjawab, &#8220;Aku  dalam keadaan junub, maka aku tidak suka duduk bersama dalam keadaan aku tidak  suci.&#8221; Nabi menimpali, &#8220;Subhanallah! [Wahai Abu Hurairah],<br />
sesungguhnya orang  mukmin itu tidak najis.&#8221;</p>
<p><strong>Bab Ke-24: Orang  Junub Keluar dan Berjalan-jalan di Pasar Atau di Mana Saja</strong><br />
Atha&#8217; berkata,  &#8220;Orang junub itu boleh saja bercanduk, memotong kukunya, dan juga mencukur  kepalanya meskipun belum berwudhu.&#8221;<sup>[11]</sup></p>
<p><strong>Bab Ke-25:  Keberadaan Orang Junub di Rumah Apabila Ia Mandi</strong><br />
163. Ibnu Umar  berkata bahwa Umar ibnul Khaththab bertanya kepada Nabi Muhammad saw., &#8220;Apakah  seseorang di antara kita boleh tidur dalam keadaan junub?&#8221; Beliau menjawab,  &#8220;Boleh, apabila seseorang di antaramu berwudhu, tidurlah dalam keadaan junub.&#8221;  (Dalam riwayat lain: Berwudhulah dan cucilah kemaluanmu, kemudian  tidurlah.&#8221;)</p>
<p><strong>Bab Ke-26: Orang  Junub yang Berwudhu Lalu Tidur</strong><br />
164. Aisyah  berkata, &#8220;Biasanya, apabila Nabi Muhammad saw hendak tidur, padahal beliau masih  junub, beliau mencuci kemaluannya dan berwudhu seperti wudhu untuk  shalat.&#8221;</p>
<p><strong>Bab Ke-27:  Apabila Kemaluan Laki-Laki dan Perempuan Bertemu</strong><br />
165. Abu Hurairah  r.a. berkata bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda, &#8220;Apabila seseorang duduk di  antara cabang wanita yang empat yakni antara kedua kaki dan kedua tangan,  kemudian mengerjakannya dengan sungguh-sungguh (yakni menyetubuhinya), sungguh  ia wajib mandi.&#8221;</p>
<p><strong>Bab Ke-28:  Membersihkan Sesuatu Yang Basah yang Keluar dari Kemaluan Seorang Wanita Apabila  Mengenai Seseorang</strong><br />
166. Ubay bin Ka&#8217;ab  berkata, &#8220;Wahai Rasulullah, apabila seorang laki-laki menyetubuhi istrinya,  tetapi tidak mengeluarkan mani, apakah yang wajib dilakukan olehnya?&#8221; Beliau  menjawab, &#8220;Hendaklah dia mencuci bagian-bagian yang bersentuhan dengan kemaluan  wanita, berwudhu, lalu shalat.&#8221;<sup>[12]</sup></p>
<p>Abu Abdillah  berkata, &#8220;Mandi adalah lebih hati-hati dan merupakan peraturan hukum yang  terakhir. Telah kami jelaskan perbedaan pendapat di antara mereka mengenai  masalah ini.&#8221;</p>
<hr size="1" /><strong>Catatan  Kaki:</strong></p>
<p>[1] Ibnu Khuzaimah menambahkan di dalam Shahih-nya (nomor  251, terbitan Beirut) dari jalan lain dari Aisyah, ia berkata, &#8220;Aku yang  memulainya, lalu aku tuangkan air ke atas kedua tangan beliau sebelum beliau  memasukkannya ke dalam air.&#8221; Sanadnya bagus.<br />
[2] Maksudnya, riwayat dari Ibnu Abbas tanpa menyebut  Maimunah ini adalah sahih; berbeda dengan riwayat Ibnu Uyainah yang mengatakan  dari Ibnu Abbas dari Maimunah karena riwayat ini ganjil.</p>
<p>[3] Hadits ini diringkas karena adanya isyarat pada  perkataan beliau, &#8220;Amma anaa&#8230;&#8221; (Adapun saya di dalam riwayat Muslim (1/178)  disebutkan bagian sebelumnya dari Jubair, katanya, &#8220;Orang-orang berdebat tentang  mandi di sisi Rasulullah saw., lalu sebagian orang berkata, &#8216;Adapun aku, maka  aku cuci kepala aku begini dan begini.&#8217; Kemudian Rasulullah saw. bersabda,  &#8216;Adapun aku &#8230;.&#8217;&#8221;</p>
<p>[4] Atsar Ibnu Umar di-maushul-kan oleh Sa&#8217;id bin  Manshur, sedangkan atsar al-Barra&#8217; di-maushul-kan oleh Ibnu Abi  Syaibah.</p>
<p>[5] Atsar Ibnu Umar di-maushul-kan oleh Abdur Razzaq dan  atsar Ibnu Abbas di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Syaibah, dan oleh Abdur Razzaq  dari jalan lain darinya.</p>
<p>[6] Tambahan ini disebutkan secara mutlak oleh penyusun,  dan al-Hafizh tidak men-takhrij-nya.</p>
<p>[7] Di-maushul-kan oleh Imam Syafi&#8217;i (nomor 70) dengan  sanad sahih darinya (Ibnu Umar), tetapi dalam riwayat ini disebutkan bahwa Ibnu  Umar berwudhu dengan mencuci betisnya, bukan kakinya, kemudian masuk masjid,  kemudian mengusap kedua khuf-nya, lalu shalat dengannya.</p>
<p>[8] Imam Muslim menambahkan (4/12-13), &#8220;Sungguh,  seandainya aku melabur dengan aspal lebih aku sukai daripada berbuat  begitu.&#8221;<br />
Aku (al-Albani) berkata, &#8220;Ibrahim an-Nakha&#8217;i dan lain-lainnya  mengingkari sikap Ibnu Umar itu, mengingat riwayat Aisyah, sebagaimana akan  disebutkan pada Kitab ke-25 &#8216;al-Hajj&#8217;, Bab ke-18.&#8221;</p>
<p>[9] Terdapat kisah lain yang diriwayatkan oleh Abu Bakrah  ats-Tsaqafi dan lainnya; di situ disebutkan bahwa Nabi Muhammad saw. bertakbir,  kemudian berisyarat kepada mereka agar tetap di tempatnya, kemudian beliau pergi  mandi, lantas shalat dengan mereka. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan lainnya, dan  telah aku takhrij dan aku tahqiq kesahihannya di dalam Shahih Abi Dawud nomor  226.</p>
<p>[10] Di-maushul-kan oleh Ashhabus Sunan dan lainnya  dari Bahaz bin Hakim, dari ayahnya, dari kakeknya, yaitu Muawiyah bin Haidah,  dan sanadnya hasan, dan telah aku takhrij di dalam Adabuz Zifaf, halaman  36.</p>
<p>[11] Di-maushul-kan oleh Abdur Razzaq dengan sanad  sahih.</p>
<p>[12] Hadits semakna dengannya telah disebutkan pada  Kitab ke-4 &#8220;al-Wudhu&#8221; dari hadits Utsman dan lainnya, nomor 116, dan hadits ini  di-nasakh (dihapuskan) dengan hadits-hadits lain sebagaimana dapat kita lihat  dalam al Muntaqa dan lain-lainnya. Lihat ta&#8217;liq di muka pada nomor  13.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kumpulanhadist.arisyi-design.web.id/shahih-bukhari/kitab-mandi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kitab Jual-Beli bag.2</title>
		<link>http://kumpulanhadist.arisyi-design.web.id/shahih-bukhari/kitab-jual-beli-bag-2/</link>
		<comments>http://kumpulanhadist.arisyi-design.web.id/shahih-bukhari/kitab-jual-beli-bag-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Mar 2010 12:55:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>azimah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Shahih Bukhari]]></category>
		<category><![CDATA[Jual-Beli]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab Jual-Beli]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kumpulanhadist.arisyi-design.web.id/?p=293</guid>
		<description><![CDATA[21. Keutamaan menangguhkan tagihan kepada pengutang yang dalam keadaan sulit Hadis riwayat Hudzaifah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Para malaikat menerima ruh seorang lelaki dari umat sebelum kamu. Mereka bertanya: Apakah kamu pernah melakukan suatu kebaikan? Ia menjawab: Tidak. Mereka bertanya lagi: Cobalah kamu mengingat! Lelaki itu menjawab: Saya dahulu pernah mengutangkan orang-orang, lalu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>21. Keutamaan menangguhkan tagihan kepada pengutang yang dalam keadaan sulit</p>
<p>Hadis riwayat Hudzaifah ra., ia berkata:</p>
<p>Rasulullah saw. bersabda: Para malaikat menerima ruh seorang lelaki dari umat sebelum kamu. Mereka bertanya: Apakah kamu pernah melakukan suatu kebaikan? Ia menjawab: Tidak. Mereka bertanya lagi: Cobalah kamu mengingat! Lelaki itu menjawab: Saya dahulu pernah mengutangkan orang-orang, lalu aku menyuruh pembantu-pembantuku untuk menangguhkan tagihan utang kepada orang yang sedang dalam kesulitan (miskin) serta memaafkan orang yang kaya. Rasulullah saw. bersabda: Lalu Allah swt. berfirman: Maafkanlah orang itu!. (Shahih Muslim No.2917)</p>
<p>Hadis riwayat Abu Mas`ud ra., ia berkata:</p>
<p>Rasulullah saw. pernah bersabda: Seorang lelaki dari umat sebelum kamu menghadapi penghitungan amal perbuatan, lalu tidak didapati satu amal kebajikan pun miliknya, kecuali bahwa ia pernah mengutangkan manusia ketika masa kaya lalu memerintahkan pembantu-pembantunya untuk memaafkan (membebaskan utang) orang yang kesulitan. Rasulullah saw. bersabda: Allah Azza wa Jalla berfirman: Kami lebih berhak berbuat begitu dari ia, maka ampunilah dia!. (Shahih Muslim No.2921)<br />
<span id="more-293"></span><br />
Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:</p>
<p>Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Dahulu terdapat seorang lelaki yang biasa mengutangkan manusia. Ia berkata kepada pembantunya: Apabila kamu menagih orang yang dalam kesulitan, maka maafkanlah ia, semoga dengan demikian Allah akan mengampuni dosa kita. Kemudian ia menemui Allah, maka Allah mengampuninya. (Shahih Muslim No.2922)</p>
<p>22. Haram menunda pembayaran utang bagi orang kaya, pemindahan utang sah hukumnya serta anjuran menerima bila utangnya dialihkan ke orang kaya</p>
<p>Hadis riwayat Abu Hurairah ra. bahwa</p>
<p>Rasulullah saw. pernah bersabda: Menunda pembayaran utang oleh orang kaya adalah suatu kezaliman, dan bila seorang dari kamu utangnya dialihkan ke orang kaya, maka hendaklah ia menerima. (Shahih Muslim No.2924)</p>
<p>23. Haram menjual air lebih di tanah lapang yang dibutuhkan untuk rerumputan, haram menahan pemanfaatannya serta haram menjual pembuahan hewan pejantan</p>
<p>Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:</p>
<p>Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Aliran air lebih tidak boleh ditahan untuk mencegah pengairan rerumputan. (Shahih Muslim No.2927)</p>
<p>24. Pengharaman harga anjing, upah dukun peramal, bayaran wanita pelacur serta larangan menjual kucing</p>
<p>Hadis riwayat Abu Mas`ud Al-Anshari ra.:</p>
<p>Bahwa Rasulullah saw. melarang (memakan) harga anjing, bayaran wanita pelacur serta upah dukun peramal. (Shahih Muslim No.2930)</p>
<p>25. Perintah membunuh anjing, penjelasan dihapusnya perintah tersebut, haram memelihara anjing kecuali untuk berburu, menjaga tanaman atau ternak dan sejenisnya</p>
<p>Hadis riwayat Ibnu Umar ra.:</p>
<p>Bahwa Rasulullah saw. memerintahkan membunuh anjing. (Shahih Muslim No.2934)</p>
<p>Hadis riwayat Ibnu Umar ra., ia berkata:</p>
<p>Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa memiliki anjing selain anjing penjaga ternak dan anjing pemburu maka setiap hari pahala amalnya berkurang dua qirath. (Shahih Muslim No.2940)</p>
<p>Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:</p>
<p>Dari Rasulullah saw. beliau bersabda: Barang siapa memiliki anjing yang bukan anjing pemburu, penjaga ternak atau penjaga ladang, maka setiap hari pahalanya berkurang dua qirath. (Shahih Muslim No.2947)</p>
<p>Hadis riwayat Sufyan bin Abu Zuhair ra., ia berkata:</p>
<p>Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa memiliki anjing bukan untuk menjaga ladang atau ternak, maka setiap hari pahala amalnya berkurang satu qirath. (Shahih Muslim No.2951)</p>
<p>26. Halal mengambil upah membekam</p>
<p>Hadis riwayat Anas bin Malik ra.:</p>
<p>Anas bin Malik ditanya tentang penghasilan seorang pembekam, maka ia menjawab: Rasulullah saw. pernah berbekam, beliau dibekam oleh Abu Thaibah. Lalu beliau memerintahkan agar Abu Thaibah diberi dua sha` makanan dan berbicara kepada keluarganya, lalu mereka mengurangi sebagian dari pajaknya. Kemudian beliau bersabda: Sebaik-baik obat yang kamu gunakan adalah berbekam, atau: Berbekam adalah obat yang paling baik bagimu. (Shahih Muslim No.2952)</p>
<p>27. Pengharaman menjual khamar</p>
<p>Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:</p>
<p>Ketika turun beberapa ayat terakhir surat Al-Baqarah, Rasulullah saw. keluar lalu membacakannya kepada orang-orang, kemudian beliau mengharamkan perdagangan khamar. (Shahih Muslim No.2958)</p>
<p>28. Pengharaman menjual khamar, bangkai, babi dan berhala</p>
<p>Hadis riwayat Jabir bin Abdullah ra.:</p>
<p>Bahwa ia mendengar Rasulullah saw. bersabda pada tahun penaklukan, ketika beliau masih berada di Mekah: Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya telah mengharamkan penjualan khamar, bangkai, babi dan berhala. Lalu beliau ditanya: Wahai Rasulullah, bagaimana dengan lemak bangkai yang digunakan untuk mengecat perahu, meminyaki kulit dan untuk menyalakan lampu? Beliau menjawab: Tidak boleh, ia tetap haram. Kemudian beliau melanjutkan: Semoga Allah membinasakan orang-orang Yahudi. Sesungguhnya Allah swt. ketika mengharamkan lemak bangkai kepada mereka, mereka lalu mencairkannya dan menjualnya serta memakan harganya. (Shahih Muslim No.2960)</p>
<p>Hadis riwayat Umar ra.:</p>
<p>Dari Ibnu Abbas ra. ia berkata: Umar ra. mendengar berita bahwa Samurah menjual khamar, maka ia berkata: Semoga Allah membinasakan Samurah. Apakah ia tidak mengetahui bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda: Allah melaknat orang Yahudi karena telah diharamkan lemak bangkai kepada mereka, kemudian mereka mencairkannya lalu menjualnya. (Shahih Muslim No.2961)</p>
<p>Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:</p>
<p>Dari Rasulullah saw. beliau bersabda: Semoga Allah membinasakan orang Yahudi. Allah telah mengharamkan lemak bangkai atas mereka, kemudian mereka menjualnya lalu memakan harganya. (Shahih Muslim No.2962)</p>
<p>29. Riba</p>
<p>Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri ra.:</p>
<p>Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Janganlah kamu menjual emas dengan emas kecuali sama kadarnya dan janganlah melebihkan sebagiannya dengan mengurangi sebagian yang lain. Janganlah menjual perak dengan perak kecuali sama kadarnya dan janganlah melebihkan sebagiannya dengan mengurangi sebagian yang lain. Dan janganlah menjual sesuatu yang berjangka dengan yang kontan. (Shahih Muslim No.2964)</p>
<p>30. Penukaran mata-uang dan jual beli emas dengan perak secara tunai</p>
<p>Hadis riwayat Umar bin Khathab ra.:</p>
<p>Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Penukaran perak dengan emas itu riba kecuali dengan serah-terima secara langsung. Dan penukaran gandum dengan gandum itu riba kecuali dengan serah-terima secara langsung. Dan penukaran kurma dengan kurma itu riba kecuali dengan serah-terima secara langsung. (Shahih Muslim No.2968)</p>
<p>31. Larangan menjual perak dengan emas dalam bentuk utang</p>
<p>Hadis riwayat Barra` bin Azib ra.:</p>
<p>Dari Abul Minhal ia berkata: Seorang kawan berserikatku menjual perak dengan cara kredit sampai musim haji lalu ia datang menemuiku dan memberitahukan hal itu. Aku berkata: Itu adalah perkara yang tidak baik. Ia berkata: Tetapi aku telah menjualnya di pasar dan tidak ada seorang pun yang mengingkarinya. Maka aku (Abul Minhal) mendatangi Barra` bin `Azib dan menanyakan hal itu. Ia berkata: Nabi saw. tiba di Madinah sementara kami biasa melakukan jual beli seperti itu, lalu beliau bersabda: Selama dengan serah-terima secara langsung, maka tidak apa-apa. Adapun yang dengan cara kredit maka termasuk riba. Temuilah Zaid bin Arqam, karena ia memiliki barang dagangan yang lebih banyak dariku. Aku lalu menemuinya dan menanyakan hal itu. Ia menjawab seperti jawaban Barra`. (Shahih Muslim No.2975)</p>
<p>Hadis riwayat Abu Bakrah ra., ia berkata:</p>
<p>Rasulullah saw. melarang penukaran perak dengan perak, emas dengan emas, kecuali yang sama kadarnya. Dan beliau juga menyuruh kita membeli perak dengan emas dengan cara apa pun yang kita kehendaki, membeli emas dengan perak dengan cara apa pun yang kita kehendaki. Seorang lelaki bertanya kepadanya: Yaitu dengan serah-terima secara langsung? Abu Bakrah menjawab: Demikianlah yang aku dengar. (Shahih Muslim No.2977)</p>
<p>32. Jual-beli (penukaran) makanan harus dengan yang sama kadarnya</p>
<p>Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:</p>
<p>Bahwa Rasulullah saw. mengutus saudara Bani Adi Al-Anshari sebagai wakil beliau di Khaibar. Kemudian ia datang membawa kurma janib (kurma bermutu baik). Rasulullah saw. bertanya kepadanya: Apakah semua kurma Khaibar seperti ini? Dia menjawab: Tidak, demi Allah, wahai Rasulullah, kami membeli satu sha` kurma ini dengan dua sha` kurma jelek. Rasulullah saw. bersabda: Janganlah kamu berbuat demikian. Tetapi tukarlah dengan yang sejenis, atau juallah ini (kurma yang jelek) lalu belilah kurma yang baik dengan uang penjualannya dan demikian juga dengan timbangan. (Shahih Muslim No.2983)</p>
<p>Hadis riwayat Abu Said ra., ia berkata:</p>
<p>Bilal datang membawa kurma Barni (sejenis kurma berkwalitas baik) lalu Rasulullah saw. bertanya: Dari mana kamu memperoleh kurma ini? Bilal menjawab: Kami mempunyai kurma jelek lalu aku menjual sebanyak dua sha` dengan satu sha` (kurma yang baik) untuk santapan Nabi saw. Mendengar itu Rasulullah saw. bersabda: Itulah riba, janganlah berbuat seperti itu! Tetapi jika kamu ingin membeli kurma yang baik, juallah kurmamu dengan harga tertentu lalu belilah kurma yang baik dengan harga itu. (Shahih Muslim No.2985)</p>
<p>Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri ra.:</p>
<p>Dari Abu Nadhrah ia berkata: Aku bertanya kepada Ibnu Abbas ra. tentang tukar-menukar emas dengan emas atau emas dengan perak atau perak dengan emas, maka ia balik bertanya: Apakah dengan serah-terima secara langsung? Aku menjawab: Ya. Kemudian ia berkata: Tidak apa-apa. Maka aku memberitahu Abu Said, aku berkata: Aku pernah bertanya kepada Ibnu Abbas ra. tentang tukar menukar emas dengan emas atau emas dengan perak atau perak dengan emas, ia balik bertanya: Apakah dengan serah-terima secara langsung? Aku menjawab: Ya. Ia berkata: Kalau begitu, tidak apa-apa. Dia (Abu Said) berkata: Benarkah ia berkata demikian? Aku akan menulis surat kepadanya agar ia tidak lagi memberikan fatwa begitu kepadamu. Ia melanjutkan: Demi Allah, beberapa orang pemuda pernah datang kepada Rasulullah saw. membawa sejenis kurma yang beliau tidak kenal lalu beliau bersabda: Sepertinya kurma ini bukan berasal dari tanah kita. Pemuda tadi berkata: Dalam kurma hasil tanah kita atau kurma kita tahun ini terdapat sedikit kerusakan, lalu aku menukarkan kurma yang baik ini dengan menambahkan takaran (kurma jelek). Beliau bersabda: Kamu telah melebihkan, berarti kamu telah melakukan riba. Jangan sekali-kali kamu lakukan itu, apabila kurmamu tidak baik, maka juallah, kemudian uangnya kamu belikan kurma yang lebih baik sesuai dengan seleramu. (Shahih Muslim No.2988)</p>
<p>Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri ra., ia berkata:</p>
<p>Dinar ditukar dengan dinar, dirham dengan dirham harus sama nilainya. Barang siapa menambah atau meminta tambahan berarti ia telah melakukan riba. Maka aku berkata kepadanya: Sesungguhnya Ibnu Abbas ra. tidak mengatakan demikian. Ia berkata: Aku telah menemui Ibnu Abbas ra. lalu aku bertanya kepadanya: Apa pendapatmu mengenai apa yang kamu katakan, apakah itu sesuatu yang kamu dengar dari Rasulullah saw. atau kamu temukan dari Kitab Allah? Maka ia berkata: Aku tidak mendengarnya dari Rasulullah dan tidak mendapatkannya dari Kitab Allah, tetapi Usamah bin Zaid berkata kepadaku bahwa Nabi saw. pernah bersabda: Riba itu terdapat dalam penundaan pembayaran. (Shahih Muslim No.2990)</p>
<p>Hadis riwayat Usamah bin Zaid ra.:</p>
<p>Bahwa Nabi saw. bersabda: Sesungguhnya riba itu hanya terdapat pada penundaan pembayaran. (Shahih Muslim No.2991)</p>
<p>33. Mengambil yang halal dan meninggalkan yang syubhat</p>
<p>Hadis riwayat Nu`man bin Basyir ra., ia berkata:</p>
<p>Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda (Nu`man menggerakkan jari-jemari ke telinganya): Sesungguhnya perkara yang halal itu telah jelas dan perkara yang haram itu pun telah jelas dan di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (tidak jelas hukumnya) yang tidak diketahui oleh orang banyak. Oleh karena itu, barang siapa menghindari perkara syubhat, ia telah membebaskan agama dan kehormatannya. Dan orang yang terjerumus ke dalam syubhat, berarti telah terjerumus ke dalam perkara haram, seperti penggembala yang menggembalakan di sekitar tempat terlarang, maka kemungkinan besar gembalaannya akan masuk ke tempat terlarang itu. Ketahuilah! Sesungguhnya setiap penguasa itu memiliki daerah terlarang. Ketahuilah! Sesungguhnya daerah terlarang milik Allah adalah apa-apa yang diharamkan-Nya. Ketahuilah! Sesungguhnya di dalam tubuh itu terdapat segumpal daging, apabila ia baik, maka akan baik pula seluruh tubuh, dan jika ia rusak, maka akan rusak pula seluruh tubuh, ketahuilah itu adalah hati. (Shahih Muslim No.2996)</p>
<p>34. Orang yang berutang sesuatu lalu melunasi dengan yang lebih baik, dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik dalam melunasi utang</p>
<p>Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:</p>
<p>Seorang lelaki mempunyai piutang pada Rasulullah saw., lalu ia menagih beliau dengan cara kasar sehingga para sahabat Nabi saw. ingin membalasnya. Maka bersabdalah Nabi saw.: Sesungguhnya pemilik piutang itu berhak mengatakan apa saja. Belilah seekor unta lalu berikanlah kepadanya! Mereka berkata: Kami tidak mendapatkan kecuali unta yang lebih baik dari untanya. Beliau bersabda: Belilah dan berikanlah kepadanya! Karena sesungguhnya termasuk orang yang terbaik di antara kamu atau orang yang terbaik di antara kamu adalah yang paling baik dalam melunasi utangnya. (Shahih Muslim No.3003)</p>
<p>35. Boleh bergadai, baik ketika bermukim maupun dalam perjalanan</p>
<p>Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:</p>
<p>Rasulullah saw. pernah membeli makanan dari seorang Yahudi dengan cara menangguhkan pembayarannya lalu beliau menyerahkan baju besi beliau sebagai jaminan. (Shahih Muslim No.3007)</p>
<p>36. Jual-beli salam (pemesanan)</p>
<p>Hadis riwayat Ibnu Abbas ra., ia berkata:</p>
<p>Nabi saw. tiba di Madinah sedang penduduknya biasa melakukan pemesanan buah-buahan dengan harga kontan selama satu sampai dua tahun. Maka beliau bersabda: Barang siapa yang membeli kurma dengan cara memesan, hendaklah ia memesan dalam takaran yang diketahui atau timbangan yang diketahui serta batas waktu yang diketahui pula. (Shahih Muslim No.3010)</p>
<p>37. Larangan bersumpah dalam jual beli</p>
<p>Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:</p>
<p>Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: Sumpah itu penyebab lakunya barang dagangan, tetapi menghapus keberkahan laba. (Shahih Muslim No.3014)</p>
<p>38. Syuf`ah</p>
<p>Hadis riwayat Jabir ra., ia berkata:</p>
<p>Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang berserikat dengan orang lain dalam memiliki rumah atau pohon kurma, maka ia tidak boleh menjualnya sebelum memberitahukan kawan serikatnya, apabila ia rela, maka ia boleh mengambil (harganya) dan jika tidak suka, maka ia harus meninggalkan (tidak menjual). (Shahih Muslim No.3016)</p>
<p>39. Menancapkan kayu di dinding tetangga</p>
<p>Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:</p>
<p>Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Janganlah seorang di antara kamu melarang tetangganya menancapkan kayu di dindingnya. (Shahih Muslim No.3019)</p>
<p>40. Pengharaman berbuat zalim, merampas tanah dan lainnya</p>
<p>Hadis riwayat Said bin Zaid bin Amru bin Nufail ra.:</p>
<p>Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa mengambil sejengkal tanah dengan zalim, maka Allah akan mengalungkannya di hari kiamat setebal tujuh lapis bumi. (Shahih Muslim No.3020)</p>
<p>Hadis riwayat Aisyah ra.:</p>
<p>Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa berbuat zalim dengan mengambil tanah seluas sejengkal, maka akan dikalungkan di lehernya setebal tujuh lapis bumi. (Shahih Muslim No.3025)</p>
<p>41. Ukuran luas jalan bila diperselisihkan orang</p>
<p>Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:</p>
<p>Bahwa Nabi saw. bersabda: Apabila kalian berselisih luas jalan, maka lebarnya ditetapkan tujuh hasta. (Shahih Muslim No.3026)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kumpulanhadist.arisyi-design.web.id/shahih-bukhari/kitab-jual-beli-bag-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kitab Jual-Beli bag.1</title>
		<link>http://kumpulanhadist.arisyi-design.web.id/shahih-bukhari/kitab-jual-beli-bag-1/</link>
		<comments>http://kumpulanhadist.arisyi-design.web.id/shahih-bukhari/kitab-jual-beli-bag-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Mar 2010 12:54:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>azimah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Shahih Bukhari]]></category>
		<category><![CDATA[Jual-Beli]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab Jual-Beli]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kumpulanhadist.arisyi-design.web.id/?p=292</guid>
		<description><![CDATA[1. Penghapusan cara jual beli mulamasah dan munabadzah Hadis riwayat Abu Hurairah ra.: Bahwa Rasulullah saw. melarang sistem jual beli mulamasah (wajib membeli jika pembeli telah menyentuh barang dagangan) dan munabadzah (sistem barter antara dua orang dengan melemparkan barang dagangan masing-masing tanpa memeriksanya). (Shahih Muslim No.2780) Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri ra., ia berkata: Rasulullah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>1. Penghapusan cara jual beli mulamasah dan munabadzah</p>
<p>Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:</p>
<p>Bahwa Rasulullah saw. melarang sistem jual beli mulamasah (wajib membeli jika pembeli telah menyentuh barang dagangan) dan munabadzah (sistem barter antara dua orang dengan melemparkan barang dagangan masing-masing tanpa memeriksanya). (Shahih Muslim No.2780)</p>
<p>Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri ra., ia berkata:</p>
<p>Rasulullah saw. melarang kita melakukan dua macam jual beli dan dua macam pakaian. Beliau melarang mulamasah dan munabadzah dalam jual beli. (Shahih Muslim No.2782)</p>
<p>2. Pengharaman jual beli janin</p>
<p>Hadis riwayat Abdullah bin Umar ra.:</p>
<p>Dari Rasulullah saw. bahwa beliau melarang jual beli janin yang dikandung seekor unta. (Shahih Muslim No.2784)<br />
<span id="more-292"></span><br />
3. Pengharaman seorang membeli atas pembelian orang lain dan menawar atas penawarannya serta pengharaman najasy dan tashriah</p>
<p>Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:</p>
<p>Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Janganlah seorang muslim menawar atas penawaran saudaranya. (Shahih Muslim No.2788)</p>
<p>Hadis riwayat Ibnu Umar ra.:</p>
<p>Bahwa Rasulullah saw. melarang sistem penjualan najasy (meninggikan harga untuk menipu). (Shahih Muslim No.2792)</p>
<p>4. Pengharaman mencegat barang dagangan</p>
<p>Hadis riwayat Ibnu Umar ra.:</p>
<p>Bahwa Rasulullah saw. melarang mencegat barang dagangan sebelum tiba di pasar. Demikian menurut redaksi Ibnu Numair. Sedang menurut dua perawi yang lain: Sesungguhnya Nabi saw. melarang pencegatan. (Shahih Muslim No.2793)</p>
<p>Hadis riwayat Abdullah bin Mas`ud ra.:</p>
<p>Dari Nabi saw. bahwa beliau melarang pencegatan (blokir) barang-barang dagangan. (Shahih Muslim No.2794)</p>
<p>5. Pengharaman orang kota menjual kepada orang desa (badui)</p>
<p>Hadis riwayat Ibnu Abbas ra., ia berkata:</p>
<p>Rasulullah saw. melarang pencegatan kafilah barang dan penjualan orang kota kepada orang desa (badui). (Shahih Muslim No.2798)</p>
<p>Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata:</p>
<p>Kami dilarang, seorang kota menjual kepada orang desa, meskipun saudaranya atau ayahnya. (Shahih Muslim No.2800)</p>
<p>6. Hukum penjualan hewan yang ditashriah</p>
<p>Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:</p>
<p>Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa membeli seekor kambing yang ditashriah (yang tidak diperah susunya agar disangka subur), hendaklah ia membawa kembali lalu memerahnya, jika ia rela dengan susu perahannya, maka ia boleh menahan kambing itu (tidak mengembalikan) dan jika tidak rela, ia boleh mengembalikannya disertai satu sha` kurma. (Shahih Muslim No.2802)</p>
<p>7. Batal menjual barang sebelum diterima</p>
<p>Hadis riwayat Ibnu Abbas ra.:</p>
<p>Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa membeli makanan, janganlah menjualnya sampai ia menerimanya dengan sempurna. (Shahih Muslim No.2807)</p>
<p>8. Ditetapkannya hak pilih dalam majelis bagi pelaku jual pembeli</p>
<p>Hadis riwayat Ibnu Umar ra.:</p>
<p>Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Penjual dan pembeli, masing-masing mempunyai hak pilih (untuk mengesahkan transaksi atau membatalkannya) atas pihak lain selama belum berpisah, kecuali jual beli khiyar (kesepakatan memperpanjang masa hak pilih sampai setelah berpisah). (Shahih Muslim No.2821)</p>
<p>9. Tentang kejujuran dan keterus-terangan dalam jual beli</p>
<p>Hadis riwayat Hakim bin Hizam ra.:</p>
<p>Dari Nabi saw. beliau bersabda: Penjual dan pembeli memiliki hak pilih selama belum berpisah. Apabila mereka jujur dan mau menerangkan (keadaan barang), mereka akan mendapat berkah dalam jual beli mereka. Dan jika mereka bohong dan menutupi (cacat barang), akan dihapuskan keberkahan jual beli mereka. (Shahih Muslim No.2825)</p>
<p>10. Orang yang ditipu dalam jual beli</p>
<p>Hadis riwayat Ibnu Umar ra.:</p>
<p>Seorang lelaki melaporkan kepada Rasulullah saw. bahwa ia tertipu dalam jual beli. Maka Rasulullah saw. bersabda: Katakanlah kepada orang yang kamu ajak berjual-beli: Tidak boleh menipu! Sejak itu jika ia bertransaksi jual beli, ia berkata: Tidak boleh menipu!. (Shahih Muslim No.2826)</p>
<p>11. Larangan menjual buah-buahan yang belum tampak jadinya tanpa syarat untuk dipetik</p>
<p>Hadis riwayat Ibnu Umar ra.:</p>
<p>Bahwa Rasulullah saw. melarang menjual buah-buahan sebelum tampak jadinya. Beliau melarang pihak penjual dan pembeli. (Shahih Muslim No.2827)</p>
<p>Hadis riwayat Jabir ra., ia berkata:</p>
<p>Rasulullah saw. melarang kami menjual buah-buahan sebelum matang (enak dimakan). (Shahih Muslim No.2831)</p>
<p>Hadis riwayat Ibnu Abbas r.as.., ia berkata:</p>
<p>Rasulullah saw. melarang menjual pohon kurma sebelum ia memakan sebagian buahnya atau dimakan orang lain dan sebelum ditimbang. Aku bertanya: Apa yang dimaksud dengan ditimbang? Seorang lelaki yang berada di sebelahnya menjawab: Yaitu ditaksir. (Shahih Muslim No.2833)</p>
<p>Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:</p>
<p>Rasulullah saw. bersabda: Janganlah membeli buah-buahan sebelum tampak matangnya. (Shahih Muslim No.2834)</p>
<p>12. Haram menjual kurma basah dengan kurma kering kecuali dalam (jual beli) araya (ariah)</p>
<p>Hadis riwayat Zaid bin Tsabit ra.: Bahwa</p>
<p>Rasulullah saw. memberi keringanan kepada pemilik kurma basah untuk menjualnya dengan cara ditaksir dengan kurma kering. (Shahih Muslim No.2838)</p>
<p>Hadis riwayat Sahal bin Abu Hatsmah ra.:</p>
<p>Bahwa Rasulullah saw. melarang penjualan kurma basah dengan kurma kering, beliau bersabda: Demikian itu adalah riba yang ada dalam muzabanah, hanya saja beliau memberi keringanan dalam penjualan secara Ariah, yaitu satu atas.u dua buah pohon kurma diambil oleh suatu keluarga dengan cara ditaksir dengan kurma kering lalu mereka makan buahnya yang masih setengah matang. (Shahih Muslim No.2842)</p>
<p>Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:</p>
<p>Bahwa Rasulullah saw. memberi keringanan dalam jual beli Araya dengan cara ditaksir dengan syarat kurang dari lima wasak atau sebanyak lima wasak. (Shahih Muslim No.2845)</p>
<p>Hadis riwayat Ibnu Umar ra.:</p>
<p>Bahwa Rasulullah saw. melarang Muzabanah. Muzabanah ialah menjual kurma basah dengan kurma kering dengan takaran (yang sama) dan menjual anggur segar dengan anggur kering (kismis) dengan takaran. (Shahih Muslim No.2846)</p>
<p>13. Menjual pohon kurma yang sedang berbuah</p>
<p>Hadis riwayat Ibnu Umar ra.:</p>
<p>Bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda: Barang siapa menjual pohon kurma yang sudah dikawinkan, maka buahnya untuk penjual, kecuali jika disyaratkan oleh pembeli. (Shahih Muslim No.2851)</p>
<p>14. Tentang penyewaan tanah</p>
<p>Hadis riwayat Jabir bin Abdullah ra.:</p>
<p>Bahwa Rasulullah saw. melarang penyewaan tanah. (Shahih Muslim No.2861)</p>
<p>Hadis riwayat Ibnu Umar ra., ia berkata:</p>
<p>Dahulu kami berpendapat bahwa mukhabarah (menggarap tanah milik orang lain dengan syarat upahnya adalah sebagian dari hasilnya) tidak apa-apa. Sampai pada tahun awal, Rafi` menyangka bahwa Nabi saw. telah melarangnya. (Shahih Muslim No.2879)</p>
<p>15. Memberikan tanah</p>
<p>Hadis riwayat Ibnu Abbas ra.:</p>
<p>Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Seseorang memberikan tanahnya kepada saudaranya adalah lebih baik baginya daripada ia memungut hasil panen tertentu (sebagai imbalan atas penyewaan tanah tadi). (Shahih Muslim No.2892)</p>
<p>16. Pengairan dan transaksi dengan sebagian hasil buah-buahan dan pertanian</p>
<p>Hadis riwayat Ibnu Umar ra.:</p>
<p>Bahwa Rasulullah saw. mempekerjakan penduduk Khaibar dengan upah separuh hasil panen tanah yang digarap berupa buah atau tanaman. (Shahih Muslim No.2896)</p>
<p>17. Keutamaan bercocok tanam dan bertani</p>
<p>Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata:</p>
<p>Rasulullah saw. bersabda: Tidak ada seorang muslim pun yang menanam suatu pohon atau bertani dengan suatu macam tanaman kemudian dimakan burung, manusia atau ternak melainkan hal itu akan menjadi sedekah baginya. (Shahih Muslim No.2904)</p>
<p>18. Menghindari hama tanaman</p>
<p>Hadis riwayat Anas ra.:</p>
<p>Bahwa Nabi saw. melarang penjualan buah kurma yang belum masak. Kami bertanya kepada Anas: Apa tanda kemasakannya? Dia menjawab: Memerah atau menguning. Bagaimana pendapatmu jika Allah menggagalkan (panen) buah kurma itu, dengan apa kamu menghalalkan harta saudaramu?. (Shahih Muslim No.2906)</p>
<p>19. Sunah membebaskan utang</p>
<p>Hadis riwayat Kaab bin Malik ra.:</p>
<p>Bahwa ia pernah menagih utang kepada Ibnu Abu Hadrad pada masa Rasulullah saw. di dalam mesjid. Suara mereka berdua keras sekali sehingga didengar Rasulullah saw. yang sedang berada di dalam rumah. Lalu beliau keluar menemui mereka hingga menyingkap tirai kamarnya, lalu memanggil Kaab bin Malik: Hai Kaab! Kaab menjawab: Saya, wahai Rasulullah. Kemudian beliau mengisyaratkan dengan tangannya agar Kaab membebaskan setengah utangnya. Kaab berkata: Sudah aku lakukan, wahai Rasulullah. Beliau bersabda (kepada Ibnu Abu Hadrad): Bangunlah dan bayarlah!. (Shahih Muslim No.2912)</p>
<p>20. Orang yang mendapati barang jualannya pada pihak pembeli yang telah bangkrut, maka ia boleh menarik kembali barangnya</p>
<p>Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:</p>
<p>Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa mendapatkan hartanya masih utuh pada seorang lelaki atau seorang manusia yang telah bangkrut, maka ia lebih berhak atas harta tersebut daripada orang lain. (Shahih Muslim No.2913)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kumpulanhadist.arisyi-design.web.id/shahih-bukhari/kitab-jual-beli-bag-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kitab Witir</title>
		<link>http://kumpulanhadist.arisyi-design.web.id/shahih-bukhari/kitab-witir/</link>
		<comments>http://kumpulanhadist.arisyi-design.web.id/shahih-bukhari/kitab-witir/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Mar 2010 12:51:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>azimah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Shahih Bukhari]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab Witir]]></category>
		<category><![CDATA[Witir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kumpulanhadist.arisyi-design.web.id/?p=290</guid>
		<description><![CDATA[Bab Ke-1: Keterangan-Keterangan Mengenai Shalat Witir 526. Nafi&#8217; mengatakan bahwa Abdullah bin Umar shalat antara serakaat dan dua rakaat dalam shalat witir. Sehingga, ia memerintahkan seseorang untuk melakukan sesuatu yang dihajatkan olehnya. 527. Al-Qasim berkata, &#8220;Kamu melihat orang banyak sejak saat kami dewasa, semuanya mengerjakan shalat witir tiga rakaat, dan sesungguhnya masing-masing[1] leluasa dikerjakan. Aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bab Ke-1: Keterangan-Keterangan Mengenai Shalat Witir</p>
<p>526. Nafi&#8217; mengatakan bahwa Abdullah bin Umar shalat antara serakaat dan dua rakaat dalam shalat witir. Sehingga, ia memerintahkan seseorang untuk melakukan sesuatu yang dihajatkan olehnya.</p>
<p>527. Al-Qasim berkata, &#8220;Kamu melihat orang banyak sejak saat kami dewasa, semuanya mengerjakan shalat witir tiga rakaat, dan sesungguhnya masing-masing[1] leluasa dikerjakan. Aku berharap tidak ada suatu kesalahan pun.&#8221;<br />
<span id="more-290"></span><br />
528. Aisyah r.a. mengatakan bahwa Rasulullah selalu shalat sebelas rakaat. Itulah shalat beliau, maksudnya di malam hari. Lalu beliau sujud selama sekitar salah seorang di antaramu membaca lima puluh ayat sebelum beliau mengangkat kepala. Beliau shalat dua rakaat sebelum shalat subuh. Beliau berbaring pada lambung yang sebelah kanan sehingga muadzin datang untuk (iqamah) shalat (subuh).</p>
<p>Bab Ke-2: Waktu-Waktu Melakukan Witir</p>
<p>Abu Hurairah berkata, &#8220;Nabi saw berpesan kepadaku supaya melakukan shalat witir sebelum tidur.&#8221;[2]</p>
<p>529. Anas bin Sirin berkata, &#8220;Aku bertanya kepada Ibnu Umar, &#8216;Apakah yang Anda ketahui mengenai shalat sunnah dua rakaat sebelum mengerjakan shalat subuh, apakah aku boleh memperpanjang bacaan padanya?&#8217; Ibnu Umar menjawab, &#8216;Nabi shalat di waktu malam dua rakaat dua rakaat dan melakukan witir satu rakaat. Lalu, shalat dua rakaat sebelum shalat subuh dan seolah-olah azan (yakni iqamah) sudah ada di kedua telinganya.&#8221; Hammad berkata, &#8220;Yakni dilakukan dengan cepat.&#8221;[3]</p>
<p>530. Aisyah berkata, &#8220;Setiap malam Rasulullah melakukan witir dan witirnya berakhir sampai waktu sahur.&#8221;</p>
<p>Bab Ke-3: Nabi Membangunkan Istrinya Supaya Mengerjakan Shalat Witir</p>
<p>(Saya berkata, &#8220;Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya bagian dari hadits Aisyah yang tercantum pada nomor 289 di muka.&#8221;)</p>
<p>Bab Ke-4: Hendaklah Seseorang Menjadikan Shalat Witir Sebagai Akhir Shalatnya (di Waktu Malam)</p>
<p>531. Abdullah bin Umar mengatakan bahwa Nabi saw. bersabda, &#8220;Jadikanlah akhir shalatmu pada malam hari dengan witir.&#8221;</p>
<p>Bab Ke-5: Mengerjakan Shalat Witir di Atas Kendaraan</p>
<p>532. Sa&#8217;id bin Yasar berkata, &#8220;Pada suatu ketika aku berjalan bersama-sama Abdullah bin Umar di jalan menuju Mekah. Ketika aku merasa khawatir subuh akan datang, aku turun dari kendaraan lalu aku shalat witir, sesudah itu aku susul Abdullah. Abdullah bertanya, &#8216;Ke mana engkau?&#8217; Aku menjawab, &#8216;Aku khawatir kedahuluan masuk waktu subuh. Karena itu, aku turun dari kendaraan lalu aku shalat witir.&#8217; Abdullah berkata, &#8216;Bukankah pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagimu?&#8217; Aku menjawab, &#8216;Sudah tentu, demi Allah.&#8217; Abdullah menjawab, &#8216;Sesungguhnya Rasulullah pernah melakukan shalat witir di atas kendaraan.&#8217;&#8221;[4]</p>
<p>Bab Ke-6: Mengerjakan Shalat Witir di Perjalanan</p>
<p>533. Ibnu Umar berkata, &#8220;Nabi shalat dalam perjalanan di atas kendaraannya. Ke arah mana pun kendaraannya menghadap, maka ke situ pulalah beliau menghadap sambil berisyarat sebagai melaksanakan shalatullail. Ini beliau lakukan selain shalat-shalat yang difardhukan. Beliau juga berwitir di atas kendaraannya.&#8221;</p>
<p>Bab Ke-7: Qunut Sebelum Ruku dan Sesudahnya</p>
<p>534. Anas berkata, &#8220;Qunut itu pada shalat magrib dan subuh.&#8221;</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>Catatan Kaki:</p>
<p>[1] Yakni witir satu rakaat dan tiga rakaat. Akan tetapi, witir tiga rakaat dengan dua tasyahhud kemudian salam, terdapat riwayat sahih yang melarangnya. Maka, cara mengerjakan shalat witir tiga rakaat ini boleh jadi dengan satu kali tasyahud, atau dibagi dua dengan melakukan dua rakaat lalu salam, kemudian satu rakaat lagi lantas salam. Penjelasan mengenai masalah ini dapat dilihat di dalam risalah saya Shalatut Tarawih halaman 111-115.</p>
<p>[2] Di-maushul-kan oleh penyusun (Imam Bukhari) di dalam bab yang akan datang pada &#8220;19 AT-TAHAJJUD / 33 &#8211; BAB&#8221;, dan di-maushul-kan oleh Ahmad dari beberapa jalan (2/299, 254, 258, 260, 265, 271, 277, 311, 329, 331, 347, 392, 412, 459, 472, 484, 489, 497, 499, 505, 526).</p>
<p>[3] Dalam sebagian naskah disebutkan dengan lafal bi sur&#8217;atin &#8216;dengan cepat&#8217;. Dan yang dimaksud dengan azan di sini adalah iqamah. Yakni, shalatnya cepat seperti cepatnya orang yang mendengar iqamah untuk shalat (gugup).</p>
<p>[4] Hadits ini ditentang oleh golongan Hanafiah. Mereka berkata, &#8220;Tidak boleh mengerjakan shalat witir di atas kendaraan.&#8221; Akan tetapi, hadits ini menyangkal pendapat mereka. Ath-Thahawi menganggap di dalam Syarhul Ma&#8217;ani (1/249) bahwa pendapat itu mansukh, karena tidak ada dalilnya melainkan semata-mata pemikiran.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kumpulanhadist.arisyi-design.web.id/shahih-bukhari/kitab-witir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

