<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kumpulan Hadist &#187; Pendahuluan</title>
	<atom:link href="http://kumpulanhadist.arisyi-design.web.id/category/pendahuluan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kumpulanhadist.arisyi-design.web.id</link>
	<description>Kumpulan Hadist</description>
	<lastBuildDate>Wed, 12 Oct 2011 07:21:40 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1.1</generator>
		<item>
		<title>Mengenal Ilmu Hadits</title>
		<link>http://kumpulanhadist.arisyi-design.web.id/pendahuluan/mengenal-ilmu-hadits/</link>
		<comments>http://kumpulanhadist.arisyi-design.web.id/pendahuluan/mengenal-ilmu-hadits/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Sep 2009 07:40:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>azimah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendahuluan]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu Hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kumpulanhadist.arisyi-design.web.id/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Definisi Musthola&#8217;ah Hadits HADITS ialah sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW baik berupa perkataan, perbuatan, pernyataan, taqrir, dan sebagainya. ATSAR ialah sesuatu yang disandarkan kepada para sahabat Nabi Muhammad SAW. TAQRIR ialah keadaan Nabi Muhammad SAW yang mendiamkan, tidak mengadakan sanggahan atau menyetujui apa yang telah dilakukan atau diperkatakan oleh para sahabat di hadapan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><strong>Definisi Musthola&#8217;ah  Hadits</strong></p>
<p>HADITS ialah sesuatu yang  disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW baik berupa perkataan, perbuatan,  pernyataan, taqrir, dan sebagainya.</p>
<p>ATSAR ialah sesuatu yang disandarkan  kepada para sahabat Nabi Muhammad SAW.</p>
<p>TAQRIR ialah keadaan Nabi Muhammad  SAW yang mendiamkan, tidak mengadakan sanggahan atau menyetujui apa yang telah  dilakukan atau diperkatakan oleh para sahabat di hadapan beliau.</p>
<p>SAHABAT  ialah orang yang bertemu Rosulullah SAW dengan pertemuan yang wajar sewaktu  beliau masih hidup, dalam keadaan islam lagi beriman dan mati dalam keadaan  islam.</p>
<p>TABI&#8217;IN ialah orang yang menjumpai sahabat, baik perjumpaan itu  lama atau sebentar, dan dalam keadaan beriman dan islam, dan mati dalam keadaan  islam.</p>
<p>MATAN ialah lafadz hadits yang diucapkan oleh Nabi Muhammad SAW,  atau disebut juga isi hadits.</p>
<p align="justify"><strong>Unsur-Unsur Yang Harus Ada Dalam  Menerima Hadits</strong><strong><br />
</strong><em><br />
<em>Rawi</em></em>, yaitu orang yang  menyampaikan atau menuliskan hadits dalam suatu kitab apa-apa yang pernah  didengar dan diterimanya dari seseorang atau gurunya. Perbuatannya menyampaikan  hadits tersebut dinamakan merawi atau meriwayatkan hadits dan orangnya disebut  perawi hadits.</p>
<p align="justify"><strong>Sistem Penyusun Hadits Dalam  Menyebutkan Nama Rawi</strong></p>
<p align="justify">
<span id="more-24"></span></p>
<ol>
<li>
<p align="justify">As Sab&#8217;ah berarti diriwayatkan oleh tujuh  perawi, yaitu :<br />
1. Ahmad<br />
2. Bukhari<br />
3. Turmudzi<br />
4. Nasa&#8217;i<br />
5.  Muslim<br />
6. Abu Dawud<br />
7. Ibnu Majah</li>
<li>
<p align="justify">As Sittah berarti diriwayatkan oleh enam  perawi yaitu : Semua nama yang tersebut diatas (As Sab&#8217;ah) selain Ahmad</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Al Khomsah berarti diriwayatkan oleh lima  perawi yaitu : Semua nama yang tersebut diatas (As Sab&#8217;ah) selain Bukhari dan  Muslim</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Al Arba&#8217;ah berarti diriwayatkan oleh empat  perawi yaitu : Semua nama yang tersebut diatas (As Sab&#8217;a) selain Ahmad, Bukhari  dan Muslim.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Ats Tsalasah berarti diriwayatkan oleh tiga  perawi yaitu : Semua nama yang tersebut diatas (As Sab&#8217;ah) selain Ahmad,  Bukhari, Muslim dan Ibnu Majah.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Asy Syaikhon berarti diriwayatkan oleh dua  orang perawi yaitu : Bukhari dan Muslim</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Al Jama&#8217;ah berarti diriwayatkan oleh para  perawi yang banyak sekali jumlahnya (lebih dari tujuh perawi / As  Sab&#8217;ah).</p>
</li>
</ol>
<p align="justify"><strong>Matnu&#8217;l  Hadits</strong> adalah pembicaraan  (kalam) atau materi berita yang berakhir pada sanad yang terakhir. Baik  pembicaraan itu sabda Rosulullah <em>Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam</em>, sahabat  ataupun tabi&#8217;in. Baik isi pembicaraan itu tentang perbuatan Nabi, maupun  perbuatan sahabat yang tidak disanggah oleh Nabi Muhammad <em>Shallallahu  &#8216;Alaihi Wa Sallam</em> .</p>
<p><strong>Sanad atau Thariq</strong> adalah jalan  yang dapat menghubungkan matnu&#8217;l hadits kepada Nabi Muhammad <em>Shallallahu  &#8216;Alaihi Wa Sallam</em><strong> </strong>.</p>
<p align="justify"><strong>Gambaran  Sanad</strong></p>
<p>Untuk memahami pengertian sanad, dapat digambarkan sebagai  berikut: Sabda Rosulullah <em>Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam</em> didengar oleh  sahabat (seorang atau lebih). Sahabat ini (seorang atau lebih) menyampaikan  kepada tabi&#8217;in (seorang atau lebih), kemudian tabi&#8217;in menyampaikan pula kepada  orang-orang dibawah generasi mereka. Demikian seterusnya hingga dicatat oleh  imam-imam ahli hadits seperti Muslim, Bukhari, Abu Dawud,  dll.</p>
<p>Contoh:<br />
Waktu meriwayatkan hadits Nabi <em>Shallallahu &#8216;Alaihi Wa  Sallam</em>, Bukhari berkata hadits ini diucapkan kepada saya oleh A, dan A  berkata diucapkan kepada saya oleh B, dan B berkata diucapkan kepada saya oleh  C, dan C berkata diucapkan kepada saya oleh D, dan D berkata diucapkan kepada  saya oleh Nabi Muhammad.</p>
<p><strong>Awal Sanad dan akhir  Sanad</strong></p>
<p>Menurut istilah ahli hadits, sanad itu ada permulaannya  (awal) dan ada kesudahannya (akhir). Seperti contoh diatas yang disebut awal  sanad adalah A dan akhir sanad adalah D.</p>
<p align="justify">
<p align="justify">Klasifikasi  Hadits</p>
<p align="justify">
<p align="justify">Klasifikasi hadits menurut  dapat (diterima) atau ditolaknya hadits sebagai hujjah (dasar hukum)  adalah:</p>
<ol>
<li>
<p align="justify">Hadits Shohih, adalah  hadits yang  diriwayatkan oleh rawi yang adil, sempurna ingatan, sanadnya  bersambung, tidak ber illat dan tidak janggal. Illat hadits yang dimaksud adalah  suatu penyakit yang samar-samar yang dapat menodai keshohihan suatu  hadits.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Hadits Makbul  adalah hadits-hadits yang mempunyai sifat-sifat yang dapat diterima sebagai  Hujjah. Yang termasuk hadits makbul adalah Hadits Shohih dan Hadits Hasan.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Hadits Hasan adalah  hadits yang diriwayatkan oleh Rawi yang adil, tapi tidak begitu kuat ingatannya  (hafalan), bersambung sanadnya, dan tidak terdapat illat serta kejanggalan pada  matannya. Hadits Hasan termasuk hadits yang Makbul, biasanya dibuat hujjah buat  sesuatu hal yang tidak terlalu berat atau terlalu penting.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Hadits Dhoif adalah  hadits yang kehilangan satu syarat atau lebih dari syarat-syarat hadits shohih  atau hadits hasan. Hadits Dhoif banyak macam ragamnya dan mempunyai perbedaan  derajat satu sama lain, disebabkan banyak atau sedikitnya syarat-syarat hadits  shohih atau hasan yang tidak dipenuhinya.</p>
</li>
</ol>
<p align="justify"><strong>Syarat-syarat Hadits  Shohih</strong></p>
<p>Suatu hadits dapat dinilai shohih  apabila telah memenuhi 5 Syarat :</p>
<ul>
<li>
<p align="justify">Rawinya bersifat Adil</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Sempurna ingatan</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Sanadnya tidak terputus</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Hadits itu tidak berillat dan</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Hadits itu tidak janggal</p>
</li>
</ul>
<p align="justify">Arti Adil dalam periwayatan, seorang rawi harus  memenuhi 4 syarat untuk dinilai adil, yaitu :</p>
<ul>
<li>
<p align="justify">Selalu memelihara perbuatan taat dan menjahui  perbuatan maksiat.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Menjauhi dosa-dosa kecil yang dapat menodai agama  dan sopan santun.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Tidak melakukan perkara-perkara Mubah yang dapat  menggugurkan iman kepada kadar dan mengakibatkan penyesalan.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Tidak mengikuti pendapat salah satu madzhab yang  bertentangan dengan dasar Syara&#8217;.</p>
</li>
</ul>
<p><strong>Klasifikasi Hadits Dhoif berdasarkan kecacatan perawinya</strong></p>
<ul>
<li>
<p align="justify">Hadits Maudhu&#8217;: adalah hadits yang diciptakan oleh seorang  pendusta yang ciptaan itu mereka katakan bahwa itu adalah sabda Nabi SAW, baik  hal itu disengaja maupun tidak.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Hadits Matruk: adalah hadits yang menyendiri dalam periwayatan,  yang diriwayatkan oleh orang yang dituduh dusta dalam perhaditsan.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Hadits Munkar: adalah hadits yang menyendiri dalam periwayatan,  yang diriwayatkan oleh orang yang banyak kesalahannya, banyak kelengahannya atau  jelas kefasiqkannya yang bukan karena dusta. Di dalam satu jurusan jika ada  hadits yang diriwayatkan oleh dua hadits lemah yang berlawanan, misal yang satu  lemah sanadnya, sedang yang satunya lagi lebih lemah sanadnya, maka yang lemah  sanadnya dinamakan hadits Ma&#8217;ruf dan yang lebih lemah dinamakan hadits Munkar.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Hadits Mu&#8217;allal (Ma&#8217;lul, Mu&#8217;all): adalah hadits yang tampaknya  baik, namun setelah diadakan suatu penelitian dan penyelidikan ternyata ada  cacatnya. Hal ini terjadi karena salah sangka dari rawinya dengan menganggap  bahwa sanadnya bersambung, padahal tidak. Hal ini hanya bisa diketahui oleh  orang-orang yang ahli hadits.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Hadits Mudraj (saduran): adalah hadits yang disadur dengan sesuatu  yang bukan hadits atas perkiraan bahwa saduran itu termasuk hadits.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Hadits Maqlub: adalah hadits yang terjadi mukhalafah (menyalahi  hadits lain), disebabkan mendahului atau mengakhirkan.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Hadits Mudltharrib: adalah hadits yang menyalahi dengan hadits  lain terjadi dengan pergantian pada satu segi yang saling dapat bertahan, dengan  tidak ada yang dapat ditarjihkan (dikumpulkan).</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Hadits Muharraf: adalah hadits yang menyalahi hadits lain terjadi  disebabkan karena perubahan Syakal kata, dengan masih tetapnya bentuk  tulisannya.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Hadits Mushahhaf: adalah hadits yang mukhalafahnya karena  perubahan titik kata, sedang bentuk tulisannya tidak berubah.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Hadits Mubham: adalah hadits yang didalam matan atau sanadnya  terdapat seorang rawi yang tidak dijelaskan apakah ia laki-laki atau perempuan.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Hadits Syadz (kejanggalan): adalah hadits yang diriwayatkan oleh  seorang yang makbul (tsiqah) menyalahi riwayat yang lebih rajih, lantaran  mempunyai kelebihan kedlabithan atau banyaknya sanad atau lain sebagainya, dari  segi pentarjihan.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Hadits Mukhtalith: adalah hadits yang rawinya buruk hafalannya,  disebabkan sudah lanjut usia, tertimpa bahaya, terbakar atau hilang  kitab-kitabnya.</p>
</li>
</ul>
<p><strong>Klasifikasi hadits Dhoif berdasarkan gugurnya rawi</strong></p>
<ul>
<li>
<p align="justify">Hadits Muallaq: adalah hadits yang gugur (inqitha&#8217;) rawinya  seorang atau lebih dari awal sanad.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Hadits Mursal: adalah hadits yang gugur dari akhir sanadnya,  seseorang setelah tabi&#8217;in.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Hadits Mudallas: adalah hadits yang diriwayatkan menurut cara yang  diperkirakan, bahwa hadits itu tiada bernoda. Rawi yang berbuat demikian disebut  Mudallis.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Hadits Munqathi&#8217;: adalah hadits yang gugur rawinya sebelum  sahabat, disatu tempat, atau gugur dua orang pada dua tempat dalam keadaan tidak  berturut-turut.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Hadits Mu&#8217;dlal: adalah hadits yang gugur rawi-rawinya, dua orang  atau lebih berturut turut, baik sahabat bersama tabi&#8217;in, tabi&#8217;in bersama tabi&#8217;it  tabi&#8217;in, maupun dua orang sebelum sahabat dan tabi&#8217;in.</p>
</li>
</ul>
<p><strong>Klasifikasi hadits Dhoif berdasarkan sifat matannya</strong></p>
<ul>
<li>
<p align="justify">Hadits Mauquf: adalah hadits yang hanya disandarkan kepada sahabat  saja, baik yang disandarkan itu perkataan atau perbuatan dan baik sanadnya  bersambung atau terputus.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Hadits Maqthu&#8217;: adalah perkataan atau perbuatan yang berasal dari  seorang tabi&#8217;in serta di mauqufkan padanya, baik sanadnya bersambung atau tidak.</p>
</li>
</ul>
<p align="justify">
<p align="justify"><strong>Apakah Boleh Berhujjah dengan hadits  Dhoif ?</strong></p>
<p align="justify">Para ulama sepakat melarang meriwayatkan hadits  dhoif yang maudhu&#8217; tanpa menyebutkan kemaudhu&#8217;annya. Adapun kalau hadits dhoif  itu bukan hadits maudhu&#8217; maka diperselisihkan tentang boleh atau tidaknya  diriwayatkan untuk berhujjah. Berikut ini pendapat yang ada yaitu:</p>
<p align="justify"><strong>Pendapat Pertama Melarang</strong> secara  mutlak meriwayatkan segala macam hadits dhoif, baik untuk menetapkan hukum,  maupun untuk memberi sugesti amalan utama. Pendapat ini dipertahankan oleh Abu  Bakar Ibnul &#8216;Araby.</p>
<p><strong>Pendapat Kedua</strong> <strong>Membolehkan,</strong> kendatipun dengan melepas sanadnya dan tanpa  menerangkan sebab-sebab kelemahannya, untuk memberi sugesti, menerangkan  keutamaan amal (fadla&#8217;ilul a&#8217;mal  dan cerita-cerita, bukan untuk menetapkan  hukum-hukum syariat, seperti halal dan haram, dan bukan untuk menetapkan  aqidah-aqidah).</p>
<p align="justify">Para imam seperti Ahmad bin hambal, Abdullah bin  al Mubarak berkata: &#8220;<em>Apabila kami meriwayatkan hadits tentang halal, haram  dan hukum-hukum, kami perkeras sanadnya dan kami kritik rawi-rawinya. Tetapi  bila kami meriwayatkan tentang keutamaan, pahala dan siksa kami permudah dan  kami perlunak rawi-rawinya</em>.&#8221;</p>
<p>Karena itu, Ibnu Hajar Al Asqalany  termasuk ahli hadits yang membolehkan berhujjah dengan hadits dhoif untuk  fadla&#8217;ilul amal. Ia memberikan 3 syarat dalam hal meriwayatkan hadits dhoif,  yaitu:</p>
<ol>
<li>
<p align="justify">Hadits dhoif itu tidak keterlaluan. Oleh karena  itu, untuk hadits-hadits dhoif yang disebabkan rawinya pendusta, tertuduh dusta,  dan banyak salah, tidak dapat dibuat hujjah kendatipun untuk fadla&#8217;ilul  amal.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Dasar amal yang ditunjuk oleh hadits dhoif  tersebut, masih dibawah satu dasar yang dibenarkan oleh hadits yang dapat  diamalkan (shahih dan hasan)</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Dalam mengamalkannya tidak mengitikadkan atau  menekankan bahwa hadits tersebut benar-benar bersumber kepada nabi, tetapi  tujuan mengamalkannya hanya semata mata untuk ikhtiyath (hati-hati)  belaka.</p>
</li>
</ol>
<p align="justify"><strong><br />
Klasifikasi hadits dari segi sedikit  atau banyaknya rawi :</strong></p>
<p><strong>[1] Hadits  Mutawatir:</strong> adalah suatu hadits hasil tanggapan dari panca indra, yang  diriwayatkan oleh sejumlah besar rawi, yang menurut adat kebiasaan mustahil  mereka berkumpul dan bersepakat dusta.</p>
<p><strong>Syarat syarat hadits  mutawatir</strong></p>
<ol>
<li>
<p align="justify">Pewartaan yang disampaikan oleh rawi-rawi  tersebut harus berdasarkan tanggapan panca indra. Yakni warta yang mereka  sampaikan itu harus benar benar hasil pendengaran atau penglihatan mereka  sendiri.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Jumlah rawi-rawinya harus mencapai satu ketentuan  yang tidak memungkinkan mereka bersepakat bohong/dusta.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Adanya keseimbangan jumlah antara rawi-rawi dalam  lapisan pertama dengan jumlah rawi-rawi pada lapisan berikutnya. Kalau suatu  hadits diriwayatkan oleh 5 sahabat maka harus pula diriwayatkan oleh 5 tabi&#8217;in  demikian seterusnya, bila tidak maka tidak bisa dinamakan hadits  mutawatir.</p>
</li>
</ol>
<p align="justify"><strong>[2] Hadits Ahad:</strong> adalah hadits yang tidak memenuhi syarat syarat hadits  mutawatir.</p>
<p><strong>Klasifikasi hadits Ahad</strong></p>
<ol>
<li>
<p align="justify">Hadits Masyhur: adalah hadits yang diriwayatkan  oleh 3 orang rawi atau lebih, serta belum mencapai derajat mutawatir.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Hadits Aziz: adalah hadits yang diriwayatkan oleh  2 orang rawi, walaupun 2 orang rawi tersebut pada satu thabaqah (lapisan) saja,  kemudian setelah itu orang-orang meriwayatkannya.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Hadits Gharib: adalah hadits yang dalam sanadnya  terdapat seorang yang menyendiri dalam meriwayatkan, dimana saja penyendirian  dalam sanad itu terjadi.</p>
</li>
</ol>
<p align="justify"><strong><br />
Hadits Qudsi atau Hadits Rabbani atau  Hadits Ilahi</strong><strong><br />
</strong><br />
Adalah sesuatu yang dikabarkan oleh Allah kepada nabiNya dengan  melalui ilham atau impian, yang kemudian nabi menyampaikan makna dari ilham atau  impian tersebut dengan ungkapan kata beliau sendiri.</p>
<p><strong>Perbedaan  Hadits Qudsi dengan hadits Nabawi</strong></p>
<p>Pada hadits qudsi biasanya  diberi ciri ciri dengan dibubuhi kalimat-kalimat :</p>
<ul>
<li>
<p align="justify">Qala ( yaqalu ) Allahu</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Fima yarwihi &#8216;anillahi Tabaraka wa Ta&#8217;ala</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Lafadz lafadz lain yang semakna dengan apa yang  tersebut diatas.</p>
</li>
</ul>
<p align="justify">Perbedaan Hadits Qudsi dengan Al-Qur&#8217;an:</p>
<ul>
<li>
<p align="justify">Semua lafadz-lafadz Al-Qur&#8217;an adalah mukjizat dan  mutawatir, sedang hadits qudsi tidak demikian.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Ketentuan hukum yang berlaku bagi Al-Qur&#8217;an,  tidak berlaku pada hadits qudsi. Seperti larangan menyentuh, membaca pada orang  yang berhadats, dll.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Setiap huruf yang dibaca dari Al-Qur&#8217;an  memberikan hak pahala kepada pembacanya.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Meriwayatkan Al-Qur&#8217;an tidak boleh dengan  maknanya saja atau mengganti lafadz sinonimnya, sedang hadits qudsi tidak  demikian.</p>
</li>
</ul>
<p align="justify"><strong><br />
Bid&#8217;ah</strong><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong>Yang dimaksud  dengan bid&#8217;ah ialah sesuatu bentuk ibadah yang dikategorikan dalam menyembah  Allah yang Allah sendiri tidak memerintahkannya, Rasulullah <em>Shallallahu  &#8216;Alaihi Wa Sallam</em> tidak menyontohkannya, serta para sahabat-sahabat  Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam</em> tidak  menyontohkannya.</p>
<p>Kewajiban sebagai seorang muslim adalah mengingatkan  amar ma&#8217;ruf nahi munkar kepada saudara-saudara seiman yang masih sering  mengamalkan amalan-amalan ataupun cara-cara bid&#8217;ah.</p>
<p>Alloh berfirman,  dalam QS Al-Maidah ayat 3, &#8220;<em>Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu  agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu  jadi agama bagimu</em>.&#8221; Jadi tidak ada satu halpun yang luput dari penyampaian  risalah oleh Nabi. Sehingga jika terdapat hal-hal baru yang berhubungan dengan  ibadah, maka itu adalah bid&#8217;ah.</p>
<p><em>&#8220;Kulu bid&#8217;ah dholalah&#8230;&#8221; </em>semua  bid&#8217;ah adalah sesat (dalam masalah ibadah). <em>&#8220;Wa dholalatin fin Naar&#8230;&#8221;</em> dan setiap kesesatan itu adanya dalam neraka.</p>
<p>Beberapa hal seperti  speaker, naik pesawat, naik mobil, pakai pasta gigi, tidak dapat dikategorikan  sebagai bid&#8217;ah. Semua hal ini tidak dapat dikategorikan sebagai bentuk ibadah  yang menyembah Allah. Ada tata cara dalam beribadah yang wajib dipenuhi,  misalnya dalam hal sembahyang ada ruku, sujud, pembacaan al-Fatihah, tahiyat,  dst. Ini semua adalah wajib dan siapa pun yang menciptakan cara baru dalam  sembahyang, maka itu adalah bid&#8217;ah. Ada tata cara dalam ibadah yang dapat kita  ambil hikmahnya. Seperti pada zaman Rasul <em>Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam </em>menggunakan siwak, maka sekarang menggunakan sikat gigi dan pasta gigi,  terkecuali beberapa muslim di Arab, India, dst.</p>
<p>Menemukan hal baru dalam  ilmu pengetahuan bukanlah bid&#8217;ah, bahkan dapat menjadi ladang amal bagi umat  muslim. Banyak muncul hadits-hadits yang bermuara (matannya) kepada hal bid&#8217;ah.  Dan ini sangat sulit sekali untuk diingatkan kepada para pengamal  bid&#8217;ah.</p>
<p align="justify"><strong><br />
Apakah yang menyebabkan timbulnya  Hadits-Hadits Palsu?</strong></p>
<p align="justify">Didalam Kitab Khulaashah Ilmil Hadits dijelaskan  bahwa kabar yang datang pada Hadits ada tiga macam:</p>
<ol>
<li>
<p align="justify">Yang wajib dibenarkan (diterima).</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Yang wajib ditolak (didustakan, tidak boleh  diterima) yaitu Hadits yang diadakan orang mengatasnamakan Rasululloh  <em>Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam</em>.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Yang wajib ditangguhkan (tidak boleh diamalkan)  dulu sampai jelas penelitian tentang kebenarannya, karena ada dua kemungkinan.  Boleh jadi itu adalah ucapan Nabi dan boleh jadi pula itu bukan ucapan Nabi  Muhammad <em>Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam </em>(dipalsukan atas nama Nabi  Muhammad <em>Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam</em>).</p>
</li>
</ol>
<p align="justify"><strong>Untuk mengetahui  apakah Hadits itu palsu atau tidak, ada beberapa cara,  diantaranya:</strong></p>
<ol>
<li>
<p align="justify"><strong>A</strong>tas  pengakuan orang yang memalsukannya. Misalnya Imam Bukhari pernah meriwayatkan  dalam Kitab Taarikhut Ausath dari &#8216;Umar bin Shub-bin bin &#8216;Imran At-Tamiimy  sesungguhnya dia pernah berkata, artinya: Aku pernah palsukan khutbah Rosululloh  <em>Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam</em>. Maisaroh bin Abdir Rabbik Al-Farisy  pernah mengakui bahwa dia sendiri telah memalsukan Hadits hadits yang  berhubung-an dengan Fadhilah Qur&#8217;an (Keutamaan Al-Qur&#8217;an) lebih dari 70 hadits,  yang sekarang banyak diamalkan oleh ahli-ahli Bid&#8217;ah. Menurut pengakuan Abu  &#8216;Ishmah Nuh bin Abi Maryam bahwa dia pernah memalsukan dari Ibnu Abbas beberapa  Hadits yang hubungannya dengan Fadhilah Qur&#8217;an satu Surah demi Surah. (Kitab  Al-Baa&#8217;itsul Hatsiits).</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Dengan memperhatikan dan  mempelajari tanda-tanda/qorinah yang lain yang dapat menunjukkan bahwa Hadits  itu adalah Palsu. Misalnya dengan melihat dan memperhatikan keadaan dan sifat  perawi yang meriwayatkan Hadits itu.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Terdapat ketidaksesuaian makna dari matan (isi  cerita) hadits tersebut dengan Al-Qur&#8217;an. Hadits tidak pernah bertentangan  dengan apa yang ada dalam ayat-ayat Qur&#8217;an.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Terdapat kekacauan atau terasa berat didalam  susunannya, baik lafadznya ataupun ditinjau dari susunan bahasa dan Nahwunya  (<em>grammarnya</em>).</p>
</li>
</ol>
<p align="justify"><strong><strong>Sebab-sebab terjadi atas timbulnya  Hadits-hadits Palsu</strong></strong></p>
<ul>
<li>
<p align="justify">Adanya kesengajaan dari pihak lain untuk merusak  ajaran Islam. Misalnya dari kaum Orientalis Barat yang sengaja mempelajari Islam  untuk tujuan menghancurkan Islam (seperti Snouck Hurgronje).</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Untuk menguatkan pendirian atau madzhab suatu  golongan tertentu. Umumnya dari golongan Syi&#8217;ah, golongan Tareqat, golongan  Sufi, para Ahli Bid&#8217;ah, orang-orang Zindiq, orang yang menamakan diri mereka  Zuhud, golongan Karaamiyah, para Ahli Cerita, dan lain-lain. Semua yang tersebut  ini membolehkan untuk meriwayatkan atau mengadakan Hadits-hadits Palsu yang ada  hubungannya dengan semua amalan-amalan yang mereka kerjakan. Yang disebut  &#8216;Targhiib&#8217; atau sebagai suatu ancaman yang yang terkenal dengan nama  &#8216;At-Tarhiib&#8217;.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Untuk mendekatkan diri kepada Sultan, Raja,  Penguasa, Presiden, dan lain-lainnya dengan tujuan mencari kedudukan.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Untuk mencari penghidupan dunia (menjadi mata  pencaharian dengan menjual hadits-hadits Palsu).</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Untuk menarik perhatian orang sebagaimana yang  telah dilakukan oleh para ahli dongeng dan tukang cerita, juru khutbah, dan  lain-lainnya.</p>
</li>
</ul>
<p align="justify"><strong><br />
Hukum meriwayatkan Hadits-hadits  Palsu</strong></p>
<ul>
<li>
<p align="justify">Secara Muthlaq, meriwayatkan hadits-hadits palsu  itu hukumnya haram bagi mereka yang sudah jelas mengetahui bahwa hadits itu  palsu.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Bagi mereka yang meriwayatkan dengan tujuan  memberi tahu kepada orang bahwa hadits ini adalah palsu (menerangkan kepada  mereka sesudah meriwayatkan atau mebacakannya) maka tidak ada dosa  atasnya.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Mereka yang tidak tahu sama sekali kemudian  meriwayatkannya atau mereka mengamalkan makna hadits tersebut karena tidak tahu,  maka tidak ada dosa atasnya. Akan tetapi sesudah mendapatkan penjelasan bahwa  riwayat atau hadits yang dia ceritakan atau amalkan itu adalah hadits palsu,  maka hendaklah segera dia tinggalkannya, kalau tetap dia amalkan sedang dari  jalan atau sanad lain tidak ada sama sekali, maka hukumnya tidak boleh (berdosa  &#8211; dari Kitab Minhatul Mughiits).</p>
</li>
</ul>
<p align="justify">(Sumber Rujukan: Kitab Hadits Dhaif dan Maudhlu &#8211;  Muhammad Nashruddin Al-Albany;  Kitab Hadits Maudhlu &#8211;  Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah;  Kitab Mengenal Hadits Maudhlu &#8211; Muhammad bin Ali Asy-Syaukaaniy; Kitab  Kalimat-kalimat Thoyiib &#8211; Ibnu Taimiyah (tahqiq oleh Muhammad Nashruddin  Al-Albany);  Kitab Mushtholahul Hadits &#8211;  A. Hassan)</p>
<p>Sumber:  <a href="http://mediaislam.fisikateknik.org/">http://mediaislam.fisikateknik.org</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kumpulanhadist.arisyi-design.web.id/pendahuluan/mengenal-ilmu-hadits/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sanad dan Matan</title>
		<link>http://kumpulanhadist.arisyi-design.web.id/pendahuluan/sanad-dan-matan/</link>
		<comments>http://kumpulanhadist.arisyi-design.web.id/pendahuluan/sanad-dan-matan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Sep 2009 07:24:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>azimah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendahuluan]]></category>
		<category><![CDATA[Sanad dan Matan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kumpulanhadist.arisyi-design.web.id/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[Sanad atau isnad secara bahasa artinya sandaran, maksudnya adalah jalan yang bersambung sampai kepada matan, rawi-rawi yang meriwayatkan matan hadits dan menyampaikannya. Sanad dimulai dari rawi yang awal (sebelum pencatat hadits) dan berakhir pada orang sebelum Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yakni Sahabat. Misalnya al-Bukhari meriwayatkan satu hadits, maka al-Bukhari dikatakan mukharrij atau mudawwin (yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Sanad atau isnad secara bahasa artinya sandaran,  maksudnya adalah jalan yang bersambung sampai kepada matan, rawi-rawi yang  meriwayatkan matan hadits dan menyampaikannya. Sanad dimulai dari rawi yang awal  (sebelum pencatat hadits) dan berakhir pada orang sebelum Rasulullah Shallallahu  ‘alaihi wa sallam yakni Sahabat. Misalnya al-Bukhari meriwayatkan satu hadits,  maka al-Bukhari dikatakan mukharrij atau mudawwin (yang mengeluarkan hadits atau  yang mencatat hadits), rawi yang sebelum al-Bukhari dikatakan awal sanad  sedangkan Shahabat yang meriwayatkan hadits itu dikatakan akhir  sanad.</p>
<p>Matan secara bahasa artinya kuat, kokoh, keras, maksudnya adalah  isi, ucapan atau lafazh-lafazh hadits yang terletak sesudah rawi dari sanad yang  akhir.</p>
<p>Para ulama hadits tidak mau menerima hadits yang datang kepada  mereka melainkan jika mempunyai sanad, mereka melakukan demikian sejak  tersebarnya dusta atas nama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dipelopori  oleh orang-orang Syi’ah.</p>
<p>Seorang Tabi’in yang bernama Muhammad bin Sirin  (wafat tahun 110 H) rahimahullah berkata, “Mereka (yakni para ulama hadits)  tadinya tidak menanyakan tentang sanad, tetapi tatkala terjadi fitnah, mereka  berkata, ‘Sebutkan kepada kami nama rawi-rawimu, bila dilihat yang  menyampaikannya Ahlus Sunnah, maka haditsnya diterima, tetapi bila yang  menyampaikannya ahlul bid’ah, maka haditsnya ditolak.’”<sup>[<a href="#[1]&#8220;>1</a>]</sup></p>
<p>Kemudian, semenjak itu para ulama meneliti setiap sanad yang  sampai kepada mereka dan bila syarat-syarat hadits shahih dan hasan terpenuhi,  maka mereka menerima hadits tersebut sebagai hujjah, dan bila syarat-syarat  tersebut tidak terpenuhi, maka mereka menolaknya.</p>
<p>Abdullah bin al-Mubarak  (wafat th. 181 H) rahimahullah berkata: “Sanad itu termasuk dari agama, kalau  seandainya tidak ada sanad, maka orang akan berkata sekehendaknya apa yang ia  inginkan&#8221;<sup>[<a href="#[2]&#8220;>2</a>]</sup></p>
<p><span id="more-16"></span></p>
<p>Para ulama hadits telah  menetapkan kaidah-kaidah dan pokok-pokok pembahasan bagi tiap-tiap sanad dan  matan, apakah hadits tersebut dapat diterima atau tidak. Ilmu yang membahas  tentang masalah ini ialah ilmu Mushthalah Hadits.</p>
<p><strong>PEMBAGIAN  AS-SUNNAH MENURUT SAMPAINYA KEPADA KITA<br />
</strong><br />
As-Sunnah yang datang dari  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita dilihat dari segi sampainya  dibagi menjadi dua, yaitu mutawatir dan ahad. Hadits mutawatir ialah berita dari  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disampaikan secara bersamaan oleh  orang-orang kepercayaan dengan cara yang mustahil mereka bisa bersepakat untuk  berdusta.</p>
<p>Hadits mutawatir mempunyai empat syarat yaitu:</p>
<p>[1].  Rawi-rawinya tsiqat dan mengerti terhadap apa yang dikabarkan dan  (menyampaikannya) dengan kalimat pasti.<br />
[2]. Sandaran penyampaian kepada  sesuatu yang konkret, seperti penyaksian atau mendengar langsung,  seperti:</p>
<p>&#8220;sami&#8217;tu&#8221; = aku mendengar<br />
&#8220;sami&#8217;na&#8221; = kami  mendengar<br />
&#8220;roaitu&#8221; = aku melihat<br />
&#8220;roainaa&#8221; = kami melihat</p>
<p>[3].  Bilangan (jumlah) mereka banyak, mustahil menurut adat mereka berdusta.<br />
[4].  Bilangan yang banyak ini tetap demikian dari mulai awal sanad, pertengahan  sampai akhir sanad, rawi yang meriwayatkannya minimal 10 orang.<sup>[<a href="#[3]&#8220;>3</a>]</sup></p>
<p>Hadits ahad ialah hadits yang derajatnya tidak sampai ke  derajat mutawatir. Hadits-hadits ahad terbagi menjadi tiga macam.</p>
<p>[a].  Hadits masyhur, yaitu hadits yang diriwayatkan dengan 3 sanad.<br />
[b]. Hadits  ‘aziz, yaitu hadits yang diriwayatkan dengan 2 sanad.<br />
[c]. Hadits gharib,  yaitu hadits yang diriwayatkan dengan 1 sanad.<sup>[<a href="#[4]&#8220;>4</a>]</sup></p>
<p align="justify">[Disalin dari buku Kedudukan As-Sunnah Dalam  Syariat Islam, Bab I : As-Sunnah Dan Definisinya, Penulis Yazid Abdul Qadir  Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, PO.Box 264 Bogor 16001, Jawa Barat Indonesia,  Cetakan Kedua Jumadil Akhir 1426H/Juli 2005]</p>
<hr /><!-- A:hover {color: #808080} --></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><strong>Catatan  Kaki:</strong></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><span style="font-size: x-small;"><a name="[1]" href="#1">[1] </a>Muqaddimah Shahih Muslim.</span></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><span style="font-size: x-small;"><a name="[2]" href="#2">[2]</a> Syarah Shahih Muslim, an-Nawawi (1/87).</span></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><span style="font-size: x-small;"><a name="[3]" href="#3">[3]</a> </span><span lang="EN-GB"><span style="font-size: x-small;">Taisir  Musthalaahil Hadiits, Dr. Mahmud Thah-han (hal. 19-20).</span></span></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify">
<p style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" align="justify"><span style="font-size: x-small;"><a name="[4]" href="#4">[4]</a> </span><span lang="EN-GB"><span style="font-size: x-small;">Lihat rinciannya  dalam kitab Taisir Musthalaahil Hadiits, Dr. Mahmud Thah-han (hal.  22-31).</span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kumpulanhadist.arisyi-design.web.id/pendahuluan/sanad-dan-matan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengertian Hadits</title>
		<link>http://kumpulanhadist.arisyi-design.web.id/pendahuluan/pengertian-hadits/</link>
		<comments>http://kumpulanhadist.arisyi-design.web.id/pendahuluan/pengertian-hadits/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Sep 2009 07:18:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>azimah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendahuluan]]></category>
		<category><![CDATA[Pengertian Hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kumpulanhadist.arisyi-design.web.id/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Hadits adalah segala perkataan (sabda), perbuatan dan ketetapan dan persetujuan dari Nabi Muhammad SAW yang dijadikan ketetapan ataupun hukum dalam agama Islam. Hadits dijadikan sumber hukum dalam agama Islam selain Al-Qur&#8217;an, Ijma dan Qiyas, dimana dalam hal ini, kedudukan hadits merupakan sumber hukum kedua setelah Al-Qur&#8217;an. Ada banyak ulama periwayat hadits, namun yang sering dijadikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><strong>Hadits</strong> adalah segala perkataan  (sabda), perbuatan dan ketetapan dan persetujuan dari Nabi Muhammad SAW yang  dijadikan ketetapan ataupun hukum dalam agama Islam. Hadits dijadikan sumber hukum dalam agama Islam selain Al-Qur&#8217;an,  Ijma dan Qiyas, dimana dalam hal ini, kedudukan hadits merupakan sumber hukum  kedua setelah Al-Qur&#8217;an.</p>
<p align="justify">Ada banyak ulama periwayat hadits, namun yang sering dijadikan  referensi hadits-haditsnya ada tujuh ulama, yakni Imam Bukhari, Imam Muslim,  Imam Abu Daud, Imam Turmudzi, Imam Ahmad, Imam Nasa&#8217;i, dan Imam Ibnu Majah.</p>
<p align="justify">Ada bermacam-macam hadits, seperti yang  diuraikan di bawah ini.</p>
<p><span id="more-11"></span></p>
<ul>
<li>
<p align="justify">Hadits yang dilihat dari banyak sedikitnya perawi</p>
<ul>
<li>
<p align="justify">Hadits Mutawatir</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Hadits Ahad</p>
<ul>
<li>
<p align="justify">Hadits Shahih</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Hadits Hasan</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Hadits Dha&#8217;if</p>
</li>
</ul>
</li>
</ul>
</li>
<li>
<p align="justify">Menurut Macam Periwayatannya</p>
<ul>
<li>
<p align="justify">Hadits yang bersambung sanadnya (hadits Marfu&#8217; atau  Maushul)</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Hadits yang terputus sanadnya</p>
<ul>
<li>
<p align="justify">Hadits Mu&#8217;allaq</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Hadits Mursal</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Hadits Mudallas</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Hadits Munqathi</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Hadits Mu&#8217;dhol</p>
</li>
</ul>
</li>
</ul>
</li>
<li>
<p align="justify">Hadits-hadits dha&#8217;if disebabkan oleh cacat perawi</p>
<ul>
<li>
<p align="justify">Hadits Maudhu&#8217;</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Hadits Matruk</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Hadits Mungkar</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Hadits Mu&#8217;allal</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Hadits Mudhthorib</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Hadits Maqlub</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Hadits Munqalib</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Hadits Mudraj</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Hadits Syadz</p>
</li>
</ul>
</li>
<li>
<p align="justify">Beberapa pengertian dalam ilmu hadits</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Beberapa kitab hadits yang masyhur / populer</p>
</li>
</ul>
<hr size="1" />
<h2>I. Hadits yang dilihat dari banyak sedikitnya Perawi</h2>
<h3>I.A. Hadits Mutawatir</h3>
<p align="justify">Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh  sekelompok orang dari beberapa sanad yang tidak mungkin sepakat untuk  berdusta. Berita itu mengenai hal-hal yang dapat  dicapai oleh panca indera. Dan berita itu diterima dari  sejumlah orang yang semacam itu juga. Berdasarkan itu, maka ada beberapa  syarat yang harus dipenuhi agar suatu hadits bisa dikatakan sebagai hadits  Mutawatir:</p>
<ol>
<li>
<p align="justify">Isi hadits itu  harus hal-hal yang dapat dicapai oleh panca indera.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Orang yang  menceritakannya harus sejumlah orang yang menurut ada kebiasaan, tidak mungkin  berdusta. Sifatnya Qath&#8217;iy.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Pemberita-pemberita  itu terdapat pada semua generasi yang sama.</p>
</li>
</ol>
<h3>I.B. Hadits Ahad</h3>
<p align="justify">Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang  atau lebih tetapi tidak mencapai tingkat mutawatir. Sifatnya atau tingkatannya adalah &#8220;zhonniy&#8221;. Sebelumnya para ulama membagi hadits Ahad menjadi dua macam, yakni  hadits Shahih dan hadits Dha&#8217;if. Namun Imam At Turmudzy kemudian membagi  hadits Ahad ini menjadi tiga macam, yaitu:</p>
<h4>I.B.1. Hadits Shahih</h4>
<p align="justify">Menurut Ibnu Sholah, hadits  shahih ialah hadits yang bersambung sanadnya. Ia diriwayatkan oleh orang yang adil lagi dhobit (kuat  ingatannya) hingga akhirnya tidak syadz (tidak bertentangan dengan hadits lain  yang lebih shahih) dan tidak mu&#8217;allal (tidak cacat). Jadi hadits Shahih itu  memenuhi beberapa syarat sebagai berikut :</p>
<ol>
<li>
<p align="justify">Kandungan isinya tidak bertentangan dengan Al-Qur&#8217;an.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Harus bersambung  sanadnya</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Diriwayatkan oleh  orang / perawi yang adil.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Diriwayatkan oleh  orang yang dhobit (kuat ingatannya)</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Tidak syadz (tidak  bertentangan dengan hadits lain yang lebih shahih)</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Tidak cacat  walaupun tersembunyi.</p>
</li>
</ol>
<h4>I.B.2. Hadits Hasan</h4>
<p align="justify">Ialah hadits yang banyak sumbernya atau  jalannya dan dikalangan perawinya tidak ada yang disangka dusta dan tidak  syadz.</p>
<h4>I.B.3. Hadits Dha&#8217;if</h4>
<p align="justify">Ialah hadits yang tidak bersambung sanadnya  dan diriwayatkan oleh orang yang tidak adil dan tidak dhobit, syadz dan  cacat.</p>
<h2>II. Menurut Macam Periwayatannya</h2>
<h3>II.A. Hadits yang bersambung sanadnya</h3>
<p align="justify">Hadits ini adalah hadits yang bersambung  sanadnya hingga Nabi Muhammad SAW. Hadits ini disebut  hadits Marfu&#8217; atau Maushul.</p>
<h3>II.B. Hadits yang terputus sanadnya</h3>
<h4>II.B.1. Hadits Mu&#8217;allaq</h4>
<p align="justify">Hadits ini disebut juga hadits yang  tergantung, yaitu hadits yang permulaan sanadnya dibuang oleh seorang atau lebih  hingga akhir sanadnya, yang berarti termasuk hadits dha&#8217;if.</p>
<h4>II.B.2. Hadits Mursal</h4>
<p align="justify">Disebut juga hadits yang dikirim yaitu hadits yang diriwayatkan  oleh para tabi&#8217;in dari Nabi Muhammad SAW tanpa menyebutkan sahabat tempat  menerima hadits itu.</p>
<h4>II.B.3. Hadits Mudallas</h4>
<p align="justify">Disebut juga hadits yang disembunyikan  cacatnya. Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh sanad  yang memberikan kesan seolah-olah tidak ada cacatnya, padahal sebenarnya ada,  baik dalam sanad ataupun pada gurunya. Jadi hadits Mudallas ini ialah  hadits yang ditutup-tutupi kelemahan sanadnya.</p>
<h4>II.B.4. Hadits Munqathi</h4>
<p align="justify">Disebut juga hadits yang terputus yaitu  hadits yang gugur atau hilang seorang atau dua orang perawi selain sahabat dan  tabi&#8217;in.</p>
<h4>II.B.5. Hadits Mu&#8217;dhol</h4>
<p align="justify">Disebut juga hadits yang terputus sanadnya  yaitu hadits yang diriwayatkan oleh para tabi&#8217;it dan tabi&#8217;in dari Nabi Muhammad  SAW atau dari Sahabat tanpa menyebutkan tabi&#8217;in yang menjadi sanadnya.  Kesemuanya itu dinilai dari ciri hadits Shahih tersebut di atas adalah termasuk  hadits-hadits dha&#8217;if.</p>
<h2>III. Hadits-hadits dha&#8217;if disebabkan oleh cacat perawi</h2>
<h3>III.A. Hadits Maudhu&#8217;</h3>
<p align="justify">Yang berarti yang dilarang, yaitu hadits  dalam sanadnya terdapat perawi yang berdusta atau dituduh dusta. Jadi hadits itu adalah hasil karangannya sendiri bahkan tidak  pantas disebut hadits.</p>
<h3>III.B. Hadits Matruk</h3>
<p align="justify">Yang berarti hadits yang ditinggalkan,  yaitu hadits yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawi saja sedangkan perawi  itu dituduh berdusta.</p>
<h3>III.C. Hadits Mungkar</h3>
<p align="justify">Yaitu hadits yang hanya diriwayatkan oleh  seorang perawi yang lemah yang bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh  perawi yang terpercaya / jujur.</p>
<h3>III.D. Hadits Mu&#8217;allal</h3>
<p align="justify">Artinya hadits yang dinilai sakit atau cacat  yaitu hadits yang didalamnya terdapat cacat yang tersembunyi. Menurut Ibnu Hajar Al Atsqalani bahwa hadis Mu&#8217;allal ialah hadits  yang nampaknya baik tetapi setelah diselidiki ternyata ada cacatnya.  Hadits ini biasa disebut juga dengan hadits Ma&#8217;lul (yang dicacati) atau disebut  juga hadits Mu&#8217;tal (hadits sakit atau cacat).</p>
<h3>III.E. Hadits Mudhthorib</h3>
<p align="justify">Artinya hadits yang kacau yaitu hadits yang diriwayatkan oleh  seorang perawi dari beberapa sanad dengan matan (isi) kacau atau tidak sama dan  kontradiksi dengan yang dikompromikan.</p>
<h3>III.F. Hadits Maqlub</h3>
<p align="justify">Artinya hadits yang terbalik yaitu hadits yang diriwayatkan  oleh perawi yang dalamnya tertukar dengan mendahulukan yang belakang atau  sebaliknya baik berupa sanad (silsilah) maupun matan (isi).</p>
<h3>III.G. Hadits Munqalib</h3>
<p align="justify">Yaitu hadits yang terbalik sebagian lafalnya hingga  pengertiannya berubah.</p>
<h3>III.H. Hadits Mudraj</h3>
<p align="justify">Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi yang  didalamnya terdapat tambahan yang bukan hadits, baik keterangan tambahan dari  perawi sendiri atau lainnya.</p>
<h3>III.I. Hadits Syadz</h3>
<p align="justify">Hadits yang jarang yaitu hadits yang diriwayatkan oleh perawi  yang tsiqah (terpercaya) yang bertentangan dengan hadits lain yang diriwayatkan dari perawi-perawi (periwayat /  pembawa) yang terpercaya pula. Demikian menurut sebagian ulama  Hijaz sehingga hadits syadz jarang dihapal ulama hadits. Sedang yang banyak dihapal ulama hadits disebut juga hadits  Mahfudz.</p>
<h2>IV. Beberapa pengertian (istilah) dalam ilmu hadits</h2>
<h3>IV.A. Muttafaq &#8216;Alaih</h3>
<p align="justify">Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam  Muslim dari sumber sahabat yang sama, atau dikenal juga  dengan <strong>Hadits Bukhari &#8211; Muslim</strong>.</p>
<h3>IV.B. As Sab&#8217;ah</h3>
<p align="justify">As Sab&#8217;ah berarti tujuh perawi, yaitu:</p>
<ol>
<li>
<p align="justify">Imam Ahmad</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Imam Bukhari</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Imam Muslim</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Imam Abu Daud</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Imam Tirmidzi</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Imam Nasa&#8217;i</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Imam Ibnu Majah</p>
</li>
</ol>
<h3>IV.C. As Sittah</h3>
<p align="justify">Yaitu enam perawi yang tersebut pada As Sab&#8217;ah, kecuali Imam  Ahmad bin Hanbal.</p>
<h3>IV.D. Al Khamsah</h3>
<p align="justify">Yaitu lima perawi yang tersebut pada As Sab&#8217;ah, kecuali Imam  Bukhari dan Imam Muslim.</p>
<h3>IV.E. Al Arba&#8217;ah</h3>
<p align="justify">Yaitu empat perawi yang tersebut pada As Sab&#8217;ah, kecuali Imam  Ahmad, Imam Bukhari dan Imam Muslim.</p>
<h3>IV.F. Ats tsalatsah</h3>
<p align="justify">Yaitu tiga perawi yang tersebut pada As Sab&#8217;ah, kecuali Imam  Ahmad, Imam Bukhari, Imam Muslim dan Ibnu Majah.</p>
<h3>IV.G. Perawi</h3>
<p align="justify">Yaitu orang yang meriwayatkan hadits.</p>
<h3>IV.H. Sanad</h3>
<p align="justify">Sanad berarti sandaran yaitu jalan matan dari Nabi Muhammad SAW  sampai kepada orang yang mengeluarkan (mukhrij) hadits itu atau mudawwin (orang  yang menghimpun atau membukukan) hadits. Sanad biasa disebut juga dengan Isnad  berarti penyandaran. Pada dasarnya orang atau ulama yang menjadi sanad hadits  itu adalah perawi juga.</p>
<h3>IV.I. Matan</h3>
<p align="justify">Matan ialah isi hadits baik berupa sabda Nabi Muhammad SAW,  maupun berupa perbuatan Nabi Muhammad SAW yang diceritakan oleh sahabat atau  berupa taqrirnya.</p>
<h2>V. Beberapa kitab hadits yang masyhur / populer</h2>
<ol>
<li>
<p align="justify">Shahih Bukhari</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Shahih Muslim</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Riyadhus Shalihin</p>
</li>
</ol>
<p>Sumber: <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hadits">http://id.wikipedia.org/wiki/hadits</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kumpulanhadist.arisyi-design.web.id/pendahuluan/pengertian-hadits/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>dari Muadz bin Jabal dari Ibn Abbas:</title>
		<link>http://kumpulanhadist.arisyi-design.web.id/pendahuluan/dari-muadz-bin-jabal-dari-ibn-abbas/</link>
		<comments>http://kumpulanhadist.arisyi-design.web.id/pendahuluan/dari-muadz-bin-jabal-dari-ibn-abbas/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Sep 2009 22:14:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendahuluan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kumpulanhadist.arisyi-design.web.id/?p=1</guid>
		<description><![CDATA[dari Muadz bin Jabal dari Ibn Abbas: Ketika kami sedang bersama Rasulullah SAW di kediaman seorang sahabat Anshar, tiba &#8211; tiba terdengar panggilan seseorang dari luar rumah: &#8220;Wahai penghuni rumah, bolehkah aku masuk? sebab kalian akan membutuhkanku. &#8221; Rasulullah bersabda:&#8221;Tahukah kalian siapa yang memanggil?&#8221; Kami menjawab: &#8220;Allah dan rasulNya yang lebih tahu.&#8221; Beliau melanjutkan, &#8220;itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>dari Muadz bin Jabal dari Ibn Abbas:</p>
<p>Ketika kami sedang bersama Rasulullah SAW di kediaman seorang sahabat Anshar, tiba &#8211; tiba terdengar panggilan seseorang dari luar rumah: &#8220;Wahai penghuni rumah, bolehkah aku masuk? sebab kalian akan membutuhkanku. &#8221;<br />
Rasulullah bersabda:&#8221;Tahukah kalian siapa yang memanggil?&#8221;</p>
<p>Kami menjawab: &#8220;Allah dan rasulNya yang lebih tahu.&#8221;</p>
<p>Beliau melanjutkan, &#8220;itu iblis, laknat Allah bersamanya.&#8221;</p>
<p>Umar bin Khattab berkata: &#8220;izinkan aku membunuhnya wahai Rasulullah&#8221;</p>
<p>Nabi menahannya:&#8221;Sabar wahai Umar, bukankah kamu tahu bahwa Allah memberinya kesempatan hingga hari kiamat? Lebih baik bukakan pintu untuknya, sebab dia telah diperintahkan untuk ini, pahamilah apa yang hendak ia katakan dan dengarkan dengan baik.&#8221;</p>
<p>Ibnu Abbas RA berkata: pintu lalu dibuka, ternyata dia seperti seorang kakek yang cacat satu matanya. di janggutnya terdapa 7 helai rambut seperti rambut kuda, taringnya terlihat seperti taring babi, bibirnya seperti bibir sapi.</p>
<p><span id="more-1"></span></p>
<p>Iblis berkata: &#8220;Salam untukmu Muhammad,&#8230; . salam untukmu para hadirin&#8230;&#8221;</p>
<p>Rasulullah SAW lalu menjawab: &#8220;Salam hanya milik Allah SWT, sebagai mahluk terlaknat, apa keperluanmu?&#8221;</p>
<p>Iblis menjawab: &#8220;Wahai Muhammad, aku datang ke sini bukan atas kemauanku, namun karena terpaksa.&#8221;</p>
<p>&#8220;Siapa yang memaksamu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Seorang malaikat utusan Allah mendatangiku dan berkata:<br />
&#8220;Allah SWT memerintahkanmu untuk mendatangi Muhammad sambil menundukkan diri.beritahu Muhammad tentang caramu dalam menggoda manusia. jawabalah dengan jujur semua pertanyaannya. Demi kebesaran Allah, andai kau berdusta satu kali saja, maka Allah akan jadikan dirimu debu yang ditiup angin.&#8221;<br />
oleh karena itu aku sekarang mendatangimu. Tanyalah apa yang hendak kau tanyakan. jika aku berdusta, aku akan dicaci oleh setiap musuhku. tidak ada sesuatu pun yang paling besar menimpaku daripada cacian musuh.&#8221;</p>
<p>Orang Yang Dibenci Iblis</p>
<p>Rasulullah SAW lalu bertanya kepada Iblis: &#8220;Kalau kau benar jujur, siapakah manusia yang paling kau benci?&#8221;</p>
<p>Iblis segera menjawab: &#8221; Kamu, kamu dan orang sepertimu adalah mahkluk Allah yang paling aku benci.&#8221;</p>
<p>&#8220;Siapa selanjutnya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Pemuda yang bertakwa yang memberikan dirinya mengabdi kepada Allah SWT.&#8221;</p>
<p>&#8220;lalu siapa lagi?&#8221;</p>
<p>&#8220;Orang Aliim dan wara&#8217; (Loyal)&#8221;</p>
<p>&#8220;Lalu siapa lagi?&#8221;</p>
<p>&#8220;Orang yang selalu bersuci.&#8221;</p>
<p>&#8220;Siapa lagi?&#8221;</p>
<p>&#8220;Seorang fakir yang sabar dan tak pernah mengeluhkan kesulitannnya kepada orang lain.&#8221;</p>
<p>&#8220;apa tanda kesabarannya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Wahai Muhammad, jika ia tidak mengeluhkan kesulitannya kepada orang lain selama 3 hari, Allah akan memberi pahala orang &#8211; orang yang sabar.&#8221;</p>
<p>&#8220;Selanjutnya apa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Orang kaya yang bersyukur.&#8221;</p>
<p>&#8220;apa tanda kesyukurannya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ia mengambil kekayaannya dari tempatnya, dan mengeluarkannya juga dari tempatnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Orang seperti apa Abu Bakar menurutmu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ia tidak pernah menurutiku di masa jahiliyah, apalagi dalam Islam.&#8221;</p>
<p>&#8220;Umar bin Khattab?&#8221;</p>
<p>&#8220;Demi Allah setiap berjumpa dengannya aku pasti kabur.&#8221;</p>
<p>&#8220;Usman bin Affan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku malu kepada orang yang malaikat pun malu kepadanya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ali bin Abi Thalib?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku berharap darinya agar kepalaku selamat, dan berharap ia melepaskanku dan aku melepaskannya. tetapi ia tak akan mau melakukan itu.&#8221; (Ali bin Abi Thalib selau berdzikir terhadap Allah SWT)</p>
<p>Amalan Yang Dapat Menyakiti Iblis</p>
<p>&#8220;Apa yang kau rasakan jika melihat seseorang dari umatku yang hendak shalat?&#8221;</p>
<p>&#8220;aku merasa panas dingin dan gemetar.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kenapa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sebab, setiap seorang hamba bersujud 1x kepada Allah, Allah mengangkatnya 1 derajat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika seorang umatku berpuasa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tubuhku terasa terikat hingga ia berbuka.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika ia berhaji?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku seperti orang gila.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika ia membaca al-Quran?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku merasa meleleh laksana timah diatas api.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika ia bersedekah?&#8221;</p>
<p>&#8220;Itu sama saja orang tersebut membelah tubuhku dengan gergaji.&#8221;</p>
<p>&#8220;mengapa bisa begitu?&#8221;</p>
<p>&#8220;sebab dalam sedekah ada 4 keuntungan baginya. yaitu keberkahan dalam hartanya, hidupnya disukai, sedekah itu kelak akan menjadi hijab antara dirinya dengan api neraka dan segala macam musibah akan terhalau dari dirinya.&#8221;</p>
<p>&#8220;apa yang dapat mematahkan pinggangmu?&#8221;</p>
<p>&#8220;suara kuda perang di jalan Allah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa yang dapat melelehkan tubuhmu?&#8221;</p>
<p>&#8220;taubat orang yang bertaubat.&#8221;</p>
<p>&#8220;apa yang dapat membakar hatimu?&#8221;</p>
<p>&#8220;istighfar di waktu siang dan malam.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa yang dapat mencoreng wajahmu?&#8221;</p>
<p>&#8220;sedekah yang diam &#8211; diam.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa yang dapat menusuk matamu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Shalat fajar.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa yang dapat memukul kepalamu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Shalat berjamaah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa yang paling mengganggumu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Majelis para ulama.&#8221;</p>
<p>&#8220;bagaimana cara makanmu?&#8221;</p>
<p>&#8220;dengan tangan kiri dan jariku.&#8221;</p>
<p>&#8220;dimanakah kau menaungi anak &#8211; anakmu di musim panas?&#8221;</p>
<p>&#8220;di bawah kuku manusia.&#8221;</p>
<p>Manusia Yang Menjadi Teman Iblis</p>
<p>Nabi lalu bertanya : &#8220;Siapa temanmu wahai Iblis?&#8221;</p>
<p>&#8220;Pemakan riba.&#8221;</p>
<p>&#8220;Siapa sahabatmu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Pezina.&#8221;</p>
<p>&#8220;Siapa teman tidurmu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Pemabuk.&#8221;</p>
<p>&#8220;Siapa tamumu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Pencuri.&#8221;</p>
<p>&#8220;Siapa utusanmu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tukang sihir.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa yang membuatmu gembira?&#8221;</p>
<p>&#8220;Bersumpah dengan cerai.&#8221;</p>
<p>&#8220;Siapa kekasihmu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Orang yang meninggalkan shalat jumaat&#8221;</p>
<p>&#8220;Siapa manusia yang paling membahagiakanmu?&#8221;</p>
<p>&#8220;orang yang meninggalkan shalatnya dengan sengaja.&#8221;</p>
<p>Iblis Tidak Berdaya Di hadapan Orang Yang Ikhlas</p>
<p>Rasulullah SAW lalu bersabda : &#8220;Segala puji bagi Allah yang telah membahagiakan umatku dan menyengsarakanmu.&#8221;</p>
<p>Iblis segera menimpali:&#8221; tidak, tidak&#8230; tak akan ada kebahagiaan selama aku hidup hingga hari akhir.<br />
Bagaimana kau bisa berbahagia dengan umatmu, sementara aku bisa masuk ke dalam aliran darah mereka dan mereka tak bisa melihatku.<br />
Demi yang menciptakan diriku dan memberikan ku kesempatan hingga hari akhir, aku akan menyesatkan mereka semua.<br />
Baik yang bodoh, atau yang pintar, yang bisa membaca dan tidak bisa membaca, yang durjana dan yang shaleh, kecuali hamba Allah yang ikhlas.&#8221;</p>
<p>&#8220;Siapa orang yang ikhlas menurutmu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidakkah kau tahu wahai Muhammad, bahwa barang siapa yang menyukai emas dan perak, ia bukan orang yang ikhlas. Jika kau lihat seseorang yang tidak menyukai dinar dan dirham, tidak suka pujian dan sanjungan, aku bisa pastikan bahwa ia orang yang ikhlas, maka aku meninggalkannya. Selama seorang hamba masih menyukai harta dan sanjungan dan hatinya selalu terikat dengan kesenangan dunia, ia sangat patuh padaku.&#8221;</p>
<p>Iblis Dibantu oleh 70.000 anak &#8211; anaknya</p>
<p>Tahukah kamu Muhammad, bahwa aku mempunyai 70.000 anak. Dan setiap anak memiliki 70.000 syaithan.</p>
<p>Sebagian ada yang aku tugaskan untuk mengganggu ulama. Sebagian untuk menggangu anak &#8211; anak muda, sebagian untuk menganggu orang &#8211; orang tua, sebagian untuk menggangu wanta &#8211; wanita tua, sebagian anak -anakku juga aku tugaskan kepada para Zahid.</p>
<p>Aku punya anak ynag suka mengencingi telinga manusia sehingga ia tidur pada shalat berjamaah. tanpanya, manusia tidak akan mengantuk pada waktu shalat berjamaah.</p>
<p>aku punya anak yang suka menaburkan sesuatu di mata orang yang sedang mendengarkan ceramah ulama hingga mereka tertidur dan pahalanya terhapus.</p>
<p>Aku punya anak yang senang berada di lidah manusia, jika seseorang melakukan kebajikan lalu ia beberkan kepada manusia, maka 99% pahalanya akan terhapus.</p>
<p>Pada setiap seorang wanita yang berjalan, anakku dan syaithan duduk di pinggul dan pahanya, lalu menghiasinya agar setiap orang memandanginya.</p>
<p>Syaithan juga berkata,&#8221;keluarkan tanganmu&#8221;, lalu ia mengeluarkan tangannya lalu syaithan pun menghiasi kukunya.</p>
<p>mereka, anak &#8211; anakku selalu meyusup dan berubah dari satu kondisi ke kondisi lainnya, dari satu pintu ke pintu yang lainnya untuk menggoda manusia hingga mereka terhempas dari keikhlasan mereka.</p>
<p>Akhirnya mereka menyembah Allah tanpa ikhlas, namun mereka tidak merasa.</p>
<p>Tahukah kamu, Muhammad? bahwa ada rahib yang telah beribadat kepada Allah selama 70 tahun. Setiap orang sakit yang didoakan olehnya, sembuh seketika. Aku terus menggodanya hingga ia berzina, membunuh dan kufur.</p>
<p>Cara Iblis Menggoda</p>
<p>Tahukah kau Muhammad, dusta berasal dari diriku?</p>
<p>Akulah mahluk pertama yang berdusta.</p>
<p>Pendusta adalah sahabatku. barangsiapa bersumpah dengan berdusta, ia kekasihku.</p>
<p>Tahukah kau Muhammad?</p>
<p>Aku bersumpah kepada Adam dan Hawa dengan nama Allah bahwa aku benar &#8211; benar menasihatinya.</p>
<p>Sumpah dusta adalah kegemaranku.</p>
<p>Ghibah(gosip) dan Namimah(Adu domba) kesenanganku.</p>
<p>Kesaksian palsu kegembiraanku.</p>
<p>Orang yang bersumpah untuk menceraikan istrinya ia berada di pinggir dosa walau hanya sekali dan walaupun ia benar. sebab barang siapa membiasakan dengan kata &#8211; kata cerai, isterinya menjadi haram baginya. Kemudian ia akan beranak cucu hingga hari kiamat. jadi semua anak &#8211; anak zina dan ia masuk neraka hanya karena satu kalimat, CERAI.</p>
<p>Wahai Muhammad, umatmu ada yang suka mengulur ulur shalat. Setiap ia hendak berdiri untuk shalat, aku bisikan padanya waktu masih lama, kamu masih sibuk, lalu ia manundanya hingga ia melaksanakan shalat di luar waktu, maka shalat itu dipukulkannya kemukanya.</p>
<p>Jika ia berhasil mengalahkanku, aku biarkan ia shalat. Namun aku bisikkan ke telinganya &#8216;lihat kiri dan kananmu&#8217;, iapun menoleh. pada saat iatu aku usap dengan tanganku dan kucium keningnya serta aku katakan &#8216;shalatmu tidak sah&#8217;</p>
<p>Bukankah kamu tahu Muhammad, orang yang banyak menoleh dalam shalatnya akan dipukul.</p>
<p>Jika ia shalat sendirian, aku suruh dia untuk bergegas. ia pun shalat seperti ayam yang mematuk beras.</p>
<p>jika ia berhasil mengalahkanku dan ia shalat berjamaah, aku ikat lehernya dengan tali, hingga ia mengangkat kepalanya sebelum imam, atau meletakkannya sebelum imam.</p>
<p>Kamu tahu bahwa melakukan itu batal shalatnya dan wajahnya akan dirubah menjadi wajah keledai.</p>
<p>Jika ia berhasil mengalahkanku, aku tiup hidungnya hingga ia menguap dalam shalat. Jika ia tidak menutup mulutnya ketika mnguap, syaithan akan masuk ke dalam dirinya, dan membuatnya menjadi bertambah serakah dan gila dunia.</p>
<p>Dan iapun semakin taat padaku.</p>
<p>Kebahagiaan apa untukmu, sedanga aku memerintahkan orang miskin agar meninggalkan shalat. aku katakan padaknya, &#8216;kamu tidak wajib shalat, shalat hanya wajib untuk orang yang berkecukupan dan sehat. orang sakit dan miskin tidak, jika kehidupanmu telah berubah baru kau shalat.&#8217;</p>
<p>Ia pun mati dalam kekafiran. Jika ia mati sambil meninggalkan shalat maka Allah akan menemuinya dalam kemurkaan.</p>
<p>Wahai Muhammad, jika aku berdusta Allah akan menjadikanku debu.</p>
<p>Wahai Muhammad, apakah kau akan bergembira dengan umatmu padahal aku mengeluarkan seperenam mereka dari islam?&#8221;</p>
<p>10 Permintaan Iblis kepada Allah SWT</p>
<p>&#8220;berapa yang kau pinta dari Tuhanmu?&#8221;</p>
<p>&#8220;10 macam&#8221;</p>
<p>&#8220;apa saja?&#8221;</p>
<p>&#8220;aku minta agar Allah membiarkanku berbagi dalam harta dan anak manusia, Allah mengizinkan. Allah berfirman, &#8220;berbagilah dengan manusia dalam harta dan anak. dan janjikanlah mereka, tidaklah janji setan kecuali tipuan.&#8221; (QS Al-Isra :64)</p>
<p>Harta yang tidak dizakatkan, aku makan darinya. aku juga makan dari makanan haram dan yang bercampur dengan riba, aku juga makan dari makanan yang tidak dibacakan nama Allah.</p>
<p>Aku minta agar Allah membiarkanku ikut bersama dengan orang yang berhubungan dengan istrinya tanpa berlindung dengan Allah, maka setan ikut bersamanya dan anak yang dilahirkan akan sangat patuh kepada syaithan.</p>
<p>aku minta agar bisa ikut bersama dengan orang yang menaiki kendaraan bukan untuk tujuan yang halal.</p>
<p>aku minta agar Allah menjadikan kamar mandi sebagai rumahku.</p>
<p>aku minta agar Allah menjadikan pasar sebagai masjidku.</p>
<p>Aku minta agar Allah menjadikan syair sebagai Quranku.</p>
<p>Aku minta agar Allah menjadikan pemabuk sebagai teman tidurku.</p>
<p>Aku minta agar Allah memberikanku saudara , maka Ia jadikan orang yang membelanjakan hartanya untuk maksiat sebagai saudaraku.</p>
<p>Allah berfirman, &#8220;Orang &#8211; orang bros adalah saudara &#8211; saudara syaithan. &#8221; (QS Al-Isra : 27)</p>
<p>Wahai Muhammad, aku minta agar Allah membuatku bisa melihat manusia sementara mereka tidak bisa melihatku.</p>
<p>dan aku minta agar Allah memberiku kemampuan untuk mengalir dalam aliran darah manusia.</p>
<p>Allah menjawab, &#8220;silahkan&#8221;, aku bangga dengan hal itu hingga hari kiamat. sebagian besar manusia bersamaku di hari kiamat.</p>
<p>Iblis berkata : &#8220;wahai muhammad, aku tak bisa menyesatkan orang sedikitpun, aku hanya bisa membisikan dan menggoda.&#8221;</p>
<p>jika aku bisa menyesatkan, tak akan tersisa seorangpun.</p>
<p>sebagaimana dirimu, kamu tidak bisa memberi hidayah sedikitpun, engkau hanya rasul yang menyampaikan amanah.</p>
<p>jika kau bisa memberi hidayah, tak akan ada seorang kafir pun di muka bumi ini.</p>
<p>kau hanya bisa menjadi penyebab untuk orang yang telah ditentukan sengsara.</p>
<p>Orang yang bahagia adalah orang yang telah ditulis bahagia sejak di perut ibunya. dan orang yang sengsara adalah orang yang telah ditulis sengsara semenjak dalam kandungan ibunya.</p>
<p>Rasulullah SAW lalu membaca ayat :&#8221;mereka akan terus berselisih kecuali orang yang dirahmati oleh Allah SWT&#8221; (QS Hud :118 &#8211; 119)<br />
juga membaca, &#8220;Sesungguhnya ketentuan Allah pasti berlaku&#8221; (QS Al-Ahzab : 38)</p>
<p>Iblis lalu berkata: &#8220;wahai Rasul Allah takdir telah ditentukan dan pena takdir telah kering. Maha Suci Allah yang menjadikanmu pemimpin para nabi dan rasul, pemimpin pendudk surga, dan yang telah menjadikan aku pemimpin mahluk &#8211; mahluk celaka dan pemimpin penduduk neraka. aku si celaka yang terusir, ini akhir yang ingin aku sampaikan kepadamu. dan aku tak berbohong.&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kumpulanhadist.arisyi-design.web.id/pendahuluan/dari-muadz-bin-jabal-dari-ibn-abbas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

